Opinion

Cari Partner dengan Skill Berbeda, Tapi Punya Visi yang Sama

Kalau belajar dari “teori evolusi”-nya Charles Darwin sih, cuma mereka yang mau berkolaborasi dan bisa berimprovisasi dengan efektif-lah yang akan menang dan bertahan. Tanpa kolaborasi, manusia bakal gugur karena seleksi alam. Ini berlaku nggak cuman dalam konteks evolusi, tapi juga dalam berkarya dan membuat berbagai hal.

Itu juga yang dibilang sama tiga sosok yang sudah lama berkecimpung di industri sarat kolaborasi ini: Yansen Kamto dengan Kibar, Oon Arfiandwi dengan perusahaan pengembang aplikasi 7Langit, dan Mayumi Haryoto yang tengah membangun Indonesian illustrator network, Fabula. Semuanya tentang kolaborasi dan menemukan partner.

Dan iya, kalau dulunya ketiga orang ini nggak belajar kolaborasi dan menemukan partner beda skill sama visi, Kibar, 7Langit, atau Fabula nggak akan berevolusi sampai jadi kayak sekarang.

Contoh kolaborasi dengan partner yang punya skill beda tapi visi sama bisa lo lihat dari kisah 7langit.

Salah satu founder-nya, Oon Arfiandwi, punya latar belakang teknis dari institut paling terkemuka di Bandung. Ketika membangun 7langit dari awal, ia berpartner dengan Titi Rusdi, yang memiliki latar belakang finance accounting dengan network bisnis yang luas. Keduanya sekarang sudah memasuki lima tahun membesarkan 7langit bareng, karena sama-sama punya visi menjadikan aplikasi mobile lokal jadi tuan di rumah sendiri.

“Latar belakangku orang teknik, dan aku hanya bisa develop apps. Ketika aku sudah membuktikan sendiri kalau aku bisa bikin apps, terus ngapain? Aku tidak bisa monetize, nggak mengerti cara jualan,” begitu paparnya, menjelaskan kenapa ia butuh partner dengan skill yang ia nggak punya.

Itu cuma satu dari sekian banyak keuntungan partneran sama orang beda skill: saling melengkapi. Tapi selain skill yang saling melengkapi, punya partner dengan visi yang sama juga penting banget.

Yansen yang pernah pengalaman jatuh bangun 3 kali gagal bikin startup, mengaku dulu gagal karena ditinggal partner yang punya visi yang beda dengan dia.

“Kesalahan pertama waktu gua bikin perusahaan adalah gua berpartner dengan investor. Bukannya support gue, malah selalu ganggu dengan nanya-nanya sudah untung berapa. Kemudian setelah gagal dan nyoba lagi, eh partner gue yang kedua malah lari bawa kabur duit perusahaan.”

Menurut Yansen, itu semua terjadi karena visi perusahaan yang tidak jelas, ditambah keinginan yang berbeda antara dia dengan partnernya.

“Dalam cara mencari partner, ya harus punya visi yang sama. Sama kayak cari pasangan, ketika tidak satu visi ya sudah pasti bakalan cerai.  Tujuan berpartner dan berkolaborasi ini harus dibahas dari awal,” tegas Yansen.

Menurut Mayumi, satu momen yang menyadarkan dia untuk ngga kerja sendiri, dan ngga mungkin kerja sendiri adalah ketika dia memutuskan untuk masuk ke industri film, sebelum dia mantap membangun illustrator agency-nya sekarang.

“Gue waktu masih muda banyak sok taunya, pokoknya ngerasa semua apa-apa bisa sendiri. Lalu masuklah gue ke sebuah PH, yang mana ketika itu gue jadi production assistant. Ketika gue bergabung di situ, gue masuk ke dalam sebuah tim yang isinya orang-orang dengan skill set yang beda-beda. Ada yang ngerti ngebangun set, make up, fashion, megang kamera, project management, sampe bisnis. Dan satu tim besar yang isinya bisa sampe 80 orang ini kemudian pergi rame-rame syuting ke sebuah tempat antah-berantah, yang di mana kita dipaksa berinteraksi sama semua orang ini, lalu ngga bisa ngapa-ngapain dan ga bisa kemana-mana kecuali gimana caranya untuk make it work dan bekerjasama dengan mereka. Buat gue, pengalaman itu cukup ekstrim dan ngebuka mata banget. Dan hal itu yang kebawa sampe sekarang gue bekerja dan berkarya.”

Poinnya, jangan ngerasa hebat dan bisa semua sendiri, karena udah pasti ngga akan bisa. Build a team, find your partner.

Cari partner itu bukan cuma pilih yang dirasa cocok dan nge-klik, tapi juga harus mempertimbangkan kesamaan visi maupun skill yang saling melengkapi. Oleh karena itu, petakan dulu kelemahan dan kekuatan kita ada dimana; value apa yang bisa kita kasih ke partner dan bagaimana dia bisa mengisi kekurangan kita.