Story

Sanny Gaddafi: Gagal Membangun Social Network dari FUPEI hingga Beautiplan (1)

Selama ini, media dan berbagai acara hobi banget sharing tentang “kisah sukses” para founder atauentrepreneur: apa yang bikin mereka berhasil. Nyatanya, yang sukses itu sedikit banget dibandingin sama yang gagal. Jarang yang benar-benar tahu gimana cerita kegagalan mereka. Inilah yang melatarbelakangi rangkaian talkshow Startup #MoveOn.

Sanny Gaddafi bisa dibilang adalah “veteran” di dunia startup teknologi Indonesia, bahkan sebelum orang-orang tahu apa itu startup. Waktu dulu anak-anak muda masih bertestimonial ria di Friendster, Sagad (panggilan akrab Sanny Gaddafi) bahkan udah mulai membangun social network pertama di Indonesia, bernama FUPEI (Friends Uniting Program Especially Indonesian).

Image credit: dailysocial.net

FUPEI sempat punya lebih dari 200.000 member, dan Sagad berusaha menjual user base itu ke beberapa brand, tapi tidak terlalu berhasil, karena profil penggunanya terlalu general. Sebelum pemberitaan dimana-mana penuh dengan berbagai startup yang mendapat investment, tanpa ada yang tahu, FUPEI sempat mendapatkan pendanaan 1 juta dolar dari investor asing, tapi pendanaan itu dicabut akibat krisis subprime mortgage. Ujung-ujungnya, FUPEI malah jadi “portfolio“ Sagad untuk mendapatkan proyek-proyek dari perusahaan lain.

Baca juga: Kata Para CEO Startup Tentang Modal Berinovasi

Lulusan Binus ini pun gak berhenti sampai di situ. Setelah gagal di FUPEI gara-gara gak fokus ngerjain berbagai proyek lain, Sagad mencoba bikin social network yang lebih segmented yaitu bundagaul.com. Dari namanya aja, udah kelihatan kalau kali ini adalah startup untuk para Ibu. Bundagaul.com yang dibangun Sagad mulai memberikan penghasilan, melalui pemasangan iklan dari merek-merek yang menargetkan para Ibu. Tapi, lagi-lagi Bundagaul.com tidak berjalan mulus, karena bagi Sagad pribadi, ia membuat bundagaul.com simply atas tuntutan pasar, sementara Sagad sendiri bukan seorang “Bunda”.

“Ini pelajaran bahwa bikin startup gak cuma tentang bikin aplikasi, tetapi butuh partner yang mengisi,” jelas Sagad.

Social network ketiga yang dibikin Sagad adalah yang dibilang benar-benar berbuah positif. Startup itu adalah SixReps.com, jejaring sosial untuk para pecinta fitness. Startup ini dibangun Sagad bersama Denny Santoso, yang sudah lumayan dikenal sebagai fitness expert. Belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya, di SixReps Sagad berusaha lebih fokus dan timnya juga lebih teliti melakukan riset pasar. Kredibilitas para founder-nya membuat SixReps gampang dapat investasi, tapi sialnya, setelah sekian lama berjalan (dan sempat mengikuti pameran di luar neger), SixReps tutup justru akibat visi founder dan investor yang kurang cocok.

“Ada jenis investor yang cuma tag along, keinginan berkembangnya gak seagresif kita.”

Baca lanjutannya di: Sanny Gaddafi: Gagal Membangun Social Network dari FUPEI hingga Beautiplan (2)