Featured, Insight

Belajar dari Situs Film dalam Menangani Krisis karena Pengguna

Jika kamu aktif berkontribusi di Rotten Tomatoes, sebuah situs untuk mereview film, kamu pasti menyadari bahwa sesuatu yang berbeda terjadi sebelum peluncuran film Captain Marvel. Ya, biasanya sebelum sebuah film resmi tayang di bioskop, pengguna Rotten Tomatoes sudah bisa memberi penilaian terhadap sebuah film. Dengan begitu, publik bisa melihat animo dan penerimaan penggemar film terhadap suatu film, dan jadi memutuskan apakah mereka perlu menonton film tersebut atau tidak.

Namun, kali ini beda.

Rotten Tomatoes telah memutuskan untuk menonaktifkan fitur komen dan menghapus badge persentase orang yang mau menonton film dari situsnya. Ini adalah langkah yang mereka ambil setelah belajar dari beberapa film sebelumnya bahwa ada fenomena bernama ‘review-bombing troll’. Troll atau pengacau ini biasanya datang berduyun-duyun dengan tujuan menggagalkan sebuah film karena isu yang diangkat film tersebut. Hal ini sempat terlihat dari film-film blockbuster seperti Ghostbusters dan Black Panther karena keduanya mempromosikan anti-seksisme dan anti-rasisme.

Nah, ngga asik banget kan kalau pengalamanmu nonton film terganggu karena ekspektasi buruk dari pengacau yang sebenarnya belum nonton atau bahkan ngga niat nonton film tersebut?

Oleh karena itu, beberapa situs film sedang berpikir bagaimana caranya mendesain platform yang anti-pengacau. Salah satunya adalah dengan menonaktifkan fitur rating dan komen seperti yang Rotten Tomatoes lakukan. Selain itu, mereka juga lagi berpikir untuk bikin verified badge a la Amazon yang menandakan validnya komen yang diberikan.

Situs lainnya, yaitu IMDb, juga punya cara tersendiri untuk menetralisir racun troll ini. Mereka punya weighting formula rahasia yang menghitung peringkat bintang dan bisa mendeteksi penilaian palsu dari pengguna.

Metacritic bahkan menggabungkan teknologi dan tenaga manusia untuk meng-counter problem ini. Selain tidak mengizinkan pengguna me-rating film sebelum tayang, mereka juga punya moderator yang memantau ada tidaknya review yang mencurigakan.

Jadi, kita bisa belajar dari situs-situs film ini bahwa terkadang masalah yang timbul dari bisnis digital kita itu disebabkan oleh pengguna. Dan demi memberikan jasa atau produk terbaik bagi pengguna lain secara lebih luas, kita harus punya prinsip dan kebijakan yang membela pengguna lain yang tak bersalah dan melawan pengguna yang berniat buruk.

Sumber: The Verge