Insight

Industri Kreatif Indonesia dan Inggris, Apa yang Berbeda?

“Fear and creativity don’t mix well.” – John E. Pepper, former CEO of P&G

Coba gue tes, di sini sekarang siapa coba yang gak tahu film Harry Potter, sitkom Mr. Bean, fashion brand Burberry, atau penyanyi pop yang sekarang masih duduk manis di tangga musik dunia seperti Adele atau One Direction.

Yap, pastinya semua udah pada tau. Pada ngeh gak, kalau semua yang gue sebutkan tadi adalah buah kreativitas orang-orang British atau yang biasa kita sebut Inggris?

Satu kata buat industri kreatif mereka, gila. Mereka punya segudang ide yang emang udah gak diragukan lagi kegilaannya. Bukan cuma gue aja yang mengakui hal ini, tapi juga seluruh dunia. Jadi, kalau ditanya ke mana kiblat industri kreatif dunia sekarang? Jawabannya pasti gak akan jauh dari negara ini. Analoginya, industri kreatif di Inggris seperti kebun binatang dan subsektor industri kreatif di Inggris itu macannya. Kebun binatang mereka punya banyak macan yang mengaum dan merajai subsektor industri dunia.

Baca juga: Industri Ilustrasi Dalam Negeri, Riwayatmu Kini

Kita juga sebenarnya bisa kok punya banyak macan kayak Inggris. Lagipula, kita punya segudang potensi dan pasar yang lebih besar. Terus apa bedanya?

Creative Hub

Menurut gue, orang kreatif di Indonesia, dan pihak yang peduli terhadap kemajuan industri kreatif itu, sebenarnya banyak. Sayangnya, belum banyak creative hub yang menyatukan mereka semua. Hal ini tentunya sulit ketika kita lagi mandek ide, terlebih kalau kita pengen kreativitas dijadikan ladang pendapatan. Majunya lebih enak bareng-bareng, toh?

Gue sempet baca di beberapa sumber kalau creative hub di Inggris jumlahnya sangat banyak dan masing-masing menjalankan fungsinya: community building yang tujuannya mengkapitalisasi sumber daya di MediacityUK atau Roundhouse, event show case yang tujuannya bukan sekadar pameran biasa tapi juga untuk menarik investor dan pasar, dan terakhir, kolaborasi. Kolaborasi tempat, pelaku industri, teknologi, sumberdaya, dan lain-lain. Tujuannya ya buat open sharing agar ekosistem itu bisa terbentuk.

Baca juga: Game di Indonesia, Sekarang dan Akan Datang

Stakeholder yang saling mendukung

Selain itu, stakeholder di sana juga berperan aktif dalam membenahi industri kreatif di sana. Khususnya peran pemerintah. Walaupun Inggris dan Indonesia sama-sama merupakan dua negara di dunia yang mengelola industri kreatif di tingkat kementerian, badan ekonomi kreatif mereka udah berjalan cukup lama dan cukup serius. Selain membentuk ekosistem kreatif, pemerintah Inggris juga serius mengembangkan aset kreatif mereka sebagai penyumbang pendapatan negara dengan memberikan Skill Investment Funds kepada setiap pelaku industri kreatif.

Dalam konteks ini, kita emang kalah start dari Inggris karena badan yang khusus mengurus ekonomi kreatif di negara kita baru muncul setelah pergantian kepala negara. Tapi, daripada main salah-salahan siapa yang menjadi kambing hitam permasalahan industri kreatif kita, lebih baik coba kita evaluasi diri kita sendiri dulu deh.

Apa kita selama ini udah mengonsumsi produk lokal? Kalau orang Inggris dan pemerintah sana memakai citra underground sebagai ikon kebanggaan, apa kita sendiri udah memakai lambang Garuda sebagai simbol kita? Kalau orang Inggris bangga kemana-mana bawa atau pakai merchandise bendera mereka Union Jack, apa kita juga seenggaknya bangga pakai busana merah putih buat jalan-jalan ke mal? Think again.

Baca juga: Salah Kaprah Ekonomi Kreatif Indonesia

Header image credit: photoeverywhere.co.uk