Story

Ainun Chomsun: Di Social Media, Tidak Ada Batasan Gender

“Tidak harus jadi pengusaha atau berkarir, dengan menjadi ibu rumah tangga pun bisa membuat karya hebat untuk keluarga dan masyarakat.” – Ainun Chomsun

Siapa yang tidak tahu tentang Akademi Berbagi? Gerakan sosial yang membuka kelas gratis dan juga mengangkat beragam topik seperti menulis, fotografi, jurnalistik, advertising, komunikasi dan masih banyak lagi. Peserta tidak dipungut biaya, guru tidak dibayar, tempat juga meminjam. Hingga 2015 ini, AKBER telah digelar di lebih dari 20 kota besar di Indonesia.

Image credit: indonesiaproud.wordpress.com

Dari chat singkat Ziliun dengan Mbak Ainun, founder dari Akademi Berbagi (AKBER), kita jadi tahu kalau Mbak Ainun memang sudah sejak lama tertarik dan aktif di gerakan sosial. Namun, awalnya Mbak Ainun nggak pernah kepikiran sama sekali untuk membuat AKBER.

Kegiatan kelas gratis yang dimulai pada Juli 2010 ini bisa lahir karena motivasi dari Mbak Ainun untuk bisa menyediakan tempat belajar dari para praktisi yang mudah diakses siapa saja. Nggak hanya itu, saat itu Mbak Ainun pun ingin belajar berbagai macam hal, tetapi sulit menemukan praktisi yang sesuai.

Baca juga: Sistem Pendidikan Indonesia yang Menyesatkan

“Kalaupun ada, itu juga harus membayar dengan biaya yang cukup mahal,” katanya.

AKBER sendiri dibangun dari social media, yaitu Twitter. Mbak Ainun pun mulai menemukan para guru dan murid dari Twitter. Dari situ, ia melihat potensi social media untuk menyebarkan gerakan sangatlah besar, apalagi negara Indonesia adalah kepulauan. Menurut Mbak Ainun, social media mempermudah komunikasi dan pergerakan ke berbagai wilayah.

Ketika masih banyak orang berpikir berulang kali untuk ikut berbagi kepada orang lain, Mbak Ainun punya cara jitu untuk meyakinkan para calon guru untuk berbagi ilmu di kelas AKBER.

Baca juga: Crowdfunding: Solusi Masa Depan Dunia Pendidikan

Image credit: fimela.com

“Saya membangun cerita bahwa berbagi itu bikin happy. Dengan berbagi kita bukannya berkurang, tetapi bertambah: tambah ilmu, tambah teman dan tambah pengalaman. Dari cerita itu bisa mempengaruhi banyak orang untuk kemudian mau berbagi dan menjadi volunteer.”

Saat diajak berdiskusi mengenai female leaders, Mbak Ainun menekankan bahwa teknologi bisa membantu perempuan untuk bisa “speak up”.

“Di social media semuanya sama, tidak ada batasan gender, pangkat, ataupun geografi. Yang penting memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi dengan baik. Jadi nggak perlu takut atau malu lagi, social media bisa menjadi ajang untuk aktualisasi diri tanpa batasan.”

Buat Mbak Ainun sendiri, sebagai seorang pemimpin perempuan banyak sekali tantangan yang dihadapi. Utamanya sih dari diri sendiri dan juga pandangan publik dalam memandang perempuan yang dianggap tidak setara dengan laki-laki. Namun, di sisi lain, perempuan juga punya banyak sekali kelebihan dibanding laki-laki: perempuan lebih telaten, ngemong, dan tahan banting. Menurut penelitian, perempuan lebih kuat dalam menghadapi berbagai guncangan dan permasalahan.

Baca juga: Muhammad Iman Usman: Bangun Pendidikan Berkualitas dengan RuangGuru.com

“Jangan takut dan malu, perempuan punya kekuatan luar biasa. Tidak harus jadi pengusaha atau berkarir, dengan menjadi ibu rumah tangga pun bisa membuat karya hebat untuk keluarga dan masyarakat. Jangan mau jadi perempuan gaptek, kuasai teknologi untuk membantu tapi jangan diperbudak teknologi. Karena banyak manfaat yang bisa diperoleh,” sambung Mbak Ainun.

Header image credit: joycefws.blogspot.com