Opinion

Balada Tenaga Kerja dan Ijazahnya (2)

Belum lama ini saya ngobrol dengan seorang teman, yang kebetulan mengepalai departemen HR di sebuah perusahaan berskala nasional.

Dia memisahkan tenaga kerja spesialis denga tidak spesialis. Untuknya, tenaga kerja spesialis, dengan skill set yang sangat spesifik, tidak ada keharusan untuk menyelesaikan S1.

cv_cartoon
Credit: lintasanpenaku.blogspot.co.id

Sebagian besar pemangku kepentingan hanya akan melihat portfolio dan kemauan belajarnya.

Saya kenal dengan beberapa orang yang hebat sebagai engineer, tapi tak lulus S1. Dan uniknya, teman saya ini memiliki dendam yang janggal. Dia memiliki misi, salah satunya, untuk menjadi sangat mumpuni di bidang per-coding-an, kemudian secara implisit mengatakan, kalau bisa berteriak, kepada para lulusan S1: “On your face!”. Ha ha ha.

Di lain sisi, jika bicara masalah apakah jurusan atau program studi kuliah harus sejalan dengan profesi? Saya rasa akan banyak orang yang menyangkalnya. Saya juga punya pandangan yang serupa.

Baca juga: Modal Kerja: Bukan Ijazah, Bukan Pengalaman, tapi Attitude

Engineer-engineer hebat yang saya kenal banyak yang berasal dari jurusan yang sangat nggak nyambung. Mas Tjatur, salah satu petinggi IT di detikcom yang saya hormati sampai sekarang, pernah bercerita kepada saya bahwa beliau kuliah di jurusan yang justru berhubungan dengan pertanian. Dan pernah membuka jasa desain taman sesaat setelah lulus kuliah.

Pesan saya sih, jika kalian memang belum menyelesaikan (minimal) S1, berusahalah untuk menempuhnya. Jika masalahnya adalah biaya, dan kebetulan kalian sekarang sudah berpenghasilan sendiri, jangan ditunda-tunda.

Walaupun dari sisi kemampuan teknikal (menurut kalian) sama sekali tidak ada menfaatnya, percayalah ada banyak aspek lain yang tidak bisa kalian dapatkan jika tidak pernah merasakan bangku kuliah sama sekali.

Jauh berpaling, menurut saya perusahaan-perusahaan yang mengharuskan calon karyawan baru, atau calon karyawan yang hendak dipromosikan, mengantongi ijazah itu juga besar pengaruhnya terhadap kulitas perguruan tinggi di negara kita.

Baca juga: Fenomena: Buat Cewek di Dunia Kerja, Can You Have it All?

Ini berimplikasi pada tren kejar setoran, kuliah asal lulus hanya untuk bisa masuk ke perusahaan XYZ, agar bisa dipromosikan untuk posisi ABC. Dan, ada juga lho, calon mertua yang mengharuskan menantunya minimal berpendidikan S1.

Akibatnya, menjamurlah perguruan tinggi yang menjawab kebutuhan orang-orang tersebut. Kalian pastinya mengerti apa yang saya maksud.

Sebagai penutup, beberapa kali saya jadi pembicara di hadapan teman-teman dari beberapa universitas jurusan IT di Jakarta. Saya juga sering iseng bertanya pada mereka secara acak, mengapa ambil jurusan IT?

Secara mengejutkan, sebagian kecil dari mereka mengatakan alasan-alasan lucu seperti “yang penting kuliah”, disuruh orang tua, dan tentu saja, ikut-ikutan teman. Duh…

Bagaimana menurut kalian?

Baca juga: Setelah Lulus, Mesti Banget Kerja Sesuai Passion?

Credits: Mas Tjatur, Mas Abi, Mba Putri, Si Tika. Thank you!


Artikel ini ditulis oleh  dan sebelumnya dipublikasikan di LinkedIn Pulse.

Image header credit: noznozawa.wordpress.com