Story

Cari Hunian Sewa Lebih Mudah Lewat Aplikasi

Terutama bagi kalian (dan saya) yang mahasiswa, namanya mencari hunian sewa yang biasanya berupa kost-kostan atau apartemen itu gampang-gampang susah. Fasilitas oke, harganya ga oke sama sekali. Atau harga oke, fasilitasnya ga sesuai. Dua-duanya oke , eh kejauhan. Ataupun awalnya baik-baik saja, eh ternyata ada kendala ini dan itu. Alhasil, pindah-pindah kostan adalah cerita klasik bagi para pemburu hunian sewa yang nyaman. Ataupun yang kepalang mager akhirnya pasrah karena capek juga keliling tiap daerah untuk menemukan hunian sewa yang tepat.

Edwin dan Ruben, co-founder Kingdorm, melihat permasalahan ini dan menciptakan jasa untuk mempermudah kita semua para pemburu hunian sewa. Tidak hanya kost-kostan, apartemen pun tersedia.

how3
Image: kingdorm.com

“Tidak hanya hunian sewa bulanan atau tahunan lho, kita juga menyediakan hunian sewa harian bagi pelancong dari luar kota.”, ujar Edwin.

“Saya sempat kerja dahulu setelah lulus kuliah. Akhirnya saya memutuskan berhenti, dan kebetulan Start Surabaya mengadakan program inkubasi. Saya hanya bermodal ide, akhirnya nekat ikut.”, kenang Edwin.

Baca juga: Start Surabaya Dibuka, Forward Factory Resmi Jadi Coworking Space Terbaru Surabaya

Edwin merupakan angkatan pertama dari program inkubasi start-up oleh Start Surabaya. Awalnya mempunyai ide untuk membuat game edukasi. Tim awalnya bubar karena tidak memiliki visi yang sama. Setelah mengikuti banyak seminar, bertukar ide, dan berkolaborasi selama program inkubasi, ia bertemu dengan Ruben dan bersama memutuskan untuk membuat Kingdorm.

Ia melihat sudah banyak website untuk jualan properti, namun layanan untuk hunian sewa masih jarang.

“Ya memang sih sudah ada, tapi terkadang datanya ngga jelas. Kadang fotonya ngga sesuai lah, alamat dan nomor teleponnya salah—sampai-sampai statusnya ngga jelas. Kita tidak tahu apakah hunian sewanya masih kosong atau tidak, harga pastinya berapa,karena terkadang  pemilik hunian suka merubah harga seenaknya.” jelas Edwin mengenai layanan hunian sewa yang sudah ada.

Baca juga: Mencari Tambal Ban dan Bengkel Terdekat Sekarang Bisa Lewat Aplikasi

Lalu, apa yang ditawarkan Kingdorm yang membedakan dengan layanan sejenis?

“Di sini ada sistem kurasi oleh tim. Jadi, setiap hunian sewa akan kita cek, konfirmasi, baru upload. Update berkala juga ada, supaya status hunian seperti apakah masih kosong atau tidak, serta harganya sekarang berapa, akan selalu diperbaharui. Ini sangat mempermudah calon penghuni untuk mencari hunian yang tepat.”, papar Edwin.

“Selain itu, kita memiliki fitur keamanan. Jadi, alamat lengkap hunian sewa tidak akan tertera. Harus ada konfirmasi dari kedua belah pihak. Kita juga memikirkan dong, keamanan pemilik hunian sewa. Hehehehe.”

“Kedepannya kami akan mengadakan sistem review dua arah. Pertama, review tamu terhadap layanan hunian. Kedua, review pemilik hunian sewa terhadap tamu. Seandainya ada tamu yang berbuat onar atau semacamnya, itu bisa dijadikan track record untuk para pemilik hunian lainnya.”, ujar Edwin.

Edwin menjelaskan beberapa tantangan selama merintis Kingdorm. Salah satunya adalah membuat usaha sewaan offline menjadi online.

Baca juga: Kalau Kehilangan Barang, Pergilah ke BantuTemuin

“Kata-kata klasik yang paling sering saya dengar adalah ’toh gini aja sudah penuh!’. Padahal sekarang sudah banyak orang yang mulai beralih ke layanan online untuk segala macam transaksi.”, ujar Edwin.

Selain itu, terkadang para pemilik hunian sewa masih skeptis dengan layanan yang dapat diberikan oleh Kingdorm.

“Ya karena kita masih baru sih, jadi kadang orang masih ragu untuk mengiklankan hunian sewa mereka. Suatu kali, saya pernah langsung membawa langsung calon penghuni kepada pemilik hunian. Saya langsung memberikan bukti nyata dan akhirnya iapun percaya terhadap layanan yang dapat diberikan Kingdorm.”, jelas Edwin.

Menurut Edwin, masalahnya bukan pada apps ataupun websitenya. Tetapi pada layanannya.

“Kesalahan awal adalah terlalu mementingkan apps, sehingga layanannya sendiri menjadi terbengkalai. Kadang kita terlalu perfeksionis sehingga masalah seperti UI/UX pada apps-nya yang membuat kita kurang sreg membuat kita lupa dengan tujuan dan layanan utama dari start-up kita. Tapi tetap saja, dua-duanya penting ya. Hehehe.”, ujar Edwin.

Gimana, sekarang ngga ada cerita mendekam di kostan yang kurang nyaman lagi kan karena susah mencari kostan? Hehehehe.

Baca juga: Berkat Kreativitas Pemenang Start Up Surabaya Terbang Ke Silicon Valley

Image header credit: picjumbo.com