Featured

Ketika Kosakata Baru Membentuk Budaya Baru

Entah kapan dan siapa yang memulai awal dicetuskannya kosakata baru dalam kitab suci pergaulan. Sebut saja kepo, mager, PHP, baper dan banyak lagi. Jujur gue sendiri pun suka pake kosakata ini buat bercandaan sekarang.

Mungkin pengguna kosakata ini bukanlah korban iklan, bukan pula korban pergaulan. Simply mempermudah anak muda menggambarkan how they are feeling right now. It’s not a big problem anyway…. sampai ketika kosakata itu membentuk budaya baru yang sesuai dengan makna di dalamnya.

Let’s take a look.

Baca juga: Cari Waktu yang Tepat? Yakin?

Ketika lo bilang “Ah elo, gitu aja baper. Gue cuman becanda kok.” Kata ini digunakan untuk orang-orang yang selalu bawa perasaan. Sedikit aja serius nanggepin sesuatu dibilangnya terlalu ngambil hati, sensitif. Padahal mungkin aja orang yang “baper” itu bawaannya emang nature-nya suka take things seriously (which is good di berbagai situasi).

Hal lain juga, ketika lo pengen nyari tahu dan lebih concern pada sesuatu, dibilangnya kepo. Kepo adalah kata yang digunakan untuk orang yang wanna know something banget sampe ngorek-ngorek informasi dari mana saja. Imbasnya buat orang-orang yang sebenernya peduli, tapi ga mau dibilang kepo, jadi malah membatasi curiousity dan kepedulian mereka. Padahal mungkin aja nature mereka itu, orang yang investigatif.

Baca juga: How People in The Past Imagine The Future

Ada lagi kosakata slang lain yang masuk dalam kategori galau, Pemberi Harapan Palsu (PHP). Sebutan ini digunakan untuk orang-orang yang hanya memberi pengharapan kepada orang lain tanpa kepastian. Padahal, mungkin aja orang itu visionary, punya visi yang besar dan punya rencana besar untuk merealisasikan visi tersebut. Orang-orang udah berekspektasi tinggi, terus gak kesampaian, karena simply belum kesampaian aja. Akhirnya orang kayak gini pun dibilang PHP.

Kalo kita pakai kata-kata itu buat ngasih label ke orang-orang sekitar, termasuk diri sendiri, maka ga heran dong kalau kosakata itu tanpa kita sadari membentuk budaya baru di dunia kita, kayak contoh di atas. Iya, kalau kosakata itu punya implikasi bagus buat kita sendiri. What we say is what we do. Dunia dulu terasa lebih tentram sebelum ada kata-kata yang dibikin hanya supaya ada label untuk segala hal.

Udahan deh sekarang kita kurang-kurangin kosakata itu sebelum budaya ini turun ke generasi kita selanjutnya.

Baca juga: Masih Zaman Pilih Work Smart atau Work Hard?

Header image credit: teachercreated.com