Insight

Co-living: Seni Berkolaborasi 24 Jam

As you navigate through the rest of your life, be open to collaboration. Other people and other people’s ideas are often better than your own. – Amy Poehler

Di artikel sebelumnya, Ziliun pernah ngebahas tentang tempat kerja bersama tanpa kubikel. Yap, apa lagi kalau bukan coworking space. Di masa depan, konektivitas orang-orang makin tanpa batas. Makin banyak orang butuh tempat sebagai ajang kolaborasi mereka.

Sekarang ini mungkin kebutuhan coworking space sudah terpenuhi untuk para kawula freelance di beberapa kota besar. Tapi ternyata, digital nomad di seluruh dunia masih menginginkan sesuatu yang lebih, yang bisa bikin mereka lebih efektif dan kolaboratif dalam berkarya.

Seperti yang kita tahu biasanya kan orang-orang di coworking space itu adalah pekerja digital. Pada tahu kan, kalo pekerja digital itu waktu kerjanya (biasanya) 24 jam, sedangkan coworking space ini punya jam kerja tertentu.

Baca juga: Kantor Tanpa Kubikel

Dari situlah mulai banyak bermunculan suatu bentuk baru dari coworking yang bernama: co-living.

Apa itu co-living?

Menurut shareable.net, co-living is a shared housing designed to support a purpose-driven life. Jadi, co-living merupakan gaya hidup baru yang mengedepankan nilai kolaborasi. Co-living ini juga bisa disebut intentional living, intentional communitycohousing atau modern nomad. Sekilas mirip seperti kontrakan bersama, tapi co-living cuman menawarkan short-tem host, di mana para coworker cuman bisa tinggal beberapa bulan dan bergantian dengan yang lain. Sistemnya juga cepet-cepetan, karena ga semua orang bisa ditampung di co-living.

Baca juga: Fenomena Pasar Santa: Tempat Hipster atau Ruang Kreatif?

Image credit: thecaravanserai.co

Saat ini, udah ada beberapa jaringan co-living yang berkembang di seluruh dunia. Misalnya, nomadhouse.io yang mulai dengan Project Bali. Ada juga Caravanserai, co-living yang tergolong baru yang dibuat oleh seorang developer muda, Bruno Haid. Haid ngeluarin konsep co-living ini dengan mewujudkan Caravanserai di 3 negara berbeda, yaitu Mexico, Portugal dan Indonesia. Tujuan co-living ini adalah untuk menciptakan lingkungan yang menginspirasi dan mendorong kolaborasi para kreator.

Di Caravanserai ada banyak fasilitas bersama yang bisa dipakai. Kaya coworking space, restoran, home theater, Wi-Fi, perpustakaan, area fitness, dan lain-lain yang tentunya bisa ngehemat living cost dibandingkan tinggal sendiri. Arsitekturnya juga homey banget.

Kalau co-living bisa benar-benar jadi fenomena dunia, batas-batas individu akan jadi semakin tipis. Pasti ada yang excited dan ada juga yang freaking out. Menurut lo sendiri, gimana?

Baca juga: Craving for More Coworking Space!

Header image credit: lifeofpix.com