Story

Q&A: Dhyta Caturani, Membebaskan Diri dari Belenggu Patriarki

“We can never be free until every single person is free.” – Dhyta Caturani

If we search the name Dhyta Caturani on Google, kita akan menemukan bahwa perempuan ini terlibat dalam berbagai kegiatan aktivisme, mulai dari isu kesetaraan gender, hak-hak asasi manusia, keadilan sosial, hingga seksualitas. Mbak Dhyta telah mendirikan berbagai macam kolektif, dan sebagai Project Coordinator di Engage Media, ia selalu mendorong para aktivis untuk mengutilisasi media alternatif untuk menciptakan perubahan. Di tengah kesibukannya, Mbak Dhyta menyempatkan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan Ziliun mengenai female leadership di Indonesia.

Dhyta (kanan) bersama rekan aktivis Kartika (kiri). Image credit: thejakartapost.com

Bagaimana awalnya Mbak Dhyta menjadi sangat concern dengan isu-isu kesetaraan gender dan human rights?

Saya lahir dalam keluarga kelas menengah. Tidak kaya tapi cukup. Saat saya masih kecil, saya tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur dan menempati rumah besar, fasilitas tempat Ayah saya bekerja.

Di sebelah rumah ada pabrik rokok yang sudah tidak beroperasi dan di sana tinggal beberapa keluarga miskin. Saya berinteraksi dengan teman-teman sebaya melalui jendela rumah saya di lantai 2. Mereka tak sekolah. Saya bertanya pada Ibu saya mengapa mereka tidak sekolah, dan Ibu saya menjawab karena mereka miskin. Saat saya tanya mengapa mereka miskin, Ibu saya hanya menjawab bahwa saya akan mengerti bila saya dewasa nanti.

Momen itu melekat hingga saya dewasa dan semakin terjustifikasi dengan apa yang saya lihat di sekitar saya. Ada ketidakadilan di semua aspek hidup kita. Dan ini semua adalah man made atau buatan manusia, sehingga saya kemudian yakin ini bisa di-undo. Itu sebabnya saya menjadi aktivis. Saya ingin ikut membuat perubahan. Sekecil apapun itu.

Untuk isu perempuan, tentu saja lebih mudah bagi saya karena saya perempuan. Melihat dan menyaksikan kekerasan terhadap perempuan, diskriminasi, dan ketidaksetaraan membuat saya bisa lebih merasakan dan memahami.

Baca juga: Mahasiswa = Agent of Change? Tanya Lagi

Bagaimana teknologi bisa membantu menyebarkan kepedulian dan memperbesar dampak terkait isu-isu tersebut?

Teknologi digital yang ada kini mempermudah penyampaian pesan, untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran orang lain like never beforeTeknologi juga membuat kita bisa mengemas pesan dalam bentuk yang lebih beragam dan menarik.

Itu sebabnya saya mendorong lebih banyak perempuan, terutama aktivis perempuan, untuk memanfaatkan teknologi dalam mengekspresikan dirinya dan menyebarkan ide-idenya. The space and technology are there and they are so easy to accessSudah bukan saatnya kita mengatakan bahwa diri kita sebagai perempuan adalah gaptek seperti yang sering kita dengar. Terus bertahan dengan kegaptekan kita di era digital ini berarti kita memarjinalkan diri sendiri. 

Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah bahwa teknologi juga menghadapkan aktivis, dan terutama perempuan, pada ancaman baru online violence: cyber bullying, slut shaming, name calling, ancaman kekerasan fisik, pelanggaran privasi, pencurian data dan identitas, dan lain-lain. Bahwa benar semua kekerasan itu dialami oleh semua gender di ranah digital, tapi level dan karakter kekerasannya berbeda. Mungkin ini bisa menjadi topik yang bisa diangkat secara khusus hehehe…

Baca juga: How Will You Change The World?

How do you define feminist? Siapa saja yang termasuk feminist?

Feminists are those who believe in the notion that women are people too. Jadi siapapun yang percaya bahwa perempuan adalah juga manusia dan percaya bawah semua manusia adalah setara terlepas dari apapun gender dan seksualitasnya, dia adalah feminis. Akan lebih baik lagi bila paradigma itu ia sebarkan ke sekelilingnya. Sesederhana itulah makna feminis buat saya.

Dengan berbagai kegiatan aktivisme yang Mbak Dhyta jalankan, bagaimana cara meng-empower diri sendiri supaya purpose dan semangat gak pernah surut?

Saya selalu mengatakan pada diri saya sendiri: saya harus terus berjuang karena bila saya mati nanti saya ingin mati bahagia karena telah melakukan hal-hal kecil yang mungkin bermanfaat bagi sebagian orang atau masyarakat.

Selain itu saya percaya bahwa we can never be free until every single person is free. 

Tetapi saya juga memahami bahwa mejadi frustasi dan lelah adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Ketika itu terjadi, just pause for a moment, take a deep breath, recharge dan kembali lagi dengan semangat yang terbarui. Don’t take too long though hahaha…

Baca juga: Siapa Bilang Seniman Ga Bisa Bikin Perubahan?

Banyak perempuan yang masih takut untuk speak up dan berkarya karena tertahan oleh stereotipe di masyarakat. Apa sih katalis yang bisa membuat perempuan lebih berani untuk berkarya?

Saya sangat maklum bila masih banyak perempuan berpikir seperti itu. Kita dididik dengan cara yang sangat membedakan laki-laki dan perempuan, pun masyarakat masih melanggengkan nilai-nilai patriarki yang membatasi bahkan membelenggu perempuan dengan segala bentuknya. But again, what we have learned can be unlearned. Membebaskan diri kita sendiri dari nilai-nilai yang membelenggu itu yang paling pertama harus dilakukan. 

Bagaimana caranya tergantung masing-masing individu. Find that tipping point in your life. If you can’t do it by yourself, do it collectively. Melakukan sesuatu secara bersama-sama seringkali memberikan kita kekuatan yang lebih besar.

Image credit: obr-indonesia.org

 

Menurut Mbak, apa kelebihan perempuan ketika ia menjadi pemimpin dibandingkan laki-laki?

Dengan cara didik seperti sekarang, yang membentuk laki-laki dan perempuan memiliki karakter yang berbeda-beda, maka bisa saya bilang bahwa kelebihan perempuan ada pada kesabaran, empati dan endurance yang lebih besar. Laki-laki yang dididik dengan pola pikir maskulin bisa menjadi pemimpin yang seringkali mengandalkan kekuatan kekerasan dan pride yang terlalu besar.

Tapi saya ingin garis bawahi, di sistem masyarakat yang patriarkis, perempuan yang menjadi pemimpin tidak menjamin akan terpenuhinya hak-hak perempuan yang lain dan sebaliknya. Tapi menjadikan perempuan sebagai pemimpin adalah awal yang baik, sebagai affirmative action.

Baca juga: Mengubah Dunia dengan Hashtag, Percaya?

Bagi Mbak sendiri, apa sih tantangan terbesar sebagai seorang perempuan pemimpin?

Tantangan terbesar adalah pandangan orang yang sering merendahkan dan mengecilkan perempuan, seolah kita tidak punya kecerdesan dan kemampuan yang cukup untuk memimpin. Berbeda dengan laki-laki, hanya karena ia laki-laki, tak peduli seperti apa kemampuannya, orang akan secara otomatis mempercayainya sebagai pemimpin. Tapi selama ini, dengan menunjukkan kemampuan yang baik, orang akan pada akhirnya percaya pada kita. Meskipun kadang tetap ada yang ngeyel untuk tidak mau menghargai pemimpin perempuan. Tapi ya sudah, paling tidak kita tahu, orang-orang seperti itu adalah orang dengan cara berpikir yang belum terbuka dan outdated. 

Apa pesan Mbak Dhyta untuk perempuan Indonesia yang ingin menjadi pemimpin?

Always have the confidence and faith in ourselves and do not settle for less even when other people or the society says that our portions have been decided for us. Kita sendiri yang memilih dan menentukan mau jadi apa kita. Dan terus belajar dan bekerja keras untuk itu.

Terakhir, bangun rasa solidaritas dan empati terhadap orang lain. Sebab semua kerja kita akan semakin bermakna bila ada manfaatnya bagi orang lain.

Image credit: hdwallpapersfit.com