Featured

#ziliuntrip: Mendorong Keberagaman

#ziliuntrip adalah rangkaian trip independen Ziliun mengikuti konferensi Google I/O, Women Techmakers, kuliah di Stanford University, dan event teknologi lainnya di Amerika Serikat selama Mei-Juni 2015.

Google I/O, sebuah konferensi developer tahunan yang diselenggarakan Google baru saja selesai digelar. Saya berkesempatan hadir kembali tahun ini, berada di tengah antusiasme para geek, fan boy, serta pelaku industri teknologi yang datang dari seluruh dunia untuk ‘berhaji’ ke Mekkah mereka di San Francisco, California.

Selama dua hari, para peserta disuguhi sesi keynote, seminar, workshop, konsultasi, hingga berbagai booth yang menawarkan pengalaman mencoba berbagai teknologi terbaru yang belum keluar di pasaran.

Namanya konferensi teknologi, ngga heran kalau sebagian besar pesertanya adalah laki-laki. Mereka adalah para pengembang aplikasi, product manager, Chief Technology Officers, ataupun stakeholders penting dari perusahaan mereka masing-masing yang berkecimpung di industri ini.

Baca juga: Sharing Economy: Ngirit Plus Hemat Pake AirBnB dan Uber

Hal ini merupakan salah satu cermin rendahnya tingkat keterwakilan perempuan di industri teknologi, yang sudah beberapa tahun menjadi salah satu isu utama yang coba dipecahkan oleh perusahaan teknologi besar seperti Google dan Facebook. Sheryl Sandberg, salah satu petinggi Facebook menulis buku berjudul Lean In, dan menginisiasi kampanye untuk mendorong lebih banyak perempuan merasa nyaman di tempat kerja sehingga mereka mampu meraih potensi tertinggi mereka. Google menginisiasi Women Techmakers, yang tujuannya juga sama, mencari para perempuan yang berkecimpung di STEM — Science, Technology, Engineering, and Mathematics atau sains, teknologi, teknik, dan matematika — untuk mendorong keberagaman dan dalam jangka panjang menciptakan perempuan-perempuan pemimpin di industri teknologi.

Di tengah berbagai upaya untuk meningkatkan representasi perempuan, menurut saya Google melalui Google I/O tidak hanya sekadar melempar wacana, tapi juga berbuat sesuatu untuk mewujudkan hal tersebut.

Poin plus pertama didapat oleh Google lewat sesi keynote yang menjadi pembuka Google I/O. Di antara petinggi Google yang menyampaikan presentasi mengenai produk dan software terbaru, ada tiga perempuan yang tampil: Aparna Chennapragada, Director of Product Management; Jen Fitzpatrick, Vice President of Engineering; dan Ellie Powers, Product Manager for Google Play Developers.

Baca juga: Masa Depan Online Video di Tangan ABG

Dengan tampilnya mereka, menunjukkan bahwa Google memberikan tempat bagi perempuan menjadi pemimpin, dan bukan cuma untuk posisi umum seperti human resources atau keuangan, tapi juga yang berkaitan langsung dengan sains dan pengembangan teknologi.

Poin kedua didapat dari fasilitas yang diberikan di tempat acara. Selama konferensi berlangsung, saya menemui beberapa ibu hamil, orang dengan kursi roda, sampai orangtua yang membawa anak mereka. Panitia memberikan fasilitas memadai seperti ruangan childcare untuk para orangtua yang membawa anak dan ruang laktasi untuk ibu menyusui. Mereka juga memberikan kemudahan bagi para peserta yang menggunakan kursi roda, dengan memberikan tempat duduk khusus. Panitia bahkan mencantumkan peraturan anti diskriminasi untuk minoritas atau orang dengan kemampuan berbeda/difabel.

 

 

Tidak cukup sampai di situ, panitia juga memberikan sentuhan kecil seperti memberikan amenities khusus perempuan di toilet. Barang-barang seperti pin rambut, peniti, lotion, pembalut, sampai penyegar mulut disiapkan gratis untuk digunakan.

 

 

Baca juga: Code for America: Mengabdi untuk Negara Melalui Teknologi

Kalau dipikir-pikir, sebagai ajang developer, yang kebanyakan adalah cowok, muda, single, ngapain juga bikin childcare dan ruang laktasi? Tetapi karena Google serius untuk mendorong lebih banyak orang dari berbagai latar belakang untuk masuk ke industri, maka hal seperti ini mutlak dilakukan. Kenapa Google pengen banget mengakomodasi berbagai orang dari berbagai latar belakang berbeda untuk masuk ke industri? Karena hanya dengan mendukung keberagaman, potensi kolaborasi yang sukses akan lebih besar. Orang-orang dengan kemampuan yang berbeda juga akan menciptakan perubahan besar yang berdampak ke lebih banyak orang.

Jujur, saya kaget banget karena ngga nyangka upaya yang dilakukan bakal sebesar ini untuk mengakomodasi minoritas. Tahun lalu saya hadir, tapi ngga segitunya. Childcare dulu ada, tapi peraturan anti diskriminasi tidak dibuat tertulis seperti sekarang. Amenities khusus perempuan juga ngga tersedia.

If we want to make change happen, we have to be willing to take the necessary steps. As little as it may seem, but it does make a difference. Sebagai cewek aja saya seneng dikasih lotion, apalagi kalau saya orangtua yang ngga bisa ninggalin anaknya dan butuh jasa penitipan anak. Saya rasa hal ini seharusnya menjadi norma dan standar, di mana pun dan di industri apapun.

If this continues, I believe that I will see more women, minorities, and people with disabilities to take their path in the tech industry in near future.

Header image credit: dok. Ziliun