Insight

You Need to Have an Entrepreneurship Mindset (Even If You Are Not One)

Hari gini, mulai banyak yang beranggapan kalau definisi sukses itu ketika udah bisa nulis “Entrepreneur” di bio Instagram. Lebih-lebih, kalau si penyandang status adalah seseorang yang masih muda dan rupawan. Fenomena tersebut bikin banyak anak muda terinspirasi untuk berkecimpung di dunia entrepreneurship. Sebentar, emang apa sih sebenarnya yang dimaksud dari kata entrepreneur?

Saat ini, entrepreneur lebih umum dipersepsikan sebagai seseorang yang mempunyai billion dollar ideas dan menjadikannya lahan bisnis yang mengubah dunia. Gak sepenuhnya salah, tapi sebenarnya definisi entrepreneur melebihi hal itu loh. Kalo katanya Arash Asli, (CEO Yocale.com), gak selamanya kata entrepreneur itu sebatas istilah yang melabeli sebuah karir, tapi juga dapat mendefinisikan pola pikir. Dan menariknya… You don’t have to be an entrepreneur to have an entrepreneur mindset!

Iya, lo gak salah baca kok. Bahkan walaupun lo seorang pelajar, pegawai, atau ibu rumah tangga sekalipun, lo bisa punya pola pikir seorang entrepreneur! Oke, oke, terus, emang pola pikir seperti apa yang sedang kita bahas disini?

Baca juga: Kenapa sih, Ribut-ribut Nyuruh Jadi Entrepreneur?

Gak cuma aktif cari revenue, tapi juga value

Ini adalah pola pikir paling inti bagi seorang entrepreneur. Kesampingkan dulu pikiran untuk cari cuan sebanyak-banyaknya, seorang entrepreneur sejati sesungguhnya sedang dalam perjalanan untuk mencari nilai yang dapat menjadi solusi untuk customer. Gak berhenti sampai di situ aja, tapi juga terus membenahi karyanya untuk bisa menjadi lebih baik dan bisa menyelesaikan sebanyak-banyaknya masalah yang ada di lingkungan sekitar kita.

Berani mengambil risiko dan menyukai tantangan

Di dunia yang semakin modern dan banyak persaingan ini, tantangan beresiko akan semakin banyak dijumpai bila kita emang mau jadi yang terbaik. Gak jarang, kita gak punya pilihan lain selain ambil risiko dan take a leap of faith demi bisa berkembang. Risiko yang gue maksud juga gak melulu masalah keuangan atau materi. Banyak hal kecil yang bagi sebagian orang, sudah dapat dikategorikan sebagai risiko. 

Misalnya aja nih, temen gue, Amel, adalah orang yang introvert dan sangat pemalu, apalagi kalau harus ketemu dengan orang baru. Risiko yang ada di otaknya kalo dia harus bersosialisasi adalah melakukan hal bodoh dan mempermalukan diri sendiri. Tapi gak mungkin dong kalau seluruh perjalanan karir dia diwarnai dengan terus-terusan menghindari suasana sosial? Bisa-bisa karirnya jalan di tempat!

Nah, mulai dari situ Amel pelan-pelan mencoba ambil risiko untuk membuka diri biar bisa blend in dengan orang lain. Hasilnya? Amel jadi berani mengeluarkan pendapat dan bertukar pikiran dengan banyak orang. 

Baca juga: Belajar Entrepreneurial Mindset dari Tokoh Tiga Serangkai Kebangkitan Nasional

Jago melihat kesempatan 

Jadi kepikiran, gak, kenapa seorang entrepreneur harus berani ambil risiko? Apakah karena slogan you only live once atau lebih akrab disingkat YOLO banyak bertebaran? Atau karena kita harus bisa hidup seperti Larry? Gue gak menyalahkan kedua hal tersebut, tapi sebenarnya, jawabannya adalah: kesempatan. Ketika ada sebuah permasalahan yang beresiko, seorang entrepreneur akan berhenti sejenak dan menilai kesempatan yang berselimut di balik bahaya tersebut. Lebih baik lagi kalau bisa dijadikan lahan bisnis, heheheh.

Bingung maksudnya apa? Oke, deh, gue kasih contoh lagi. Gue punya temen lagi, namanya Mahdi yang pernah menjadi pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Setiap tahun, UKM yang Mahdi ikuti ini punya keharusan untuk membuat t-shirt dengan jumlah ratusan. Setiap tahun pula mereka sudah setia dengan satu vendor yang sama. Sayangnya… kualitas dan harga dari vendor itu kurang memuaskan. Akhirnya, Mahdi jadi punya pikiran untuk membuat usaha sablon kaos dengan kualitas baik dan harga yang lebih terjangkau.

Mahdi meresikokan banyak materi dan waktunya dengan besar kemungkinan untuk gagal. Namun, ternyata jasa yang ia tawarkan relevan dan diterima dengan baik oleh UKM si Mahdi.

Baca juga: Entrepreneur vs Intrapreneur: Apa Ya Bedanya?

Selalu terpacu buat bergerak

Simply said, entrepreneurs don’t stop on thinking and planning. Entrepreneurs do! 

“Hmmm tapi kak, ‘kan kalau mau melakukan sesuatu harus direncanakan dengan matang!” Iya, gue juga setuju. Tapi nggak berarti lo bisa kepanjangan mikir, karena sebenarnya, pikiran tuh gak ada habisnya.  Makanya, kita harus set goals dan milestone supaya bisa terpacu untuk mengejar target.

Jadi, even if you work for someone else, you don’t have to feel small as you can have the mindset of a successful entrepreneur. Gue paham kalau gak semua orang seberuntung itu dan punya privilege untuk bisa mengambil resiko dan menjalani hidup yang bisa dibilang dinamis alias banyak perubahan dan belum tentu stabil. But at the very least, kita bisa mengembangkan pola pikir seorang entrepreneur, dan menjadi sukses dengan jalan kita masing-masing. Cheerio