Featured

Berawal Dari Visitor, Sekarang Menjadi Kreator

“Di Solo masih sedikit komik yang modern dan lebih banyak komik dengan karakter tradisional yang sebenarnya sangat baik. Hanya saja saya ingin mengemas sesuatu yang berbeda. Walaupun komik saya modern namun tetap membawa unsur-unsur kebudayaan tradisional Indonesia.”–Lolo Biru

Lolo Biru, ia seorang artist comic dari Solo yang menjadi exhibitor di Popcon Asia untuk pertama kalinya. Ia menggunakan ajang Popcon Asia 2015 ini untuk launching serial komik yang berjudul BIRU. Komik yang dibuatnya merupakan komik dengan action figure yang modern namun mengandung nilai-nilai kebudayaan tradisional yang melekat pada masyarakat Indonesia.

Komik ini sendiri merupakan hasil kolaborasi antara ia sebagai penulis cerita dan pembuat karakter dan Dicky Maulana yang berasal dari Jakarta sebagai illustrator komik. Lolo mengaku sangat senang bisa mengikuti Popcon Asia 2015 yang menurutnya sangat berjasa memperkenalkan komiknya dengan baik.

Image credit: dok. Ziliun
Image credit: dok. Ziliun

Baca juga: Infografik: Perjalanan Industri Komik Indonesia

“Kemarin saya juga didatangi dengan beberapa publisher salah satunya adalah Mapple Comic dari Malaysia dan juga Digital Catalput Publisher yang mengajak kerjasama. Saya akan bertemu lagi dengan publisher-publisher tersebut untuk membicarakan kerjasama berikutnya.”

Penjualan yang ia lakukan dalam satu hari pun sangat meningkat. Ada banyak orang yang datang ke booth-nya dan kemudian membeli komik. Ia mengaku bahwa tahun depan ingin ikut lagi mengisi booth di Popcon Asia.

Lain cerita Lolo Biru, lain cerita dari Muhammad Isa SP dong! Setelah selama tiga tahun berturut-turut menjadi pengunjung setia Popcon Asia, Isa akhirnya terinspirasi untuk membuat karya sendiri untuk bisa dipajang di Popcon Asia. Tidak tanggung-tanggung, dia membuat ksatria tangguh versi Indonesia.

Baca juga: Beng Rahadian, Mengangkat Harkat Martabat Komik Indonesia

Berawal dari keisengan untuk menyalurkan hobi, bersama lima temannya yang lain, akhirnya Isa menggarap proyek Kshatriya Saga. Proyek ini baru dimulai sekitar Februari 2015. Meskipun karyanya terhitung baru, namun sudah sanggup menarik perhatian banyak publik. Beberapa waktu lalu ada seorang dari Jerman yang mengaku tertarik dengan logo Kshatriya Saga dan berniat untuk membeli logo tersebut sebagai logo band mereka.

“Kami tolak, karena ini memang untuk komik,” tutur Isa.

Inspirasi karakternya diperoleh dari berbagai sumber. Karakternya merupakan gabungan dari Gatot Kaca dan ksatria yang ada dalam komik Amerika dan Jepang. Nuansa manga-nya banyak terinspirasi dari Oh-great, sedangkan yang menjadi benchmark karakternya adalah God Complex. Popcon Asia menjadi salah satu alasan mereka menggarap karyanya lebih tekun. Sebulan sebelum acara Popcon Asia, mereka jadikan sebagai alat untuk promosi.

Baca juga: Q&A: Shani Budi, Membentuk Tim Nusantaranger Lewat Twitter!

Melalui Popcon Asia, dia juga mendapatkan dukungan dari artis lain yang lebih senior bergelut di Industri komik dan ilustrasi.

“Waktu bilang mau pajang karya di Popcon Asia langsung dibantuin. Banyak artist yang jadi ikutan bantu share.”

Selama di Popcon Asia, tidak hanya publik semakin mengenal karakter Kshatriya Saga, namun memberikan kesempatan kolaborasi. Digital Catapult telah menawarkan mereka untuk menerbitkan komiknya di Jepang. Tidak hanya itu, Mapple penerbit buku dari Malaysia juga menawari mereka kesempatan berkolaborasi.

Baca juga: The End of MAKKO and To The Brave Old World

Image header credit: picjumbo.com