Opinion

Mahasiswa = Agent of Change? Tanya Lagi

“Cynics are – beneath it all – only idealists with awkwardly high standards.” ― Alain de Botton

Beberapa minggu terakhir, rame banget di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung, di mana mahasiswanya pada turun ke jalan. Kegiatannya sih sederhana, demo kepada pemerintahan Jokowi atas dasar suatu alasan masa depan negara sedang di ujung tombak. Gaya banget kan, mahasiswa sebagai generasi penerus, atau kerennya agent of change, unjuk gigi untuk menyadarkan pemerintahan yang dianggap lamban merespon gejolak sosial yang ada.

Tapi gue sendiri skeptis dengan agenda perubahan yang diusung. Bukan apa-apa, karena gue sendiri pernah mengalami fase menjadi mahasiswa dan pernah merasakan terbang tinggi karena digadang-gadang sebagai tumpuan masyarakat, tapi nyatanya untuk kegiatan akademis dan non-akademis sendiri, kita terkadang masih suka bermain kotor.

Gak salah sih dengan predikat agent of change itu, toh, emang sebagai makhluk berintelek wajar juga kalau kritis dan merasa punya andil terhadap perkembangan bangsa. Dan apa gunanya belajar bertahun-tahun, malah sampai jadi mahasiswa abadi, kalau tidak bisa banyak berbuat banyak untuk negeri?

Tapi sekali lagi, kita harus benar-benar melihat lebih dalam. Permasalahannya bukan sekadar turun ke jalan. Tapi, nilai dan kegiatan yang dibawa, apa masih suitable dengan situasi sekarang?

Baca juga: Program Sosial: Memang Peduli atau Kejar Eksistensi?

Dengan kecanggihan teknologi dan perkembangan masalah yang semakin rumit, apakah dengan berdemo bisa langsung mempengaruhi kebijakan negeri atau mengubah perilaku pemerintah dan masyarakat? Padahal, cara untuk mengkritisi pemerintah masih banyak. Daripada terus-terusan teriak kalau pemerintah ngaco, mending benerin diri dulu, masih ngaco atau engga. Lagian, lebih baik bertindak langsung ke lapangan dan bersentuhan dengan masyarakat, daripada nutupin jalan dan bikin kemacetan.

Sebab, kalau kegiatannya cuman sekadar demo, masyarakat awam yang dibayar dengan kaos, makanan, atau duit 20 ribu juga bisa. Berbekal bayaran, semua orang bisa melakukan hal itu. Tapi emang pemerintah dan masyarakat bakal denger keluhannya? Berapa persen dari kegiatan demonstrasi yang berhasil mengubah atau mendorong keluarnya kebijakan? Kecuali, demo itu dilakukan dengan kekuatan penuh, mirip pada zaman lengsernya Soeharto, ya, people power is undeniable.

Baca juga: Esensi Gerakan Online: Cause-nya, Bukan Tools-nya

Apalagi untuk hal-hal paling simpel di kampus aja, banyak kecurangan dilakukan: titip absen, markup harga untuk event, tugas nyontek atau plagiat, black campaign pemilu BEM, dan hal lain yang menjadi cikal bakal generasi korupsi. Di dalam film Gie juga ditunjukkan seorang mahasiswa bernama Jaka, yang begitu berhasrat untuk beraksi, ternyata malah melakukan penyimpangan idealisme saat bekerja di pemerintahan. Pejabat pemerintahan yang dulunya aktivis ’98 aja korupsi lho!

See kan, kalau ternyata predikat mahasiswa sebagai agen perubahan perlu didefinisikan ulang. So, gak perlu sok suci bahwa dengan turun ke jalan, kita setara dengan aktivis bersih. Kalau dilihat, mahasiswa mampu menjadi sosok yang paling idealis hanya karena minim akses kekuasaan. Coba aja kalau dekat dengan kekuasaan, berapa banyak mahasiswa ambisius yang bakal terjerat tindakan korupsi.

Pada intinya, prinsip idealis perlu dipegang karena itulah harta yang hanya dimiliki kaum muda. Namun, terlalu mendewakan peran mahasiswa sebagai agent of change masih perlu dipertanyakan, karena kegiatan yang dilakukan kebanyakan mahasiswa masih belum memiliki pengaruh yang signifikan bagi perkembangan negeri. Justru, banyak mahasiswa yang gak terlalu peduli dengan politik, tapi bisa bikin kegiatan sosial yang berdampak. Daripada turun ke jalan malah bikin emosi pengguna jalan yang lainnya lebih baik bikin kegiatan yang terasa langsung manfaatnya. Jangan jadi mahasiswa agent of change di mana satu-satunya “perubahan” yang dibikin adalah jalanan lancar yang jadi macet.

Baca juga: Idealisme, Kemewahan Terakhir yang Hanya Dimiliki Pemuda?

Header image credit: pojokafimisme.blogspot.com