Featured

#ziliuntrip: Indonesia: Jadi Konsumtif atau Produktif?

#ziliuntrip adalah rangkaian trip independen Ziliun mengikuti konferensi Google I/O, Women Techmakers, kuliah di Stanford University, dan event teknologi lainnya di Amerika Serikat selama Mei-Juni 2015.

Buat semua yang menonton keynote Google I/O 2015 minggu lalu, apa hal yang menurut kalian paling seru dan menarik dari keseluruhan sesi tersebut?

Oh, btw, buat yang belum nonton, bisa cek videonya di sini:

 

 

To cut the long story short, Indonesia sempat disebut sampai beberapa kali oleh beberapa orang Google yang kemarin menyampaikan keynote. Salah satunya oleh Sundar Pichai, Senior Vice President of Products, Google. Dalam keynote tersebut, kita disebut-sebut sebagai negara dengan potensi mobile dan smartphone terbesar. Tapi apa alasannya?

Baca juga: #ziliuntrip: Membuat Dunia Jadi Lebih Baik

Sebelum kita masuk ke situ, pernah dengar BRIC? BRIC atau singkatan dari Brazil, Rusia, India, dan Cina adalah sekumpulan negara yang dianggap sebagai kekuatan ekonomi baru di dunia. Negara-negara tersebut selain memiliki populasi yang besar, juga memiliki luas wilayah yang besar dan sumber daya yang mampu menyuplai dan produk dan jasa ke seluruh dunia.

Oleh karena itu, muncul istilah kedua yaitu MINT, atau Mexico, Indonesia, Nigeria, dan Turki. Sekumpulan negara ini adalah yang disebut-sebut sebagai the next big thing, dan tidak kalah besar kekuatannya dari negara-negara BRIC. Dalam waktu 20 tahun, atau mungkin kurang dari itu, dengan perkembangan demografik yang luar biasa pesat, negara-negara ini akan memimpin kekuatan ekonomi di masa depan.

Negara-negara MINT kini menjadi fokus utama Google, lebih karena mereka sudah hadir di Brazil dan kuat di India, namun kalah di Cina dan Rusia. Google sulit memasuki pasar kedua negara yang disebut belakangan tersebut karena minimnya dukungan dan pemerintah masing-masing. Cina sudah memblokir sebagian besar layanan online seperti Facebook, Google, dan Twitter, dan lebih membuka jalan bagi layanan lokal seperti Sina Weibo, Baidu, dan Tencent. Rusia belum sampai memblokir macam-macam, tapi pemerintahnya memberikan banyak aturan yang bisa menghambat perkembangan Google di sana.

Baca juga: #ziliuntrip: Mendorong Keberagaman

Image credit: dok. Ziliun

Pilihan selanjutnya jelas jatuh ke Indonesia, karena kita punya potensi yang jauh lebih besar dibanding Mexico, Nigeria, dan Turki. Mengapa? Tentunya karena beberapa hal seperti jumlah populasi yang mencapai hampir 250 juta orang dan berada di peringkat keempat dunia, penetrasi layanan mobile yang melebihi 100%, sampai diprediksi akan menjadi urutan ketujuh perolehan Produk Domestik Bruto di tahun 2050.

Sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia punya peranan penting dalam berbagai hal, terutama pengguna internet dan teknologi. Kita punya semua alasan bagi semua orang dan semua perusahaan untuk masuk dan menjual produk mereka. Jadi jangan senang dulu kalau kita sering disebut-sebut. Tandanya, kita dianggap sebagai pasar yang besar.

Tapi jangan langsung kesel juga sih. Anggap hal ini merupakan kesempatan baik bagi kita untuk berbuat sesuatu. Ketika semua mata sedang memandang Indonesia, dan mau mengeksplorasi banyak hal di Indonesia, adalah merupakan peluang kita untuk berbuat dan berkarya, menghasilkan sesuatu yang sukses dan dilihat orang banyak.

So, do we want to ride on the wave, or we just want follow the leader?

Baca juga: #ziliun17: Online Social Movement Indonesia