Featured

Chicken-and-egg Dilemma di Perfilman Kita

[Film] is a complex, collaborative endeavor that gives rise to many different layers of rights that relate to different elements of a production, such as the screenplay, the music, the direction and the performances.

Suatu hari gue pergi ke bioskop untuk nonton film Indonesia. Jarang-jarang nih gue nonton film lokal. Kenapa kali ini gue mau nonton, alasannya karena film ini adalah debut penyutradaraan salah satu aktor ternama kita. Istilahnya, gue penasaran aja, akting lo kan udah bagus nih, beneran bisa nyutradarain juga gak sih?

Film yang tidak perlu disebutkan judulnya ini adalah film sejarah, dengan setting belasan tahun yang lalu. Trailer-nya sih promising. Pas nonton, akting pemainnya pada keren-keren. Hanya saja, IMHO yang gue sayangkan, film ini gagal mereplika gambaran belasan tahun yang lalu secara otentik. Contohnya, masih ada potongan-potongan rambut gaul zaman sekarang yang sekilas melintas di kamera, yang mestinya gak ada dong zaman dulu.

Gue pun ngomel-ngomel ke temen nonton gue, “Gimana sih film Indonesia? Gak serius banget bikinnya?”

Baca juga: Bangkitkan Kreativitas, Bangkitkan Film Indonesia?

Image credit: sp.beritasatu.com

Temen gue pun menjawab, “Eh, menurut lo aja, film-film drama serius kayak gitu penontonnya tuh dikit dibandingin sama film-film horor jahiliyah. Ngapain dia kasih effort dan budget lebih hanya supaya lebih sesuai dengan fakta sejarah? Pasarnya gak ada, toh? Daripada rugi, kan?”

Inilah yang bikin miris, yaitu chicken-and-egg dilemma dari industri kreatif kita, specifically gue ngomong tentang industri film. Mau bikin film bagus, pasarnya gak ada. Jadinya selamanya filmmaker bikin sesuatu yang crappy. Film yang masterpiece kayak Pendekar Tongkat Emas, return-nya gak nutupin biaya produksi yang bermilyar-milyar, simply ya, karena selera pasar mainstream belum ke situ.

Istilahnya, mana duluan ayam atau telur? Gak ada yang tahu kan jawabannya. Sama juga, duluan mana antara selera pasar atau kualitas film? Kalau selamanya kualitas film di-drive selera pasar, kapan kita berkembang? Kenapa gak bisa filmmaker dan production house yang berusaha nge-drive selera pasar?

Baca juga: Esensi Berkarya: Dapat Nama atau Bikin Perubahan?

Ya, ini pertanyaan yang sulit dijawab, dan gue hanyalah penikmat film yang kemudian berusaha beropini dengan sotoy. Tapi, gak mungkin kan kita ngebiarin 1) kualitas film kita standarnya gak naik, dan 2) filmmaker yang serius terus merugi.

Solusinya apa? Yang kepikiran di gue sih ada dua, either 1) filmmaker berusaha bikin film-film bagus yang low-budget, jadi tetep untung, tapi bisa ngebikin ripple effect untuk “naikin” selera pasar, atau 2) filmmaker mencoba alternatif revenue stream yang lain, selain penjualan tiket. Dengan kata lain, harus mulai ngelihat film gak cuma sebagai film, tapi sebagai intellectual property yang sebenarnya bisa diekstensi ke licensing, merchandising, dan lain-lain.

Udah waktunya kita semua inget, kalau movie is not just a movie. ‘It is a complex, collaborative endeavor that gives rise to many different layers of rights that relate to different elements of a production, such as the screenplay, the music, the direction and the performances,’ kalau kata World Intellectual Property Organization. Ya, bayangin aja, sepanjang apa kredit di akhir film yang menampilkan nama pasukan produksinya.

It’s about time, gak cuma penonton yang terus-menerus diajak menghargai film lokal, tapi juga filmmaker mulai menghargai karya sendiri. Go film Indonesia!

Baca juga: #ziliun17: Film Indonesia Pemenang Award Internasional

Header image credit: youtube.com/BagongChanel