Story

Indorunners, Melarikan Kaum Urban Indonesia

“The reason we race isn’t so much to beat each other… but to be with each other.” ― Christopher McDougall

Masih ingat hukuman apa yang paling sering diberikan ketika kita membuat kesalahan di sekolah dulu? Ya, pasti rata-rata menjawab lari. Entah lari keliling sekolah 3 kali atau lari-lari kecil di lapangan 10 menit. Olahraga lari sering dijadikan momok bagi banyak orang.

Padahal, lari merupakan olahraga yang paling mudah dilakukan karena hanya bermodalkan sepasang sepatu olahraga, serta kondisi badan yang fit dan bugar. Jadinya, tidak menggembosi kantong. Fleksibel pula, karena bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Hal itulah yang membuat Reza Puspo terbesit untuk melakukan rebranding olahraga lari yang menyenangkan, dan menjadikannya sebagai bagian gaya hidup kaum urban. Berawal dari sebuah “lomba virtual” di situs sebuah brand alat olahraga, ternyata banyak orang yang tertarik pada ide iseng Reza sehingga akhirnya terbentuk komunitas lari Indorunners.

Baca juga: Nadine Zamira, Menghidupkan Taman Kota di Jakarta Lewat Kampanye Hidden Park

Image credit: dunialari.com

Untuk mendukung interaksi antar anggota komunitas, Reza membentuk wadah komunikasi di jejaring sosial untuk memudahkan anggota bertukar informasi mulai dari pelari pemula hingga profesional. Pada media sosial, Indorunners hingga saat ini berhasil mengumpulkan 25.000 lebih anggota di berbagai kota di Indonesia. Indorunners menyematkan visi bahwa olahraga yang selama ini bersifat individual, bisa jadi menyenangkan bagi siapapun jika dilakukan bersama-sama.

Komunitas yang dibentuk sejak tahun 2009 ini mulai menyebarkan virus lari dengan mengunggah foto lari mereka di media sosial, saling nge-tag satu sama lain dan menambahkan pagar #MariLari. Untuk meningkatkan antusiasme secara offline, mereka pun rela menggunakan kostum unik dalam lomba lari (dan tetap memakai nomor BIB pelari yang terdaftar resmi) untuk menarik antisipasi penonton serta menciptakan citra positif olahraga lari yang menyenangkan. Seperti berdandan ala lady rocker, Pocahontas, dokter bedah, dan masih banyak lagi.

Baca juga: No Stereotype, No Judging

Image credit: dunialari.com

Indorunners juga gak menyia-nyiakan kekuatan komunitasnya untuk menciptakan dampak, yaitu dengan aksi Lari Untuk Amal Sosial (LUAS). Aksi ini mengemban visi untuk “melarikan” orang Indonesia, dengan harapan bahwa lari bisa jadi gaya hidup yang diterapkan secara luas, seperti di Singapura. Aksi ini dikemas dengan format charity untuk menarik orang berkontribusi. Istilahnya, setiap kilometer yang dihasilkan peserta lari, diganti dengan sejumlah uang, yang dananya didonasikan untuk amal kepada pihak yang membutuhkan. Dalam menjalankannya, Indorunners menggandeng beberapa stakeholders yang berkomitmen menyediakan donasi ini.

Well… Indorunners bukan hanya menyadarkan kaum urban untuk hidup sehat, tetapi secara tidak langsung, telah menciptakan pola pikir masyarakat madani yang maju di mana kita tak seharusnya menyepelekan kesederhanaan, karena bisa jadi hal itu tidak sesederhana yang kita kira. Seperti halnya olahraga lari.

Baca juga: 3 Things “Moneyball” Teaches Us About Innovation

Header image credit: theguardianarms.com