Story

Q&A: Pepita Gunawan, Merombak Cara Pandang Terhadap Teknologi Pendidikan

“Para orang tua tidak perlu menakuti teknologi karena dapat membuka wawasan anak-anak kita. Tapi seharusnya para orang tua bersedia untuk mendidik dirinya sendiri mengenai teknologi tersebut, hingga dapat membantu anak-anaknya memanfaatkan teknologi dengan bijak.” – Pepita Gunawan.

Belakangan perkembangan teknologi begitu pesat. Nggak heran sih kalau banyak pihak yang memanfaatkan bidang teknologi untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Sayangnya setiap stakeholder yang terlibat dalam pemanfaatan teknologi di bidang pendidikan itu punya cara pandang yang berbeda. Berikut adalah perbincangan singkat Ziliun dengan Pepita Holy Gunawan (Google for Education, Indonesia Lead) tentang pendidikan, dan pemanfaatan teknologi dalam kemajuan pendidikan Indonesia.

Apa yang melatarbelakangi Mba Pepita punya concern yang lebih terhadap dunia pendidikan? Apakah karena ada pengalaman di masa lalu?

Aku tuh dari dulu penasaran banget, kenapa sih Indonesia ini sudah kaya raya alamnya, banyak penduduknya, tapi ga maju-maju. Kupikir-pikir, karena manusia di Indonesia ini terbiasa untuk take things for granted. Sepertinya kebanyakan manusia di Indonesia ini tidak sadar atau tidak punya awareness bahwa semua yang kita sedang nikmati ini hanyalah sementara. Apalagi kalau tidak dijaga, atau disia-siakan. Semuanya hilang dengan cepat. Kenapa yah pada tidak punya awareness tersebut? Ya alasannya karena mereka tidak dididik untuk menyadari hal tersebut. Pendidikan adalah akar dari permasalahan yang Indonesia hadapi saat ini. Tapi, pendidikan yang seperti apa?

Pepita di Google Edu Summit. Image credit: dok. Ziliun

Menurut Mba Pepita, apa itu pendidikan dan apa output yang sebenarnya dari pendidikan?

Nah ini sekalian meneruskan jawabanku sebelumnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan (/pen·di·dik·an/ n) adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Kata kuncinya di sini adalah “pengubahan”. Jadi, output dari suatu pendidikan adalah adanya sebuah perubahan dalam diri seseorang yang menjalaninya. Jika tidak ada, maka artinya orang tersebut tidak terdidik atau dididik dengan baik.

Baca juga: Kenapa Berburuk Sangka Pada Teknologi?

Melihat pendidikan Indonesia yang ada saat ini, apa pendapat Mba Pepita?

Sangat gregetan. Potensi pendidikan di Indonesia itu sangat besar, dapat menjadi kendaraan yang membawa bangsa kita menjadi hebat dan dihormati oleh bangsa-bangsa lainnya. Tapi lihat, setelah 70 tahun merdeka, bangsa kita sudah menjadi bangsa yang hebat belum?

Lalu, bagaimana sistem pendidikan seperti apa yang ideal untuk Indonesia? Adakah alternatif terbaik untuk sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini?

Sistem pendidikan yang ideal itu yang di mana semua stakeholders itu peduli, mau turun tangan dan bersatu hati mendidik dan dididik menjadi bangsa Indonesia yang lebih baik. Yang dimaksud dengan stakeholders adalah siswa, guru, orang tua, pemerintah dan masyarakat sekitar. Tanggung jawab pendidikan itu ada di tangan kita semua.

Saya rasa yang dicari bukanlah sebuah “alternatif”, tapi solusi bagaimana menggerakkan semua stakeholders yang saya sebutkan di atas untuk berpartisipasi aktif dalam mendidik dan dididik. Bagaimana menumbuhkan kesadaran di setiap orang tua, anggota masyarakat baik yang memiliki anak maupun tidak, setiap anak usia sekolah, dan anggota pemerintahan bahwa ada satu tujuan yang hendak dicapai bersama, yaitu menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang hebat. Dan setiap stakeholder ini dibutuhkan untuk melakukan bagiannya masing-masing untuk mencapai tujuan tersebut.

Baca juga: Inovasi Gak Selalu Harus Canggih

Penekanan dari sebuah institusi yang mengemban tugas mendidik harusnya di pembentukan karakter siswa, guru dan orang tua siswanya. Sekolah menjadi tempat belajar semua stakeholder terlibat. “pembelajaran karakter” yang sekarang sedang dilakukan di sekolah menurut saya tidak efektif, bagaimana mungkin anak dapat dibentuk karakternya semata melalui membaca buku pelajaran?

Menurut Mba Pepita, bagaimana teknologi bisa membantu pendidikan Indonesia menjadi lebih baik? Apa yang bisa teknologi berikan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia menurut Mba?

Bisa. Teknologi itu adalah alat/kendaraan agar sekolah dapat mencapai tujuannya, yaitu menciptakan anak-anak yang kognisi dan karakternya berubah menjadi lebih baik ketika lulus dari sekolah tersebut. Kendaraan seperti apa, itu dapat menentukan berapa cepat sekolah akan mencapai tujuannya. Ilustrasinya, jika kendaraan itu adalah mobil bobrok, ya lebih lambat mencapai tujuannya. Atau mungkin tidak mencapai tujuan. Jika kendaraan itu adalah pesawat jet, tentunya lebih cepat mencapai tujuan. Sama dengan teknologi. Tiap sekolah menentukan tujuan / gol / visinya setiap tahun, dan teknologi dapat mempercepat (atau memperlambat) pencapaian tersebut.

Dari pengalaman Mba Pepita sebagai Google for Education Indonesia Lead, seperti apa tantangan dan hambatan yang harus dihadapi ketika mengajak institusi pendidikan dan juga masyarakat memanfaatkan teknologi untuk pendidikan?

Mindset barrier. Halangan cara berpikir / cara pandang. Setiap stakeholder memiliki cara pandang yang berbeda-beda soal pemanfaatan teknologi. Guru, sebagai digital immigrant (pengguna baru teknologi), memandang teknologi sebagai momok yang menambahkan beban kerja. Siswa, sebagai digital native (pengguna teknologi sejak lahir), memandang teknologi sebagai bagian dari keseharian dan hiburan. Orang tua, memandang teknologi sebagai sesuatu yang ditakuti. Manajemen sekolah, melihat teknologi sebagai sesuatu yang mahal yang tidak dapat dilihat return on investment-nya.

Padahal, yang namanya teknologi itu sudah seharusnya digunakan untuk memudahkan hidup manusia, asal ada kesediaan dan keterbukaan untuk belajar sesuatu yang baru. Jika itu menyusahkan, menurut saya itu teknologi yang salah. Tentunya di awal harus ada usaha dan waktu yang diinvestasikan untuk mempelajari hal baru tersebut.

Para orang tua tidak perlu menakuti teknologi karena dapat membuka wawasan anak-anak kita. Tapi seharusnya para orang tua bersedia untuk mendidik dirinya sendiri mengenai teknologi tersebut, hingga dapat membantu anak-anaknya memanfaatkan teknologi dengan bijak.

Baca juga: Andreas Senjaya: Bermanfaat Melalui Teknologi

Manajemen sekolah harus merombak cara pikirnya mengikuti perkembangan jaman, jika hendak melakukan perubahan maka harus dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif. Return on investment harus dilihat dalam jangka waktu panjang, memperhitungkan hal yang terlihat (tangible, misalnya: jumlah uang yang dihemat) dan hal yang tak terlihat (intangible, misalnya: lulusan sekolah kita menjadi lebih siap menghadapi universitas, atau dunia kerja).  

Image credit: prasetya.ub.ac.id

Dampak positif seperti apa yang sudah mulai bisa dirasakan dari kontribusi bidang teknologi terhadap pendidikan Indonesia, menurut Mba Pepita?

Pada prinsipnya, teknologi seharusnya memudahkan kehidupan manusia, bukan menyulitkan. Teknologi sudah mulai dimanfaatkan oleh berbagai institusi pendidikan di Indonesia. Dampak positifnya adalah misalnya institusi dapat menghemat uang, waktu dan tenaga untuk hal-hal yang biasanya dilakukan secara manual. Penghematan kertas, karena tidak perlu mencetak dokumen. Mengurangi pekerjaan para administrator IT untuk hal-hal keseharian, hingga dapat diberikan fokus / proyek lain yang lebih penting. Teknologi itu juga seharusnya memudahkan pekerjaan guru dan siswa, dapat belajar / mengajar kapan saja dan di mana saja. Jika ada teknologi yang malah mewajibkan guru / siswa membeli / menggunakan device tertentu, atau mewajibkan guru / siswa mendekam di sekolah jika hendak terhubung dengan sistem di sekolah, saya rasa itu teknologi yang menyulitkan hidup dan tidak sejalan dengan tujuan pemanfaatannya yaitu memudahkan hidup dan mempercepat pencapaian tujuan.

Bagaimana masyarakat awam bisa berkontribusi untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik?

Dengan cara berperan aktif mendidik dan dididik di dalam setiap kesempatan. Siswa memang menghabiskan separuh waktunya di sekolah. Jikalau selepas sekolah beliau pergi ke warung hendak membeli rokok, masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam turut serta mendidik beliau sebagai anak bangsa dengan tidak memperbolehkannya membeli dan mengkonsumsi rokok. Masyarakat, seperti saya dan Anda, juga sudah seharusnya membuka diri terus menerus untuk tetap dididik, yaitu misalnya melalui mengikuti kursus keterampilan tertentu, atau belajar dari internet. Dengan begitu, kita semua terus menerus terdidik sesuai perkembangan jaman, dan dapat mendidik anak-anak kita dengan lebih baik.

Baca juga: Bagaimana Teknologi Memberdayakan Kampung

Header image credit: imrodmartin.com