Opinion

Dari Barter ke Uang: Why Working for Money Won’t Make Us Happy

Alkisah, zaman dahulu kala gak ada yang namanya uang. Manusia memenuhi kebutuhan satu sama lain dengan suatu sistem yang namanya barter. Simpelnya, kalau Arthur punya pakaian dan butuh beras sementara Lancelot punya beras dan butuh pakaian, mereka bisa sepakat untuk saling bertukar barang yang mereka punya. Arthur dapat beras, dan Lancelot dapat pakaian. Done, everyone is happy.

Sistem barter ini menunjukkan kalau pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, yang memberi dan menerima untuk memuaskan dirinya sekaligus membantu orang lain.

Lama-kelamaan, sistem barter dirasa gak adil, karena sulit untuk mengukur if certain item is worth the price. Butuh berapa pakaian buat dapat 1 kg beras? Gak ada yang tahu kan? Akhirnya dibikinlah yang namanya uang, alat pembayaran yang mempermudah pengukuran itu.

Baca juga: Uang Benar-Benar Beli Kebahagiaan, Asal…

Tapi sebenernya, di balik alasan mempermudah pengukuran, uang sebenernya adalah simbol dari kemalasan. Let’s say, ada orang males nih, yang gak punya kopi, dan mau minum kopi, tapi gak mau ngasih barang kepunyaannya buat dituker sama kopi. Akhirnya, dia pun menulis sebuah janji, promise di selembar kertas, untuk diberikan kepada temennya yang punya kopi, kalau suatu saat kopi yang diberikannya bakal diganti dengan barang yang setara nilainya.

Well, again, money represents a promise, seperti yang kita tulis di sini, kalau uang menjanjikan banyak hal dari kenyamanan sampai kesempatan. Tapi penggantian sistem barter dengan uang lama-kelamaan bikin manusia lupa sama kecenderungan alaminya: membantu satu sama lain.

Orang-orang jadi egois, only do things for the sake of money, bukan buat ngebantu orang lain. Persepsi bawaan sistem barter yang awalnya “Saya punya apa yang bisa bantu dia sekaligus ngebantu diri saya sendiri?” bergeser menjadi “Saya mesti dapet janji (baca: uang) itu, gimanapun caranya”.

Baca juga: Kenapa Rupiah Melemah?

Image credit: geckoandfly.com
Image credit: geckoandfly.com

Itulah kenapa orang-orang yang melakukan pekerjaan cuma demi uang gak akan pernah benar-benar bahagia dan fulfilled. Karena mereka udah menyalahi sifat alami, nature-nya manusia: makhluk sosial yang harus hidup untuk bermanfaat bagi orang lain. Nothing good will come out of blindly chasing money, except the empty promise itself.

Well, kalian boleh-boleh aja gak setuju sama tulisan ini. But, as humans can not deny their physiological needs of food, water, air, clothing, and shelter, they also can’t deny their psychological needs of helping each other

Jadi, masih mau kerja cuma demi uang?

Header image credit: popsugar.com