Story

Q&A: Dimas Jayasrana dan Institut Francais Indonesia, Budaya Asing Sebagai Pemicu Self-Critic

Penasaran gak sih sebenarnya, kenapa pusat-pusat kebudayaan asing, seperti Goethe Institute (Jerman), Institut Francais Indonesia (Perancis), British Council (Inggris), Atamerica (US), Erasmus Huis (Belanda), dan lain-lain aktif mengadakan program-program budaya serta pendidikan bahasa?

Ziliun mendapat kesempatan ngobrol dengan Dimas Jayasrana, Wakil Atase bidang Artistic (Budaya) dan Audiovisual di Institut Francais Indonesia.

Mengapa penting bagi masyarakat untuk mempelajari budaya Perancis?

Gua akan lebih bilang, kenapa sih penting untuk bicara kebudayaan, mau Perancis mau Eropa atau Amerika, budaya secara luas. Ya, karena itu core dari manusia, ya. Peradaban itu gak bisa berjalan tanpa ada kebudayaan kan, tanpa ada proses di mana satu kelompok manusia itu memiliki sebuah pola, memiliki sebuah keunikan dari pola-pola yg mereka ciptakan, berdasarkan pengaruh-pengaruh dari demografinya, geografisnya.

Budaya itu sesuatu yg dinamis, dia selalu berubah, tapi dia punya core, dia punya inti, dia punya essenceTapi pada dasarnya, kenapa penting mempelajari, mengetahui kebudayaan, secara keseluruhan, masalah Perancis atau gak Perancis udah gak penting. Itu hanya kemudian masalah titik yang lo mau pelajari aja. Mempelajari sebuah kebudayaan adalah mempelajari diri sendiri sebenarnya. Orang yang hidup belahan dunia lain itu seperti apa sih? 

Konflik-konflik yang sekarang di semua belahan dunia terjadi, ternyata itu hasil dari sebuah ironi besar, sinisme besar, betapa sebenarnya jendela-jendela pengetahuan itu semakin terbuka berkat teknologi, tapi orang semakin narrowBeberapa bulan yang lalu, ada sekelompok orang meruntuhkan patung karena dianggap musyrik, dianggap porno, dianggap apapunlah. Oke, it’s a crap art. But it’s not that. It’s not musyrik. Itu kan narrow. Kemudian menjadi penting, kita belajar kebudayaan. Kalau bisa mengalami, mencicipi. Kalau masalah Perancis, ya jawabannya bagi aku ya Perancis, ya Afrika, ya Inggris, ya Amerika, semua.

Jadi, buat aku pertanyaan pertama ini, mempelajari budaya ini penting. Masalah Perancis gak Perancis, it’s secondary.

Kenapa sih orang-orang tertarik belajar tentang kebudayaan asing?

Aku balik ke statement-ku yang pertama bahwa curiousity akan sesuatu yg asing itu adalah human nature. Bayangkan ketika lagi macet-macet ada motor serempetan berantem, kita berhenti dan nonton. Dan kita gak nolong. Kita cuma ngelihat, ada apaan tuh? Curiousity, semua berangkat dari situ.

Baca juga: Ketika Budaya Radikal Makin Menjual

Tapi tidak semua orang punya curiousity itu. Malah banyak yang mejadi antipati dengan curiousity itu. Makanya kemudian muncullah chauvinisme. Gue yang paling hebat, gue gak perlu tahu yang lain. Chauvinisme akan melahirkan fasisme. Islam-islam radikal itu ya itu, mereka gak perlu merasa tahu bahwa ada fenomena lain, ada alat gerak budaya lain, yang lo gak bisa seenaknya bilang mereka salah dan gue bener. Nah, kenapa orang-orang tertarik, itu di-trigger oleh satu essence dari manusianya: curiousity.

Kalau kemudian kita masukin ke sesuatu yg lebih spesifik, motifnya banyak menurutku. Kalau di IFI misalnya, aku secara random kadang ngobrol sama siswa IFI. Banyak yang aku temui ketertarikan mereka berangkat dari sebuah curiousity yg aku bilang mendasar. Oh bahasa Perancis romantis. Apa yang lo suka dari Perancis? Menara Eiffel.

Aku sering bilang sama mereka, why you spend your money and time for that? I mean, kan ada internet, kalo cuman itu yang mau dikejar. Maksudnya, kalo cuma di surface, gitu lho. Ini gue gak business-wise ya ngmongnya. Kalo business-wise kan gue gak peduli.

Nah, aku selalu mengingatkan ke banyak orang kalo belajar bahasa itu harus belajar budayanya. Bahasa lahir itu kan atas perilaku. Orang Indonesia kebanyakan ya namain lokasi, sebuah tempat itu berdasarkan momentum yang ada di tempat itu. Rawabambu, itu dulu rawa bambu. Sekarang udah gak ada rawanya tapi tetep namanya Rawabambu.

Bahasa itu juga sesuatu yg dinamis, dan itu pingpong antara realitas yang berlaku saat itu dengan root yang ada. Dimodifikasi, dibikin ulang segala macem jadi bahasa alay. Bahasa alay, itu sebenarnya bukan bahasa baru lho. Itu bahasa lama, cuma tidak masif.

Nah, kita makanya sering mengingatkan ke temen-temen yang gue kenal, murid-murid di sini, bahwa gak masuk akal lo belajar bahasa Perancis tapi tidak mempelajari budaya Perancis. Nah, banyak yang gue temui bahwa keperluannya sekadar di surface itu, tapi ada juga yang mereka secara interest memang ingin mempelajari bahasa, dan yang punya kebutuhan profesi juga banyak.

Bagaimana kita bisa mendidik orang dengan lebih baik lewat budaya?

Dialog. Hanya dengan dialog. Gini, IFI ini bikin banyak program seni, teater segala macem, konser. Buat aku memaknainya, ini bukan sekadar Perancis nih pamer, ini Perancis punya hal keren. Gak. Aku ingat, ada sebuah pertunjukan teater kontemporer, ada temen-temenku yang nonton, setelah itu kami makan malem bareng, dan mereka bilang gini, tadi keren banget, tapi buat gue itu bukan sesuatu yg baru. Mereka ngomong ke aku gitu. Oke, lalu apa yang menurut lo menarik?

Baca juga: Ketika Kosakata Baru Membentuk Budaya Baru

Mereka bilang gini, “Kita, orang Indonesia, jarang sekali melihat hal-hal sepele, yang sebenarnya itu bisa menjadi sesuatu yg menarik”. Pementasan itu menunjukkan hal-hal sepele, tapi mereka mampu mengemas. Tapi kalau ngomong kebaruan, gak ada kebaruan. Di sini ada, tapi orang gak melihat itu sebagai sesuatu yg penting untuk dibahas, Ini kan menarik, akhirnya muncul diskursus, gitu lho. Sebenarnya buat gue yg bikin itu menarik adalah ketika itu bisa memunculkan self-critic.

Apa yang IFI berusaha capai dari mengadakan program-program kebudayaan untuk audience Indonesia?

Itu adalah bagian dari dialog. Kebudayaan dari seluruh dunia ya, baik yang melalui IFI, Goethe Institute, misi utama mereka tuh misi diplomasi. Diplomasinya kedutaan sama kita tuh agak beda. Kedutaan tuh lebih politis, directive ya. Kalau di sini tuh yang lebih bermain di wilayah yang abu-abu, ngambang. Floating area. Jadi dengan menampilkan pertunjukan-pertunjukan, IFI nih berharap orang jadi pay attention nih soal Perancis.

Intinya sih IFI ini mencoba bilang ke publik Indonesia, eh gue tuh kayak gini. What do you think? Dan kebetulan konselor kami, dia orang yang sangat terbuka ya, dari tahun pertama aku kerja, bahwa kita gak lagi coba menunjukkan kita nih superior. Ga ada persoalan seperti itu. Yang kita mau tunjukin adalah, nih kita punya ini, dan lo juga punya sesuatu yang hebat.

Bahkan di pusat kebudayaan kayak IFI pun ada keroncong. Why do they spend budget for keroncong?

Yang namanya dialog kan dua arah. Aku bilang sama kolega-kolega Perancis bahwa, gue gak akan bisa terima kalau kerja-kerja kita tuh hanya satu arah. Kita kolaboratif. Tapi, yang perlu diingat, kolaborasi tuh gini, gue punya kartu, lo punya kartu, kita bukan cuma sama-sama taruh kartu di meja, tapi dua kartu ini harus menghasilkan value.

Baca juga: Mencapai Persamaan Gender = Mengubah Budaya

Header image credit: perancis.guru