Featured

Udah Bukan Zamannya Perempuan itu Gaptek (2)

“Technology is a road less traveled.” – Sabrina Anggraini, founder Kultara.com

Masih tentang FemaleDev Summit kemarin, di sesi ketiga, tiga orang perempuan yang masih sangat muda menceritakan tentang tech startup yang mereka buat. Sabrina, misalnya, mahasiswi UGM yang membuat Kultara.com–sebuah situs crowdfunding untuk event-event pariwisata di Indonesia–mengaku terinspirasi membuat Kultara setelah mengikuti folklore festival di Malaysia.

“Di sana, ada satu tim Bangladesh yang cerita ke timku kalau setelah acara ini mereka mau ke Indonesia, untuk ikut festival di Kalimantan. Di situ, aku dan teman satu timku gak ada yang tahu tentang festival itu. Setelah aku cari tahu, ternyata di Indonesia ada banyak banget festival kebudayaan dan pariwisata, tapi gak banyak orang yang tahu. Dan salah satu alasan kenapa gak banyak yang tahu adalah mereka kekurangan dana untuk promosi.”

Selain itu, ada Leonika dari Surabaya, founder BlooBIS (BloodBank Information System)–sebuah aplikasi yang menghubungkan rumah sakit dan PMI untuk memperlancar supply chain kebutuhan darah di Indonesia–dan Elsa, lulusan Fasilkom UI yang membuat Analisis Pilpres, aplikasi layanan web yang memberikan analisis terhadap calon presiden dan wakil presiden 2014 lalu di media sosial. Ketiga cewek ini memilih bidang teknologi karena technology is a road less traveled, sehingga banyak opportunity yang bisa digali. Selain itu, dampaknya juga scalable dan bisa mengubah perilaku manusia.

Terakhir, panel FemaleDev Summit 2015 ditutup dengan high tea chat bersama tiga orang perempuan entrepreneur kreatif, yaitu Putri Tanjung (founder Creativepreneur Event Creator), Hanifa Ambadar (founder dan CEO FemaleDaily Network), dan Nixia (professional gamer dan founder Nixiagamer).

Hanifa Ambadar, yang awalnya cuma suka nge-blog, di tahun 2005 mulai serius mengembangkan blognya menjadi bisnis media.

“Bisnis itu butuh proses. Tantangan membangun online media adalah konsistensi, karena mengumpulkan konten itu gak gampang. Intinya, gak ada sesuatu yang instan,” kata Hanifa.

Baca juga: Udah Bukan Zamannya Perempuan itu Gaptek (1)

Header image credit: tim Ziliun.com