Featured

#ziliun17: Superhero Asli Indonesia

#Ziliun17 adalah 17 rangkaian infografik atau data dalam bentuk visual seputar teknologi dan Indonesia. #Ziliun17 dipersembahkan untuk menyambut HUT Republik Indonesia di tanggal 17 Agustus.

Superhero disebut sebagai tokoh fiksi yang digambarkan sebagai pembasmi kejahatan dan penolong kaum lemah. Punya satu ciri khas, kostum dan jenis kekuatan apa yang dia punya. Sejak kemuncuan superhero pertama yang diciptakan sama Lee Falk bernama Phantom tahun 1936 dan kemudian Superman tahun 1938 di Amerika yang berupa serial komik, banyak karakter serupa yang mulai bermunculan. Nggak cuman di Amerika saja, tapi juga di negara-negara yang terpengaruh sama budaya komik.

Di tahun 90-an, layar kaca Indonesia sempat menayangkan tokoh-tokoh superhero yang jadi Idola anak-anak Indonesia pada masa itu. Ada yang masih ingat sama Satria Baja Hitam, Ultraman, Power Rangers, bahkan tokoh superhero cewek kayak Sailor Moon nggak?

Indonesia pun ikutan unjuk gigi dengan memunculkan tokoh-tokoh superhero kayak Wiro Sableng, Saras 008, juga Panji Manusia Milllenium. Semuanya nggak kalah nge-hits sama tokoh superhero buatan negara tetangga dan pupuler dikalangan dunia perfilman anak Indonesia.

Baca juga: Di Mana Ada Usaha, Di Situ Ada Jalan?

Namun sayangnya, belakangan ini  image superhero yang melekat pada anak-anak Indonesia justru identik dengan tokoh-tokoh Marvel kayak Superman, Batman, Spiderman, dan tokoh fiksi lain berakhiran -man lainnya.

Kini tokoh superhero Indonesia kian hari kian tenggelam. Bahkan sekarang hampir nggak kedengeran lagi. Stasiun televisi Indonesia lebih banyak menampilkan tokoh superhero dari luar negeri yang lekat dengan teknologi canggih.

Sejak tahun 1950-an, sebenarnya sudah banyak sekali tokoh superhero yang diciptakan anak bangsa. Sri Asih, tokoh superhero pertama Indonesia yang muncul pada tahun 1953. Sri Asih diciptakan sama Almarhum Bapak Komik Indonesia, RA Kosasih.

Baca juga: Sharing Economy: Ngirit Plus Hemat Pake Airbnb dan Uber

Sri Asih bisa berubah menjadi superhero dengan mengucapkan kata “Dewi Asih”. Digambarkan kalo Sri Asih ini bisa terbang, menggandakan diri, dan sangat kuat. Namanya pahlawan pemberantas kejahatan, pasti punya musuh. Musuh Sri Asih ini Serigala Hitam dan Gerombolan Kawa-Kawa. Sri Asih ini kali pertama muncul tahun 1953 dalam komik terbitan Melodie Publishing.

Infografis 17 Superhero Asli Indonesia

 

1. Sri Asih (1953) | 2. Putri Bintang (1954) | 3. Garuda Putih (1954) | 4. Maza (1968) | 5. Aquanus (1968) | 6. Jin Kartubi (1968) | 7. Gundala (1969) | 8. Godam (1969) | 9. Pangeran Mlaar (1969)  | 10. Kapten Hallintar (1972) | 11. Herbintang (1972) | 12. Sri Dewi (1973) | 13. Virgo (1973) | 14. Kalong (1973) | 15. Gina (1973) | 16. Kapten Kilat (1973) | 17. Sembrani (1974)

Yang paling fenomenal dan terkenal ada Gundala, superhero berkekuatan petir yang diciptakan pada tahun 1969 oleh Hasmi. Dan masih banyak tokoh superhero Indonesia lainnya. Tapi sayangnya kesemua tokoh itu seperti tenggelam bersama waktu dan dilupakan.

Memang, kalo dibandingin sama superhero buatan luar, superhero Indonesia kalah canggih sama mereka. Tapi seenggaknya Indonesia punya superhero yang mencerminkan kearifan lokal serta memiliki nilai-nilai keragaman Indonesia.

Baca juga: Kunci Membangun Komunitas dari Founder Fotografer.net

Nah PR-nya adalah gimana sih ngangkat superhero kita ini jadi dikenal orang. Minimal orang Indonesia sendiri lah ya bisa merasa memiliki dan bangga sama superhero lokal ini. Sementara negara lain seperti Jepang dan Malaysia sudah menyadari pentingnya intellectual property sebagai salah satu aset bangsa.

Ada segelintir orang yang memang peduli. Coba lihat Jtoku: Dari Jogja untuk Indonesia, Dari Indonesia untuk Dunia. Berlatar belakang melihat superhero Indonesia nggak banyak dilirik sama anak negeri sendiri, mereka punya ide buat ngangkat tokoh superhero Indonesia. JToku kembai memunculkan karakter superhero Indonesia lewat kostum, cerita, desain grafis, hingga film.

Karakter superhero diciptakan berdasar ciri khasnya yang unik dengan mengangkat budaya khas Indonesia dan ditampilkan secara ringan, syarat dengan nilai-nilai moral yang mendidik. Sejak 2007 Jtoku memproduksi film pendek berdurasi sekitar 10 menit. Film pertama mengangkat tokoh Satria Baja Amar (Ayam Bakar) yang menceritakan seorang ksatria mencoba mengembalikan kepercayaan dan gairah masyaratat untuk kembali beternak dan mengkonsumsi daging ayam setelah virus flu burung mewabah.

Film lainnya Lightening Electrical Cybox yang mengadopsi cerita Malin Kundang. Bedanya, kalo Malin Kundang dikutuk jadi batu, tokoh utama di film ini dikutuk jadi robot. Film ini mengajak anak-anak untuk selalu menjaga kebersihan dan taat sama orang tua. Ada juga tokoh Pocongman, yang diadopsi dari hantu pocong. Juga Borneomen yang punya misi melawan pembalakan liar.

Lain lagi sama Nanang Rahmat Hidayat yang menciptakan karakter Suparamawira Gardala tahun 2010 lalu. Gardala merupakan perwujudan dari Garuda Pancasila, gabungan antara lambang kekuatan bangsa dan dasar negara Indonesia. Gardala kemudian diangkat menjadi film berseri. Salah satu episodenya ‘Akibat Buang Sampah Sembarangan’ yang mengangkat budaya lokal bangsa dan memberikan pesan moral untuk anak-anak Indonesia yang menontonnya.

Di dunia komik, kembali lahir superhero Macan Putih kolaborasi antara Irfan Ihsan (penulis, international broadcaster), Donny Gandakusuma (komikus) dan Novita Tesalonika (pewarna). Macan Putih diluncurkan April 2014 ini, dibuat dari empat kota berbeda. Jarak sama waktu nggak jadi kendala bagi mereka untuk berkarya dan mengangkat kembali superhero Indonesia lewat komik.

Yang teranyar Garuda Superhero, bercerita tentang teror yang dilakukan oleh kelompok penjahat bernama Durja King terhadap penyalahgunaan senjata canggih untuk mengancam kehancuran bumi. Saat itulah Garuda muncul sebagai pahlawan super yang berpihak kepada kebenaran.

Baca juga: Video Viral Itu Kuasa Tuhan, Tapi Bisa Dikondisikan

Memang nyatanya masih ada segelintir orang yang peduli dengan superhero Indonesia yang kian tak ada kabar. Yuk, bangga sama mereka sebagai karya yang mencerminkan kearifan budaya Indonesia dan ngasih contoh yang baik buat generani penerus bangsa lewat cara yang berbeda.

image credit: uniqpost.com