Insight

Milenial: Generasi yang Membeli Barang Seperlunya.

Generasi Milenial dan Materialisme

Sadar ngga sih kalian kalo harga barang dari tahun ke tahun semakin mahal?

Bayangkan, kalian kalau punya uang jajan 15 ribu bisa jajan mie instan dobel seharga 6 ribu dan masih punya uang sisa yang cukup buat beli nasi goreng satu porsi seharga 8 ribu. Murah banget kan?

Tapi sekarang semua barang serba mahal. Akibat inflasi, mie instan dobel sekarang harganya 10 ribu rupiah. Semakin lama kita hidup, semua harga menjadi semakin mahal dan semua generasi milenial menyadari hal itu. Dari situ milenial mulai membedakan dirinya dari generasi sebelumnya. Mereka melepaskan diri dari generasi yang materialistis hingga sekarang membentuk menjadi generasi yang minimalis.

Tapi, apa sebenarnya arti dari kata materialistis dan minimalis?. Pada dasarnya kedua kata tersebut menunjuk kepada filsafat gaya hidup. Di mana materialistis menunjukkan kepada bentuk kepemilikan benda yang sebanyak-banyaknya, minimalis menunjuk kepada kepemilikan benda yang seperlunya. Kedua kata tersebut menunjuk kepada filsafat yang sangat berbeda.

Berkat tumbuh besar di ekonomi yang terus terkena inflasi milenial menghargai setiap barang yang mereka punyai. Minimalis berarti juga memiliki barang-barang yang seperlunya saja dan tidak konsumtif dalam pemakaiannya. Minimalis merupakan langkah milenial untuk menuju hidup yang lebih baik tanpa harus bergantung kepada barang-barang.

Nah kalau kita lihat, faktor-faktor yang mendukung hidup yang minimalis sudah terlihat jelas di generasi milenial. Berikut faktornya:

Teknologi dan Mobilitas

Perkembangan teknologi merupakan faktor utama yang membantu banyak kehidupan milenial. Smartphone merupakan alat tercanggih yang millenials punya. Dengan satu alat mereka bisa menulis, menghitung, menelpon, dan masih banyak lagi tergantung aplikasi yang bisa dibuat. smartphone membantu milenial hidup sederhana dengan membuat satu alat yang mempunyai banyak fungsi.

The Sharing Economy

Sharing economy merupakan bentuk ekonomi yang memprioritaskan berbagi sebagai komponen utama ekonomi tersebut.

Sekarang berkat aplikasi GO-JEK, Uber, dll kita tidak perlu punya kendaraan untuk pergi ke mana-mana. Berkat Airbnb, Kita tidak perlu punya rumah untuk bisa tinggal di tempat lain. Inilah bentuk-bentuk dari sharing economy. Ini merupakan salah satu faktor yang penting karena sharing economy membuat milenial bisa melepaskan diri dari kepemilikan barang. Mereka tidak perlu memiliki mobil agar bisa berjalan-jalan, tidak perlu membeli rumah untuk bisa tinggal di tempat lain, dan sebagainya.

Kesadaran Lingkungan

Generasi Millennial melihat banyak kerusakan lingkungan akibat perilaku konsumtif generasi terdahulu. Mereka kemudian menyesuaikan pembelian barang mereka dengan memikirkan juga dampaknya terhadap lingkungan.

Pengalaman>barang

milenial mementingkan konsumsi dalam bentuk pengalaman dibandingkan hanya sekedar membeli barang. Datangnya paham minimalis bukan berarti milenial tidak akan melakukan overspending tapi bentuknya dan arahannya akan berbeda. Bukan secara “material” tapi “pengalaman”. Contohnya, Mungkin saja seorang milenial membeli subscription terlalu banyak sehingga mereka tidak bisa membayar.

Kondisi Ekonomi

Kondisi ekonomi generasi milenial merupakan salah satu kondisi terburuk yang pernah dialami oleh umat manusia berkat resesi tahun 2008. Oleh karena itu, mereka terdorong untuk mengurangi kepemilikan dan konsumsi material untuk menjaga kondisi ekonomi masing-masing.

Begitulah kenapa seorang milenial ingin memilih jalan hidup minimalis. reaksi milenial sebenarnya bukan lah hal yang aneh. Berkat keadaan ekonomi, mereka harus beradaptasi sesuai keadaan yang mereka dapatkan. Dengan melihat kondisi dan faktor sebuah generasi maka kita bisa mengerti reaksi dan pergerakan sebuah generasi.