Story

Card to Post, Intimasi Berpesan di Tengah Riuh Dunia Maya

Waktu kecil, kita mungkin sering atau pernah sesekali berkirim kartu pos dengan teman, saudara, atau ke redaksi majalah Bobo :p. Sekarang, kartu pos hanya jadi souvenir saat traveling, dijual di tempat-tempat wisata. Komunitas Card to Post kemudian muncul dan menyegarkan kembali bentuk komunikasi ini.

Komunitas yang dibentuk pada November 2011 ini didirikan oleh beberapa anak muda yang punya tujuan menghidupkan lagi pengiriman pesan melalui media kartu pos. Ga hanya berkirim kartu pos biasa, Card to Post juga mendorong para anggota untuk membuat sendiri kartu posnya dengan kreatif.

Aktivitas-aktivitas Card to Post awalnya dilakukan melalui cardtopost.blogspot.com. Di blog tersebut, semua orang bisa mendaftar menjadi anggota, lalu bisa memilih untuk mengirimkan kartu pos ke anggota lain. Daftar nama-nama anggota komunitas beserta profil singkatnya tersedia di blog; kita bisa memilih ingin mengirimkan kepada siapa. Jadi kita bisa punya, istilahnya, semacam sahabat pena.

Setelah 3 bulan berjalan, komunitas Card to Post mulai mencoba melibatkan masyarakat dengan program #1000kartuposuntukpresiden. Program ini mengumpulkan 1000 kartu pos dari anak SD sampai ke bapak-bapak dan ibu-ibu yang berisi pesan untuk presiden SBY, yang kemudian dipamerkan secara online pada hari ulang tahun SBY yang ke-63. Hasil dari program ini sangat unik dan variatif, mulai dari aspirasi, dukungan, hingga kartu pos yang isinya titip pesan buat Bu Ani :p.

Baca juga: Mengapa Harus Berkomunitas?

Setelah 1000 kartu pos untuk Presiden, apa lagi? Dengan basis anggota yang semakin besar–saat ini sudah ada lebih dari 3000 kartu pos yang terkirim oleh komunitas ini–Card to Post terus melakukan kolaborasi untuk mendukung program yang berhubungan dengan kreativitas, serta aksi-aksi yang melibatkan opini publik, lewat situs cardtopost.com.

Misalnya, tahun lalu mereka mengadakan aksi pengiriman kartu pos kepada walikota Yogya secara massal mengenakan kostum! Lalu, akhir tahun 2014, bekerjasama dengan Indonesia Corruption Watch, Card to Post mengadakan lomba desain kartupos bertema “Demokrasi Tanpa Korupsi” untuk merayakan Hari Anti Korupsi Internasional.

Kegiatan yang kelihatan norak dan ketinggalan zaman, kalau didorong kekuatan komunitas, ternyata bisa membuat dampak. If you want to go fast, go alone. If you want to go further, go together! Dan komunitas Card to Post telah membuktikan itu.

Baca juga: Kunci Membangun Komunitas Dari Founder Fotografer.Net

Header image credit: wanderingwrites.wordpress.com