Story

Di Tangan Dea Valencia, Batik Indonesia Tembus Pasar Dunia

#Ziliun30 adalah rangkaian 30 profil tech entrepreneur yang berusia di bawah 30 tahun, yang berpikir dan bermimpi besar, melihat masalah sebagai peluang, menjunjung tinggi kolaborasi, memahami kegagalan sebagai bagian dari proses, serta membuat terobosan strategi marketing dalam bisnis. #Ziliun30 merupakan kerjasama Ziliun.com dengan the-marketeers.com selama September 2014.

Jadi fresh graduate nggak melulu cuma bisa jadi anak magang atau pengangguran. Ada lho, seorang fresh graduate yang punya pendapatan ratusan juta rupiah dari bisnis yang digelutinya. Sebutlah Dea Valencia Budiarto, perempuan muda yang terbilang sukses menggeluti bisnis fashion segera setelah ia meninggalkan bangku kuliah.

Dea Valencia Budiarto sudah mengenyam bangku kuliah di usia masih belia, 15 tahun saja. Ketika lulus kuliah di usia 18 tahun, dia memutuskan untuk kembali ke Semarang dan fokus untuk membuka usaha. Labelnya yang bernama Batik Kultur dirintis karena sejak awal Dea memang suka batik. Menurut Dea, ini merupakan salah satu cara baginya untuk menghargai budaya Indonesia.

Lewat Batik Kultur, Dea mendorong generasi muda untuk mengenal dan mengapresiasi batik serta kain tradisional Indonesia lainnya sebagai peninggalan budaya bangsa. Dengan mengenakan kain-kain tradisional asli Indonesia, Dea berharap masyarakat Indonesia sendiri menyadari pentingnya pelestarian kain-kain tradisional tersebut dan merasa bangga mengenakannya.

Baca juga: Sukses Itu Dimulai Dari Gagal

image: batikkultur.com

Desain Batik Kultur terbilang unik, modern, anak muda banget. Kalo melihat pencapaian yang diraih sekarang, sulit dipercaya kalau Batik Kultur dipegang sama sosok perempuan muda 20 tahun, sarjana komputer pula.

Batik Kultur bermula dari keinginan Dea memiliki baju batik cantik seperti yang ia mau. Meskipun Dea nggak bisa beli baju batik yang dia pengen, ia nggak lantas hilang akal. Berbekal kreativitas, Dea pun menggeledah batik lawas punya orang tuanya, digunting-gunting terus dijahit dengan model yang dia pengen. Katanya sih sayang kalau dibuang, apalagi kalo sampai rusak gara-gara cuma disimpan di dalem lemari. Kalo bisa digunting-gunting dan dipadukan dengan bahan lain terus jadi bagus kenapa enggak? Dari situlah kemudian batik lawas berubah jadi modern, yang kemudian diminati banyak orang.

Baca juga: Berguru pada Pemilik Dagadu

Sebagai jebolan Program Studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Serpong, Dea paham bener gimana besarnya kekuatan internet sebagai media pemasaran produk. Oleh karena itu, 95% pemasaran dan penjualan Batik Kultur memanfaatkan online! Mulai dari Facebook dan Instagram yang dijadikan tempat men-display katalog sampai menjadi media komunikasi dengan pelanggannya. Nggak tanggung-tanggung memanfaatkan dunia online, belakangan ini Dea pun jga sudah meluncurkan website dengan alamat batikkultur.com.

Karakteristik desain Batik Kultur yang unik dan orisinal ini kemudian juga menarik lebih dari 3000 customer yang tersebar di Indonesia, juga negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Hongkong, Belanda, Singapura, dan Norwegia. Melalui online marketing pula, brand Batik Kultur menyebar dari mulut ke mulut. Selain keunikan desain, Dea juga memperhatikan strategi pasar untuk menentukan harga sesuai dengan konsumen yang ia tuju.

Baca juga: Pentingnya After-Sales Service Buat Bisnis

Ditambah lagi, Dea bilang kalau dia nggak akan jualan batik yang dia sendiri enggak suka, katanya sih demi menjamin kepuasan konsumen. Jadi, sebelum Dea melempar produk ke pasar, Dea akan bikin dulu prototipe untuk dipake sendiri. Kalau ngerasa nggak bagus buat ia pakai sendiri, ya enggak akan dijual.

Serunya, semua desain produk dibikin oleh Dea, meskipun ia sendiri nggak bisa gambar. Lah, terus? Rahasianya, Dea mengajak satu orang untuk jadi partner yang bisa mentransfer imajinasi desain dari otak Dea ke bentuk gambar.

Perempuan kelahiran 14 Februari 1994 ini kini menjadi young technopreneurship di kalangan teman-teman seusianya. Di usia yang terbilang sangat muda, Dea bisa meraih omzet ratusan juta dalam satu bulan.

Pencapaian Dea nggak diraih dalam kedipan mata. Dea mulai semuanya dari nol. Dari karyawannya cuman beberapa terus nambah tiap bulan sampai sekarang ada 40 orang. Semua berkat ketekunan dalam menggeluti usahanya.

Baca juga: IKEA: The Design Company

Dari hobi jadi ladang berbagi. Lingkungan sekitar nggak pernah luput dari perhatian Dea. Di Batik Kultur, ada beberapa karyawannya yang mengalami cacat fisik atau penyandang difabel. Dea punya tujuan untuk mendukung mereka agar bisa hidup lebih mandiri, bisa punya karya, dan bermanfaat buat banyak orang. Menurut Dea, setiap orang layak mendapat kesempatan yang sama, termasuk mereka.

“Saya juga mempekerjakan karyawan yang misal nggak ada kaki tapi tangannya masih bisa kerja. Penjahitnya ada enam yang tuna rungu dan tuna wicara. Pertimbangannya? Giving back to society. Saya ingin memberikan mereka kesempatan untuk memberikan kontribusinya di balik perbedaan mereka. Dan ternyata banyak pelajaran yang bisa diambil seperti ketekunan dan semangat untuk belajar,” kata Dea.

“If you never try you’ll never learn. There is no elevator to success, you have to take the stairs.” Berangkat dari situlah Dea memberanikan diri untuk lebih banyak belajar dan mencoba hal-hal baru. Semangatnya adalah ketekunan dan pantang menyerah, karena Dea pun menyadari kalo pencapaiannya saat ini bukan sesuatu yang didapatkan secara instan dan mudah.

Header image credit: 500px/Putri Emelisa