Featured

Anak Muda Yang Ingin Ngerombak Pendidikan di Indonesia

Banyak mungkin dari kalian yang bertanya-tanya ketika udah gede, sebenernya kita sekolah itu gunanya buat apa sih? Banyak juga dari kita yang selama 12 tahun ternyata hanya menghabiskan waktu untuk menghafal. Alhasil setelah kita lulus dari tahap ke tahap lainnya, kita semua lupa apa yang dipelajari. 

Hal itu pula yang bikin PISA Score Indonesia di bawah banget di antara negara-negara di ASEAN. Daripada nyalahin pemerintah, mending kita bareng-bareng mikirin solusi buat dunia pendidikan di Indonesia. Solusi tersebut yang coba diurai dalam satu sesi yang saya datengin pas di SENYAWA+ yaitu The Era of Adaptive Learning pada 2 November 2019.

Sesi panel diskusi ini diisi oleh Ketut Yoga pendiri dari Kok Bisa Channel, Mas Sabda P.S dari Zenius Education, dan Mbak Cania Citta, Head of Content dari Geolive.id. Sesi ini dipandu oleh Brand Ambassador dari Generasi Melek Politik yaitu Aurelie Vizal.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita enggak bisa nyerahin semuanya ke pemerintah. Semua dapat berperan, termasuk para content creator. Ketut Yoga yang ngebangun channel Youtube Kok Bisa ngejelasin bahwa anak-anak memulai sesuatu dari mimpi. Penting banget buat anak-anak itu mengomsumsi inspirasi-inspirasi yang bener.

Kok Bisa, menurut Ketut ada di tahap kenalan. Tahap buat nge-trigger orang-orang yang bosen dengan gaya belajar di sekolah, bisa lebih tertarik buat belajar lewat konten-konten edukasi yang dipublish di Kok Bisa. Sebagai media, Kok Bisa pengen banyak lagi anak-anak yang menerima konten

Dari content creator, kita coba cari tau pandangan lainnya dari startup pendidikan. Co-Founder Zenius Sabda bilang rendahnya PISA Score kita itu karena kurangnya Accetance of Scientific Facts. Orang Indonesia seringkali tidak bisa menerima fakta fakta sains yang berseberangan yang kepercayaan dia dari pengalamannya. Kalau kamu nggak bisa menerima fakta-fakta sains gimana mau membuka pikiran kita terhadap ada fakta-fakta dunia yang lebih luas.

Mas Sabda juga nambahin, sebelum kita semua masuk ke tahap pengetahuan, ada tahap kecerdasan yaitu kemampuan memahami logika. Logika inilah yang harus dibangun dulu ke anak-anak sekolah.

Kemampuan memahami logika juga yang bikin masyarakat kita gampang kemakan berita palsu. Mbak Cania bilang “Dari jaman dulu itu udah ada hoax. Sayangnya orang kurang ada sense of respect terhadap pembuktian”. Nah tugasnya kita sebagai edukator, mahasiswa, entrepreneur atau siapa aja buat terus mengingatkan pembuktian ini sesimpel orang-orang terdekat.