Opinion

Doing What You Love Doesn’t Always Mean Doing What You Like

You must fall in love with the process of becoming great.

Ada suatu miskonsepsi di antara anak muda zaman sekarang kalau “doing what you love” adalah suatu gambaran hidup dan karir yang ideal.

Ya, kita semua punya mimpi, kayak mau jadi novelis, aktor, komikus, vokalis band, atau bahkan jadi miliuner. Pasti semua pernah daydreaming ngebayangin gimana rasanya mencapai cita-cita itu: “Pasti bahagia banget deh gue. Tiap hari cuma perlu doing what I love. Dibayar lagi.”

Faktanya, sedikit sekali orang yang akhirnya benar-benar make a living dari sesuatu yang dicintainya. Kenapa, sih? Alasannya adalah karena kebanyakan orang cuma in love with the result, tapi gak fall in love with the process; atau bisa juga dengan kata lain cinta sama the big idea, tapi gak mau melakukan hal-hal kecil yang membentuk sesuatu yang besar itu.

Baca juga: Pilih Kapal Pesiar, Perahu Sekoci, Atau Speedboat?

Say, lo mau jadi aktor atau aktris. The big idea atau hasil yang lo harapkan adalah lo jadi aktor papan atas, main di film-film blockbuster, punya uang berlimpah, bisa jalanin gaya hidup ala seleb.

Masalahnya, semua itu gak terjadi secara instan. Sesuatu yang “besar” itu, yaitu menjadi aktor, terbentuk dari hal-hal kecil kayak menjaga bentuk tubuh ideal, ikut casting sana-sini, latihan akting tiap hari, caper-caper sama produser, sampai cari sensasi di jejaring sosial.

Baca juga: Working at Startup: Are You In for the Money Or Values?

Ya, banyak orang yang mau jadi aktor. Tapi gak semua mau repot-repot healthy eating dan nge-gym biar terlihat presentable, dan gak semua orang mau capek-capek mendalami peran kayak Heath Ledger waktu jadi Joker, atau nurunin berat badan 17 kg kayak Matthew Mcconaughey demi peran pecandu narkoba, atau latihan silat kayak Nicholas Saputra di Pendekar Tongkat Emas.

Semua orang juga pengen jadi kaya raya, tapi mereka lupa kalau miliuner-miliuner yang mulai dari nol di dunia kebanyakan cuma tidur 4-5 jam sehari, rentan kehilangan kehidupan sosial yang berarti dengan keluarga dan teman-teman, dan juga gampang stress.

Foto: zenius.net

Will you love the process? (termasuk stres-nya)

Semua maunya instan. Di kantor-kantor aja, katanya generasi kita, Millennials, terkenal malas karena mau cepat-cepat naik jabatan alias gak menghargai proses. Padahal, yang namanya jadi manajer, direktur, apalagi CEO, harus tahu gimana ngerjain perintilan-perintilan kayak nyari-nyari data, riset ke lapangan, menghadapi komplain konsumen, dan lain-lain.

Baca juga: Perusahaan Multinasional: Curi Ilmunya, Bukan Namanya

Banyak orang cuma ingin melakukan apa yang mereka mau, alias doing what I love. Padahal, namanya kerja untuk mencapai sesuatu yang lo inginkan itu gak boleh pilih-pilih. Tiap jalan pasti ada enak dan gak enaknya, ada susah dan gampangnya, ada naik dan turunnya.

Jadi, next time lo berpikir lo mau mencapai sesuatu yang lo cinta, inginkan, dan idam-idamkan, tanya ke diri lo sendiri:

Will I also love the process?

Am I also willing to do things I don’t like?

Baca juga: Strategi Korporat yang Mesti Dicuri: Cara Pertamina Dorong Inovasi

Header image credit: wallpaperup.cpm