Story

Q&A: Nila Tanzil, Literasi Untuk Lentera Anak Bangsa

“Kalau lagi di Jakarta, saya juga seringkali melihat foto-foto anak-anak di Taman Bacaan Pelangi. Melihat raut wajah mereka yang gembira dan berbinar-binar saat melihat buku, itu sudah menjadi semangat tersendiri bagi saya.” – Nila Tanzil

Muda, energik, berjiwa sosial. Siapa yang nggak suka? Ialah Nila Tanzil, pendiri Taman Bacaan Pelangi (TBP), sebuah yayasan untuk menumbuhkan literasi anak bangsa bagian Indonesia timur. Selain aktif menjadi aktivis sosial, ia juga tengah memimpin Travel Sparks, bisnis travel yang masih hangat, didirikannya untuk mengombinasikan traveling dan volunteering.

Dari kesempatan chit-chat Ziliun kali ini, perempuan berambut pendek ini nggak segan membagikan cerita tentang betapa bahagianya ia mendorong mimpi anak-anak di pelosok hanya dengan sebuah buku.

Image credit: travelsparks.co

Sejak dulu pernah terpikir tidak, kalau suatu saat akan mendirikan dan mengelola NGO?

Sebenarnya dari dulu memang sudah terpikir untuk mengelola NGO. Sejak jaman kuliah saya sudah aktif berkegiatan sosial, mengunjungi panti-panti asuhan, dan lain-lain. Jadi memang sudah terpikir bahwa suatu saat nanti saya ingin mendirikan sebuah yayasan sosial.

Bagaimana awalnya Mbak Nila menjadi concern dengan literasi di Indonesia Timur? Mengapa taman bacaan, dan mengapa Indonesia Timur?

Awal berdirinya Taman Bacaan Pelangi (TBP) adalah saat saya bekerja sebagai konsultan komunikasi untuk sebuah institusi konservasi dan berbasis di Labuan Bajo, Flores. Karena hobi traveling, saya menyempatkan diri pergi ke desa-desa pelosok di Flores dari situlah saya melihat kondisi kehidupan masyarakat setempat yang sangat sederhana. Fasilitas dan infrastruktur sekolah sangat terbatas. Tidak ada listrik ataupun air bersih. Akses buku pun nyaris tidak ada. Saya nggak bisa membayangkan masa kecil saya tanpa buku. Oleh karena itulah saya terpikir untuk membuat taman bacaan, supaya anak-anak yang tinggal di desa-desa terpencil juga bisa menikmati buku cerita yang menarik untuk menghiasi masa kecil mereka. Seperti saya dulu.

Baca juga: Diajeng Lestari: Menjadi Entrepreneur Tanpa Kubikel Gender

Saya percaya, pendidikan adalah salah satu faktor kunci kesuksesan sebuah bangsa, dan buku merupakan salah satu komponen di dalamnya. Buku bisa membuka cakrawala dan memberikan inspirasi kepada anak-anak untuk bermimpi besar. Mimpi inilah yang akan menjadi motivasi mereka untuk menjadi sukses. Semua itu berawal dari buku.

Kalau ditanya mengapa memilih Indonesia Timur, menurut saya daerah-daerah di Indonesia Timur  masih “tertinggal” dengan segala keterbatasan infrastruktur. Akhirnya, masyarakat yang tinggal di desa pelosok akan semakin “tertinggal”, baik dalam hal informasi, ilmu, dan sebagainya.

Image credit: images.jurnal.asia

Dari memimpin NGO ke memimpin bisnis Travel Sparks, apakah “formula” leadership yang Mbak Nila terapkan sama? Apa yang berbeda?

Sama saja. Formulanya leadership yang saya terapkan adalah professional, and always do the right thing!

Dengan berbagai kegiatan sosial dan bisnis yang Mbak Nila jalankan, bagaimana cara meng-empower diri sendiri supaya purpose dan semangat gak pernah surut?

Dengan sering-sering pergi ke “lapangan” dan berinteraksi langsung dengan anak-anak dan masyarakat setempat, setiap kali berkunjung ke lokasi TBP dan berbincang-bincang dengan anak-anak, semangat saya langsung tumbuh berlipat ganda.

Baca juga: #ziliun17: Travel Blogger Indonesia

Kalau lagi di Jakarta, saya juga seringkali melihat foto-foto anak-anak di TBP. Melihat raut wajah mereka yang gembira dan berbinar-binar saat melihat buku, itu sudah menjadi semangat tersendiri bagi saya.

Menurut Mbak, apa kelebihan perempuan ketika ia menjadi pemimpin dibandingkan laki-laki?

Perempuan lebih peka atas hal-hal yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Saat perempuan bekerja, ia bekerja tidak hanya menggunakan otaknya, namun juga menggunakan hatinya.

Bagi Mbak sendiri, apa sih tantangan terbesar sebagai seorang perempuan pemimpin?

Ngga ada sih.. Menurut saya laki-laki dan perempuan sama saja. Namun stereotype di masyarakat itulah yang membedakan pemimpian pria dan pemimpin perempuan. Padahal menurut saya kemampuan kita juga sama.

Namun, ketika perempuan sudah berkeluarga, itu juga merupakan tantangan tersendiri karena ia harus bisa membagi waktu antara karirnya, organisasi yang ia pimpin, sambil juga mengurus rumah tangga dan keharmonisan keluarga serta membesarkan anak-anaknya sesuai dengan nilai-nilai & values yang ia anut.

Apa pesan Mbak Nila untuk perempuan Indonesia yang ingin menjadi pemimpin?

Pesan saya adalah: jika anda memiliki mimpi, kejar dan raihlah mimpi tersebut (if you have a dream, go and get it!)! It’s better to fail than not trying. Dan yang terpenting juga adalah always do the right thing!

Baca juga: #ziliun21: Women Who Shape Indonesia Today

Header image credit: unsplash.com