Featured

Biar Anak Startup Enggak Mati Kutu Saat Mati Lampu

Siapa yang pas mati lampu kemaren jadi nggak bisa ngapa-ngapain alias mati gaya? Mau main sosmed tapi jaringan internetnya eror, mau main game tapi lowbatt, bahkan mau ngurusin kerjaan malah bingung nyari Wi-Fi dan tempat nge-charge di mall atau cafe yang “nyala”. Ternyata di zaman sekarang, mati lampu bisa bikin kita mati kutu banget ya. 

(Catatan redaksi: Ya, kami tahu, istilah yang lebih tepat adalah listrik padam atau mati listrik, tapi kata “mati lampu” lebih umum digunakan saat ini.)

Hmm padahal sebenernya ada banyak ide yang bisa dikembangin supaya kejadian mati lampu tadi bisa kita atasi dengan mudah lho. Tapi ide kayak apa sih yang bisa bantu negeri ini dari permasalahan energi listrik? Ada ga sih peran startup dalam mencari solusi kreatif soal energi?

Salah satu yang berperan adalah akselerator startup Nyala yang khusus mendukung wirausahawan muda di bidang energi terbarukan. Nyala merupakan hasil kolaborasi Digitaraya dan Energy Nexus Southeast Asia (Nexus SEA). Kolaborasi Digitaraya dan Nexus SEA ini bertujuan untuk mempercepat ekosistem startup energi pintar di Asia Tenggara. Maret lalu, Nyala telah menyelenggarakan Demo Day  sebagai ajang perkenalan startup-startup terpilih di bidang energi. Ada delapan startup yang terpilih, yaitu Replus, After Oil, Khaira Energy, EREnesia, Ailesh Power, Inovasi Dinamika Pratama, TAZ, dan Weston Energy

Kedelapan startup tersebut mempunyai fokus yang berbeda-beda, mulai dari penyediaan energi terbarukan,  membuat device untuk penghematan energi di rumah, pengolahan limbah, hingga menyediakan panel solar untuk desa-desa di Indonesia. 

Baca juga: Nyala Demo Day 2019: Startup untuk Keberlangsungan Energi di Indonesia

Direktur Konservasi Energi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Hariyanto menilai, masih banyak sekali sektor pengguna listrik yang bisa diefisienkan. “Start up yang fokus pada sektor energi terbarukan juga bisa membantu pemerintah dalam memenuhi targetnya menggunakan 23% renewable energy pada 2025 mendatang,” ujar Hariyanto.

Nicole Yap, VP Strategy Digitaraya mengatakan, “Startup-startup tersebut tidak hanya menyelesaikan tantangan energi Indonesia saat ini, tetapi juga akan mendorong lebih banyak inovasi di sektor energi.”

Ternyata Indonesia, khususnya DKI Jakarta dan Jawa bagian barat memang rentan mati lampu. Dikutip dari Tempo.co, Guru Besar Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, Profesor Pekik Argo Damono mengatakan bahwa DKI Jakarta dan Jawa bagian barat masih bergantung pada pembangkit listrik yang ada di bagian timur Indonesia. Jadi ketika di wilayah timur kehilangan daya, wilayah barat menjadi rentan mengalami trip atau sederhananya, mati lampu. Tidak berimbangnya antara kebutuhan dan pasokan listrik inilah yang bikin kita jadi mati kutu gara-gara mati lampu.

Nah biar kita semua enggak mati kutu lagi pas mati lampu, yuk ikut dukung startup-startup yang berfokus pada penggunaan energi terbarukan. Sebagai anak startup, kita juga bisa mengembangkan lebih banyak lagi inovasi di sektor energi dan menjadi solusi baru untuk salah satu tantangan paling signifikan di negara ini.