Opinion

Anak Seni dan Anak Sains, Norak Kalau Masih Berantem

Kita perlu bidang teknik dan sains untuk membuat sesuatu dengan presisi dan akurasi. Di sisi lain, kita juga harus memiliki kemampuan komunikasi yang bagus, cara menulis yang benar (lo tahu gak, banyak ide yang hebat di bidang sains dan teknik itu ga berkembang, karena penjelasan dan detilnya ga ditulis dan  ga disampaikan dengan jelas?), menggunakan imajinasi untuk menyelesaikan masalah, punya keberanian untuk agak “nekat” pada waktu tertentu.

Mungkin lo udah sering banget denger saran dari orang tua, guru, maupun keluarga lo tentang karir, terutama lo pada yang udah dihadapi dengan pilihan kuliah. Dengan asumsi itu, gue yakin mayoritas dari lo pasti entah dipaksa atau disarankan untuk masuk ke jurusan yang populer, seperti kedokteran, teknik, ekonomi, akuntansi, atau hukum (kayak gue dulu, disuruh milih kedokteran, padahal gue males sama mata pelajaran biologi).

Singkat cerita, yang namanya jurusan berbau seni, desain, ilmu sastra dan budaya, dan sosial yang kurang direkomendasikan pasti jauh banget dari benak dari generasi orang tua kita. Ini juga membuat gue skeptis bakal kerja apa dan di mana orang-orang di jurusan-jurusan tersebut. Pertama masuk kuliah, gue merasa agak tenang karena gue masuk ke jurusan yang cukup “aman” dan “jelas” kerjaannya bakal jadi apa.

Lalu, pertemanan gue mulai meluas. Dari yang cuma kenal teman sejurusan, fakultas, lalu mulai menyeberang ke fakultas lain. Di sini gue sadar bahwa sebenarnya semua ilmu itu berkaitan. Karena sistem pendidikan kita,  ilmu dikotak-kotakkan dan diberi sekat. Kalau eksak ya eksak. Kalau non-eksak ya non-eksak. Matematika ketemu Bahasa? Ya kali.

Baca juga: Esensi Berkegiatan Sebagai Mahasiswa: Cuma Buat Menuhin CV Nih?

Stereotip lama membuat anak non-eksak dan anak eksak jadi saling adu mulut. Yang seni bilang :

“Alah, anak eksak itu kaku, ga bisa diajak ngobrol seru, hidupnya flat. Ga ngerti indahnya hidup.“

Nah, yang anak eksak ngebales:

“Biarin gue ga ngerti hal-hal remeh temeh kayak musik underground yang jarang didenger orang, ataupun buku sastra yang bahasanya gue ga ngerti. Ga penting itu semua. Yang penting ntar gue pas kerja gajinya gede!”

Gue pernah terlibat dengan beberapa perbincangan tentang perpaduan ilmu. Ada seorang teman yang belajar Antropologi. Gue takjub dia ternyata menyelesaikan serial Cosmos, diadaptasi dari buku Carl Sagan, seorang astrofisikawan, yang notabene fisika banget.

“Menurut gue emang semua ilmu itu harusnya dikaitkan. Rencana S2 gue ngambil di bidang paleontologi. Gue pengen belajar fosil  dan pasti nyambung banget dengan  kuliah antropologi yang gue ambil sekarang. Dan sebenernya gue juga selalu tertarik dengan biologi.”

Ada juga seorang teman yang punya ide tulisan menggabungkan filosofi bahasa dan fisika.

Baca juga: Buat Apa Sih Kesenian atau Estetika Itu?

Image credit: askamathematician.com
Image credit: askamathematician.com

“Lo sadar ga sih candaan sehari hari kita itu nyambung dengan fisika kuantum? Gue kasih contoh nih, Schrodinger’s Cat. Itu kan intinya tentang kucing di dalam kotak, ada racun, dan semacam “pelatuk”, yang bisa ngebuat racun itu keluar dan  ngebuat kucing itu mati. Masalahnya, kita ga tau apa yang terjadi di dalam  kotak itu, jadi kucing itu bisa mati atau masih hidup. Sama kayak candaan, bisa jadi lucu atau engga. Hahaha.”

Mungkin ga pernah kebayang sama lo kalau biologi, geologi, sama antropologi bisa nyambung. Apalagi fisika dan bahasa. Dua contoh di atas hanyalah analogi yang mematahkan stereotip pengkotak-kotakkan ilmu. Sebenarnya, inovasi-inovasi pada zaman ini terdiri atas penggabungan ilmu yang kelihatannya ga bakalan nyambung. Contohnya nih, film-film yang efek dan visualnya keren abis. Kok bisa, padahal zaman dulu bikin animasi itu harus dengan berlembar-lembar kertas yang digerakkan secara manual biar gambarnya gerak? Itu hasil dari software engineering design yang menghasilkan CGI. Perpaduan antara teknik dan seni. Contoh lainnya juga pada bidang arsitektur. Gedung yang bentuknya unik bisa ga ambruk.

Istilah seperti creative programming  ataupun artistic engineering memang terdengar asing. Tren dahulu adalah, hanya bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang menjanjikan karir yang “jelas”. Saat ini, tren mulai bergeser menjadi bidang STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics).

Baca juga: Human Connection: Seni Meminta Tanpa Mengemis

Implementasi STEAM pada pendidikan bisa dengan mengajarkan gabungan materi teknis dengan soft-skill. Kita perlu bidang teknik dan sains untuk membuat sesuatu dengan presisi dan akurasi, bisa melakukan komputasi yang cepat, memiliki kerangka berpikir yang terstruktur agar dapat memaparkan fakta serta data secara tepat. Di sisi lain, kita juga harus memiliki kemampuan komunikasi yang bagus, cara menulis yang benar (lo tahu gak, banyak ide yang hebat di bidang sains dan teknik itu ga berkembang, karena penjelasan dan detilnya ga ditulis dan  ga disampaikan dengan jelas?), menggunakan imajinasi untuk menyelesaikan masalah, punya keberanian untuk agak “nekat” pada waktu tertentu, menjadi ekspresif agar ide kita dilihat dan didengar, serta memiliki rasa empati yang kuat; karena toh karya kita untuk dipakai orang lain juga kan?

Nunggu pendidikan kita jadi modelnya begini mungkin bakal lama banget. So why not start with your own self? Ubah mindset lo menjadi STEAM-oriented.  Coba lebih menghargai karya seni dan ilmu sosial supaya mengerti apa maksudnya (karena banyak pesan yang tersirat). Mungkin bisa jadi terobosan ilmiah baru buat lo, bagi anak eksak. Untuk anak seni, coba jangan melihat ilmu eksak sebagai sesuatu yang kaku banget, toh ilmu eksak adalah cara ilmiah untuk menjelaskan kehidupan sehari-hari dan fenomena alam dengan data faktual, agar bisa dicerna oleh masyarakat umum. Mungkin lo bisa ngebantu agar penyajiannya jadi lebih enak dilihat atau dibaca.

Header image credit: geardiary.com