Opinion

Balada Perkembangan Zaman, dan Kemajuan Problem Solver

“Zaman kakek dulu, kalau mau tau kabar susah loh, ngga kayak sekarang, tinggal telepon.”

Nostalgia ngga sih dengerin line kalimat mainstream kayak gini? Pasti deh kalau kamu lagi kumpul keluarga dan diharuskan mendengarkan wejangan dari para tetua, bakal muncul kalimat perbandingan kemudahan yang didapat oleh zaman sekarang dan susahnya zaman dahulu. Ngga aneh sih, zaman dahulu tuh kalau kata orang dulu apa – apa serba tradisional, mulai dari pekerjaan rumah, hingga ke pekerjaan kantoran. Arsip aja masih kertas bertumpuk – tumpuk dan disusun tinggi setinggi langit, capek deh.

Sekarang, semua kesulitan itu telah diambil alih oleh kemudahan teknologi. Mau tau informasi yang udah lama terlewat? Gampang, database standby selama kamu memaintenance dengan baik. Mau input dan kirim kirim secara cepat? Kecil, banyak situs yang menyediakan e-mail ataupun storage data digital agar dapat mempermudah sharing infomasi.  Bahkan kalau mau memecahkan suatu masalah dan perlu nasihat, DSS siap membantu.

“Lah seriusan? gampang dong kalau begitu, masalah aja udah ada tutor digitalnya sekarang!”

Baca juga: Kantor Gratis, Kopi Gratis, dan Startup Lo Masih Juga Gak Jalan?

Ets, tapi tunggu dulu. Emang sih teknologi menawarkan materi – materi yang dapat mepermudah manusia bahkan dalam memecahkan suatu masalah. Tapi teknologi ini biasanya terbatas pada lingkup yang lebih sesuai. DSS diciptakan untuk dapat mempermudah kegaiatn pengambilan keputusan dalam lingkup bisnis. Selain itu DSS diciptakan tidak serta merta dapat mengahsilkan jawaban yang entah darimana datangnya. DSS mengolah berbagai informasi yang telah lebih dulu dimasukkan kedalam database, diolah, dikalkulasi, dan dipilah sesuai dengan keputusan terbaik. Well, pada saat ini lingkup yang diadopsi oleh sistem tersebut masih berbatas pada perusahaan – perusahaan. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa sistem tersebut akan dikembangkan untuk ranah yang lebih luas kan?

Melihat pesatnya perkembangan teknologi, sedikit banyak menggelitik minat kita untuk membuat sebuah inovasi baru dalam area problem solving. Bisa aja kan, kita mengembangkan piranti lunak untuk memecahkan berbagai masalah yang kita temui. Ide ini tentu banyak menimbulkan tanda tanya.

“Bagaimana membuatnya? Apakah mungkin? Apa parameter untuk pemecahan masalahnya?”

Baca juga: Leonika Sari, Founder Reblood: Setelah ke MIT, Ingin Fokus Bikin Startup

Yaah balik lagi ke kita sendiri. Dalam memecahkan sebuah masalah, diperlukan berbagai macam cara dan metode agar masalah yang dihadapi dapat diselesaikan secara tepat. Kan absurd banget kalau masalah yang kita hadapai besar tapi effortnya terkesan seadanya. Kita harus pintar milih mana yang dapat dijadikan solusi, mana yang cuma sekedar ide terbesit yang sebenarnya ngga ada korelasi nya sama masalah yang kita hadapi. Nah, pemilahan masalah ini dapat menjadi parameter yang baik. Dimana masalah akan memiliki porsinya masing – masing, disesuaikan dengan data yang ada, diolah, kemudian menjadi output yaitu solusi. Namun sebaliknya, masih banyak orang yang kurang menerapkan pemecahan masalah secara sistematis dan malah tenggelam dengan drama kesulitannya sendiri, sadis.

Oleh karena itu, untuk dapat membuat sistem pemecahan masalah yang baik, tentu setiap individu harus terlebih dahulu menerapkan sistem tersebut secara mandiri agar mendapatkan gambaran otomatisasinya.

Kedengeran lucu ya, masalah yang kita hadapi dapat ditemukan solusinya dengan sistem. Namun kenapa harus sangsi? Teknologi telah berkembang dengan capat dan manusia berajalan beriringan menyeuaikan diri. Cepat atau lambat mungkin saja akan tercipta, ya kan?

Baca juga: Gage Batubara, Ajak Temukan Teman Senasib dengan Komuter App

 

Image header credit: picjumbo.com