Story

Q&A: Valencia Mieke Randa, Sebarkan Nikmat Berbagi Melalui Blood for Life

Kalau kita gak bisa bantu orang karena gak punya uang, gak punya tenaga, dan sebagainya, kita tetap bisa bantu, karena kita punya darah. Saya rasa ini kesempatan bagi semua orang bisa merasakan nikmatnya berbagi.

Setiap manusia diberikan hati nurani untuk berbuat kebaikan. Tidak sedikit orang di luar sana yang rindu nikmatnya berbagi, namun masih bingung kepada siapa mereka bisa memberikan pertolongan.

Hari ini (09/04), Ziliun mendapat kesempatan wawancara dengan seorang wanita yang berhasil menjembatani mereka yang butuh dan ingin memberikan pertolongan. Ialah Valencia Mieke Randa, yang sejak tahun 2009 membentuk kegiatan sosial bernama Blood For Life (BFL) sebagai wadah penghubung bagi pendonor dan orang yang membutuhkan donor melaui media sosial. Melalui kesempatan ini, wanita yang dikenal melalui akun Twitter @justsilly menceritakan tentang gerakan sosialnya, yang berasal dari panggilan hati.

Image credit: femaledaily.com

Sejak dulu pernah kepikiran gak kalau suatu saat Mbak akan membuat dan memimpin berbagai gerakan sosial?

Dulu saya hanya berpikir untuk menjadi wanita karir yang sukses, kaya. Kebayangnya ya perempuan hebat gitu ya.

Namun, ketika saya sudah mendapat semua fasilitas yang saya peroleh dari pekerjaan, saya mencoba mencari tahu apa sih makna saya diciptakan di dunia ini. I found the answer that I need to help others, karena saya merasa bahagia saat hidup saya berharga untuk orang lain.

Panggilan hati yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan semua fasilitas yang saya dapat di pekerjaan saya, serta karir yang menjanjikan banget. Sejak itu saya pikir uang bukan segalanya buat saya. Harta itu bisa dicari. Bahkan saya rasakan sekarang, Tuhan kasih saya melebihi apa yang saya perlukan.

Baca juga: Mengubah Dunia Dengan Hashtag, Percaya?

Mengapa memilih membuat gerakan sosial yang mendukung aktivitas donor darah?

Ketika saya menemani Ibu saya cuci darah, ada seorang Ibu yang kehilangan nyawa karena tidak mendapat donor. Saya ngerasa, “Duh… di luar sana pasti ada jutaan orang nih yang rindu untuk mendonorkan darahnya tapi mereka ga tahu siapa yang bisa mereka tolong”.

Sementara, there are a lot of people crying for help. Akhirnya saya mulai mendirikan Blood for Life ini untuk menjembatani orang yang butuh cuci darah dengan orang yang rindu mendonorkan darahnya, karena saya tahu betul–saat itu tahun 2009–bagaimana susahnya cari darah.

Kalau kita gak bisa bantu orang karena gak punya uang, gak punya tenaga, dan sebagainya, kita tetap bisa bantu, karena kita punya darah. Saya rasa ini kesempatan bagi semua orang bisa merasakan nikmatnya berbagi.

Mengapa Mbak Valencia memilih social media untuk menyebarkan gerakan?

Saya melihat hampir semua orang punya social media, kenapa gak saya pakai social media ini, untuk menjembatani orang yang rindu berbuat baik itu dengan orang yang membutuhkan. Kedua, karena tahun 2009 itu, ada suplai darah 1 juta kantong per tahun, sedangkan kebutuhan darah itu 4,5 juta kantong per tahun. Jadi ada 3,5 juta orang yg harus meninggal karena gak dapet donor. Padahal di luar sana, di akun-akun social media itu, banyak yang ingin membantu. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat platform ini.

Baca juga: 5 Inovasi Sosial yang Mengubah Dunia

Bagi Mbak sendiri, apa sih tantangan terbesar sebagai seorang perempuan pemimpin?

Sebagai female leader dalam gerakan sosial, tantangan terbesarnya adalah bagaimana membangkitkan terus-menerus semangat untuk berbagi dan melayani, karena tidak semua orang punya semangat seperti itu. Kadang-kadang mereka awalnya saja panas-panas di depan, habis itu berhenti. Sebagai leader harus berusaha untuk bisa mengembangkan inovasi-inovasi menarik, supaya mereka tetap bisa bertahan.

Kedua, yang ada di gerakan sosial itu kebanyakan perempuan. Karena perempuan itu pada dasarnya moody, mereka butuh hati yang bisa jadi pendengar yang baik untuk dirinya sendiri. Kalau kita sudah bisa rangkul perempuan, ya laki-lakinya juga gampanglah haha.

Banyak perempuan yang masih takut untuk speak up dan berkarya karena tertahan oleh stereotipe perempuan di masyarakat. Apa pendapat Mbak mengenai ini?

Begini, kuncinya adalah perempuan itu harus sadar kalo kita itu mungkin bukan atap, melainkan tiang yang menyanggah atap-atap ini. Kalau tiangnya rapuh otomatis atap akan roboh. Rumah itu akan indah kalo tiangnya megah, kuat, kokoh. Jadi kalau negara ini memiliki perempuan yang berani, negara ini akan menjadi negara yang megah, kuat, kokoh. Negara yang luar biasa.

Kalau dari segi uang, dari segi materi, laki-laki lebih hebat ya. Kita gak bisa pungkiri bahwa kodrat kita perempuan, lebih banyak menggunakan hati. Tapi itu kelebihan buat perempuan, karena hanya orang yang punya hatilah yg bakal bisa menggerakkan gerakan-gerakan sosial yang besar di Indonesia ini.

Baca juga: Bahkan Penggiat Gerakan Sosial Juga Butuh Uluran Tangan

Header image credit: haltonhealthcare.on.ca