Story

Andreas Senjaya: Bermanfaat Melalui Teknologi

#Ziliun30 adalah rangkaian 30 profil tech entrepreneur yang berusia di bawah 30 tahun, yang berpikir dan bermimpi besar, melihat masalah sebagai peluang, menjunjung tinggi kolaborasi, memahami kegagalan sebagai bagian dari proses, serta membuat terobosan strategi marketing dalam bisnis. #Ziliun30 merupakan kerjasama Ziliun.com dengan the-marketeers.com selama September 2014.

Ketika lelah menyapa, kala sibuk menghampiri, kuhujamkan selalu dalam hati, ‘Jay istirahatnya di surga aja’. Buat setiap detikmu bermakna, jadikan setiap nafasmu berarti. (Andreas Senjaya, Co-founder, UrbanQurban)

Berkurban adalah kewajiban bagi umat Muslim yang mampu, dan dilakukan satu tahun sekali pada saat hari Idul Adha. Akhir-akhir ini, kita mulai melihat banyaknya orang jualan hewan kurban, entah itu kambing atau sapi di pinggir jalan menjelang Hari Raya Qurban, tetapi karena kesibukan sehari-hari, beberapa orang tidak sempat atau bahkan lupa.

Sempat berpikir gak, kalau misalnya kita bisa berkurban tanpa harus dateng ke pinggir jalan tersebut, dengan kualitas hewan kurban yang bagus dan yang pasti kurban dapat disalurkan kepada yang membutuhkan. Dan semua hal tersebut bisa dilakukan dengan transaksi online?

Baca juga: Bikin Startup? Modal Uang Ngga Cukup! 

Sejak 2012 lalu, Andreas Senjaya sebagai CEO Badr Interactive, bersama D!Yours Human Centered Design (HCD) dan Twip Studio memdirikan UrbanQurban, yaitu platform berkurban secara online, lewat web dan aplikasi mobile. Dengan ide yang sederhana tersebut, Jay, panggilan akrabnya, mencoba berusaha membuat solusi agar sesibuk apapun, kita harus tetap menjalankan kewajiban berkurban tersebut. Nah lho, kurang baik apa coba.

UrbanQurban ini pun juga tidak hanya mendistribusikan hewan kurban, tetapi juga terdapat laporan hasil penyembelihan hewan kurban, lalu pendistribusian daging kepada yang membutuhkan. UrbanQurban juga selalu menjaga kualitas dari hewan kurban, bahkan sekarang UrbanQurban mempunyai standar internasional dan pengawasan mutu.

Baca juga: Kolaborasi atau Mati 

Andreas Senjaya (Dok. pri)

Menariknya, aplikasi UrbanQurban dikemas dalam bentuk game terintegrasi untuk membeli sampai merawat hewan kurban kita sampai hari H penyembelihan. Layaknya Tamagochi yang populer era 90-an. Bahkan, aplikasi UrbanQurban tidak hanya menerima penyaluran hewan kurban, tetapi sudah merambah ke program aqiqah, atau syukuran kelahiran anak.

Kalau subjektifnya sih, UrbanQurban bisa jadi contoh terbaik gimana teknologi jadi solusi untuk bikin hal yang tadinya super manual, jadi terintegrasi dengan aplikasi online. Proses pembelian, penyembelihan, distribusi hewan kurban – beribadah dan bersedekah jadi jauh lebih mudah dan terarah. Distribusi lebih menyeluruh, peternak lokal pun terberdayakan. Aplikasi kayak gini, pertama kalinya di dunia. Dan hasil karya anak bangsa kita!

Salah satu founding fathers-nya, Andreas Senjaya, lulusan Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Indonesia angkatan 2007 semasa kuliah adalah Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Utama Fasilkom dan Mapres 2 UI tahun 2010. Pria kelahiran 4 September 1989 mendirikan perusahaanI IT-nya sendiri, Badr Interactive, pada tahun 2011.

Wakil Ketua BEM Fasilkom 2010 dan Anggota Majelis Wali Amanat (MWA) utusan Mahasiswa 2011 ini selalu menanamkan nilai-nilai universal dalam semua karyawannya di Badr Interactive, yaitu bagaimana bisa bermanfaat melalui teknologi. Selain itu, values yang ditanamkan adalah selalu mengangkat kejujuran dan sosialisme.

Lingkungan di Badr Interactive pun dibuat demikian, setiap pekan seluruh karyawan dikumpulkan. Dan pada pertemuan pekanan tersebut diadakan sharing, brainstroming, dan komunikasi internal. Ini dilakukan agar keterikatan kekeluargaan dan hubungan satu sama lain semakin kuat. Dengan keterbukaan tersebut, jarak antara karyawan dan pimpinan bisa dihilangkan, semua bisa setara.

Baca juga: Menjadi Lebih Bermakna 

Pada awalnya Badr Interactive memang berfokus pada pembuatan aplikasi bernuansa islami, aplikasi pertamanya adalah Complete Quran. Setelah itu Badr rajin membuat aplikasi bertemakan islam dan Ramadhan. Kini, Badr tidak hanya membuat aplikasi bernuansa islami, tetapi aplikasi universal yang mempunyai manfaat spesifik.

Jay bersama founder Badr Interactive lain selalu percaya bahwa melalui misi dan visi yang mereka terapkan selama ini bisa dapat berjalan sukses. Jay berpikir bahwa tujuan yang terpenting adalah jangka panjang, bukan karena tujuan materi apalagi untuk jangka pendek.

Jay pun bersama Badr Interactive tidak berhenti sampai di sini, mereka menyiapkan aplikasi-aplikasi keren lainnya, yang semula dengan ide sederhana, menjadi aplikasi yang berguna di masyarakat.

Dalam kesibukannya menebar kebermanfaatan, kalimat inilah yang selalu Jay jadikan pedoman. Pesan Ibunda untuk seorang Andreas Senjaya, “Ketika lelah menyapa, kala sibuk menghampiri, kuhujamkan selalu dalam hati, ‘Jay istirahatnya di surga aja’. Buat setiap detikmu bermakna, jadikan setiap nafasmu berarti.”

Dan itulah yang benar akan dilakukannya.

Baca juga: Bikin Startup Bukan Buat Di-invest

Header image credit: badr.co.id