Opinion

Amerika VS China: Pendidikan di Ekstrem Kiri dan Kanan

Belum pernah ada peneliti dari institusi riset China yang memenangkan Nobel Prize. Bahkan, satu-satunya Chinese yang pernah memenangkan Nobel Prize, menempuh pendidikan tinggi di Amerika.

Di sebuah artikel Ozy.com berjudul Debunking The Shanghai Secret, penulisnya Quanyu Huang memberikan perbandingan antara sistem pendidikan di Amerika dan China. Dua negara ini bisa dibilang adalah negara besar: Amerika adalah negara adidaya yang menjadi kiblat di banyak industri, sementara China mulai mendominasi perekonomian dunia.

Image credit: theguardian.com

Ternyata, pada akhir 1970an, Amerika dan China pernah saling membandingkan sistem pendidikan mereka. Masing-masing mengirimkan tim ahli untuk menginvestigasi sistem pendidikan masing-masing. Dan masing-masing tim kaget dengan apa yang mereka temukan.

Tim ahli dari China kaget melihat pelajar-pelajar di Amerika yang bener-bener gak punya disiplin, nakal banget, sampai guru kadang harus memohon-mohon untuk diperhatikan. Kemampuan matematika dan sains dari murid-murid Amerika di sekolah dasar dan menengah juga kalah jauh dibandingkan murid-murid di sekolah China. Tim Ahli China pun menyebut pendidikan di Amerika sick beyond treatment.

Baca juga: 5 Quotes That Will Make You Rethink Education

Di sisi lain, tim ahli dari Amerika bener-bener kaget karena murid-murid di China bisa dibilang “terlalu disipilin”. Mereka duduk tenang di kelas, dan gak ada mata yang gak memperhatikan guru di depan. Belum lagi jam sekolah yang jauh lebih panjang, dan PR yang lebih banyak. Hasilnya, kemampuan matematika dan sains mereka jauh lebih tinggi. Tim ahli Amerika pun menyebut para murid di China sebagai¬†the most diligent in the world.

Tapi…

Tapi itu di tahap-tahap awal, alias sekolah dasar dan menengah. Ternyata, di masa depan, pendidikan Amerika yang katanya sick beyond treatment itu mampu menghasilkan berbagai inovasi dan penelitian yang punya dampak positif bagi dunia internasional.

Sementara, sistem pendidikan China kelihatannya gak membuahkan dampak yang signifikan. Nobel Prize, contohnya. Per 2014 lalu, belum pernah ada peneliti dari institusi riset China yang memenangkan Nobel Prize. Bahkan, satu-satunya Chinese yang pernah memenangkan Nobel Prize, menempuh pendidikan tinggi di Amerika.

Well, terlepas dari kemungkinan bahwa Nobel Prize mungkin aja adalah sebuah konspirasi, tetep aja ini sesuatu yang perlu kita pertanyakan. Kalau sistem pendidikan di Amerika bobrok, kenapa bisa melahirkan banyak ilmuwan dan inovator luar biasa?

Baca juga: Kalau Belajar Cuma Untuk Gelar, Balik Deh ke Abad 20!

Jawabannya (mungkin kalian udah tahu) adalah karena sistem pendidikan Amerika melatih independent thinking. Pendidikan Amerika gak ngasih murid-muridnya ikan, seperti yang China lakukan, tapi justru ngajarin murid-muridnya cara memancing.

Emang sih, ngajarin murid-murid cara memancing bakal makan waktu lebih lama daripada langsung ngasih ikannya. Makanya, di sekolah dasar dan menengah, murid-murid Amerika kalah jauh dibandingkan murid-murid China. Tapi, namanya investasi jangka panjang, ya hasilnya baru berbuah di masa depan. Murid-murid di China kebingungan pas masuk ke dunia nyata, karena selama ini cuma dikasih makan, sementara murid-murid di Amerika berhasil melahirkan berbagai inovasi karena dari kecil diajarin caranya memancing.

It takes two to tango. Masing-masing sistem punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Coba aja Amerika meningkatkan kemampuan murid-muridnya dalam matematika dan sains, sementara China lebih mendorong kreativitas dan pemikiran kritis ke murid-muridnya, dua-duanya bakal jadi jauh lebih baik, kan?

Ngomong-ngomong, Indonesia gimana, nih?

Baca juga: Ayo Dong Sadar, Ini Lho Cara Mendidik yang Bener Zaman Sekarang!

Header image credit: dianliwenmi.com