Featured

Bikin Film Harus Berani Kayak Filosofi Kopi

“Gue nggak pernah bercanda soal kopi.”

Kalau ngomongin sustainability kekayaan intelektual film-film Indonesia, memang belum banyak success story yang bisa diangkat. 

Mira Lesmana sendiri bilang kalau kesuksesan pengembangan kekayaan intelektual menjadi game, merchandise, novel, sekuel, dan lain-lain itu tergantung kesuksesan filmnya. Ziliun sempat menulis tentang kesuksesan pengembangan kekayaan intelektual dari Ada Apa dengan Cinta (AADC) dan Garuda di Dadaku, yang memang didorong oleh kesuksesan filmnya.

Tapi, kalau dari awal sebelum yakin filmnya bakal sukses atau gak, filmmaker udah punya rencana bakal mengembangkan kekayaan intelektual kayak apa (apalagi bentuknya gak konvensional), itu baru filmmaker Indonesia yang keren! (karena di Indonesia jarang yang berani kayak gini).

Salah satu yang berani adalah Filosofi Kopi. Film yang diangkat dari novelnya Dewi Lestari ini punya confidence dan keberanian yang patut diacungi jempol. Dalam press conference Popcon Asia 2015 (30/07), Anggia Kharisma mengaku sejak awal sudah ingin menciptakan cinema experience yang gak main-main. Misalnya, dari awal saat pra-produksi, calon penonton diberi kesempatan menjadi “produser digital” dengan cara memberikan rekomendasi, mereka ingin film Filosofi Kopi dibuat seperti apa. Istilahnya, user-generated movie. Ini bentuk co-creation yang udah sering diterapkan berbagai brand, baik brand luar dan dalam negeri, tapi gak ada film Indonesia yang terpikir untuk melakukan ini juga, sampai Filosofi Kopi melakukannya.

Baca juga: Jualan Film Itu Gak Cuma Tentang Jualan Tiket Screening

Salah satu hal yang terbilang berani juga, adalah rencana filmmaker membuat kedai kopi Filosofi Kopi yang asli, in real life. Dalam wawancara bersama Rio Dewanto, pemeran Jodi dalam Filosofi Kopi, kedai kopi ini bukannya sebuah ide yang muncul saat filmnya sudah hits, tapi justru sudah dipikirkan matang-matang sebelumnya. Rencananya, kedai Filosofi Kopi malah akan dibikin di berbagai kota di Indonesia. Rio Dewanto sendiri tetap akan “berperan” sebagai Jodi di kedai kopi di kawasan Blok M, Jakarta ini.

Ini baru kreator yang berani dan gak setengah-setengah. Kalau cuma mau uang, ya bikin aja film horor yang isinya sex icon. Tapi kalau mau dapet uang, sekaligus ngasih cinema experience dan menginspirasi kreator lainnya, harus berani kayak Filosofi Kopi!

Baca juga: Kolaborasi, Kunci Bangkitkan Intellectual Property Dari Mati Suri


Popcon Asia 2015, festival budaya populer terbesar di Asia akan diselenggarakan kembali di Jakarta Convention Center, 7-9 Agustus 2015, menghadirkan komik, film, mainan, game, desain, dan animasi.


Header image credit: kurikuma.club