Insight

5 Kenyataan pahit yang harus dihadapi startup founders

Menjadi seorang founder telah menjadi impian begitu banyak orang, namun hal tersebut bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan. Tentu ada begitu banyak tantangan yang harus dilalui untuk bisa mencapai kesuksesan seperti founder lainnya. Pekerjaan ini bukanlah hal yang dapat dicapai dengan cara instan maka kamu perlu juga mempersiapkan diri dengan berbagai kenyataan pahit yang harus dihadapi seorang founder, bukan hanya masalah keuntungan serta kesenangannya.

Kamu tidak bisa seenaknya dropout

Bill Gates dan Steve Jobs dropout dari universitas dan kemudian membangun usahanya hingga mencapai kesuksesan. Guess what, Kamu bukan Bill Gates atau Steve Jobs! Jika kamu dropout tanpa pikir panjang dan mengira startup kamu akan sukses, kemungkinan besar kamu tidak akan berakhir menjadi apapun. “Jika mau buat startup, maka kamu bisa dengan santai dropout” adalah pemikiran dangkal. Karena pada kenyataannya, Bill Gates, Steve Jobs, dan para dropout lainnya bukan keluar untuk santai. Mereka berdua tetap mengembangkan kemampuannya dan menyiapkan berbagai pertimbangan matang untuk terus belajar meskipun keluar dari universitas

Kamu harus menemukan motivasi kamu sendiri

Kamu harus bisa memotivasi diri sendiri untuk bisa terus berkembang dan bekerja keras demi mencapai misi atau tujuan utama dari startup kamu. Ketika kamu mulai merasa lemah dan putus asa maka tidak besar harapan untuk bisa sukses dengan bisnis tersebut. Apalagi untuk menjadi seorang founder di awal perjuangan pengembangannya, kamu akan lebih banyak bekerja sendiri untuk diri sendiri, sehingga kemampuan untuk memberikan semangat dan memotivasi diri sendiri agar tidak menyerah adalah kemampuan yang fundamental bagi seorang founder.

Kamu harus hilangkan kebiasaan menunda

Kebiasaan untuk menunda pekerjaan atau procrastination adalah kebiasaan yang banyak dimiliki orang semenjak masa sekolah. Kebiasaan ini selalu berakhir dengan kamu mengerjakan pekerjaan dengan terburu-buru dan berujung dengan hasil tidak maksimal. Kehidupan startup tidak memberikan ruang untuk hasil tidak maksimal. Seorang founder anti menunda pekerjaan yang bisa segera dilakukan, dan menentukan skala prioritas untuk segala kegiatan sehari-hari. Bahkan pada kenyataannya, seorang founder harus menerima tuntutan kesibukan, kedisiplinan dan konsentrasi yang lebih banyak dari pekerja-pekerja lainnya.

Kamu harus menemukan tim, dan itu sulit!

Seorang founder yang baik tidak mengerjakan semuanya sendirian. Kamu harus mampu mendelegasikan pekerjaan dan mampu membangun tim yang solid dan mampu bekerja sesuai apa yang diharapkan. Mengandalkan kemampuan tim bukan berarti kehilangan kemampuan pribadi, tapi memahami bahwa koordinasi yang baik sangat vital dalam pengembangan bisnis dan mencapai target-target yang telah ditentukan bersama. Menemukan mereka yang bisa bersinergi dengan baik tentunya bukanlah hal yang mudah untuk dicapai, tapi seperti pepatah If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together. Dan pada kenyataannya, menjadi founder berarti memainkan long game – We aim to go far!

Kamu harus berhenti puas.

Terlalu mudah puas ketika mendapatkan sedikit kesuksesan adalah salah satu dosa terbesar seorang founder. Kesuksesan-kesuksesan kecil bisa seperti pemantik yang terus menerus menyalakan api semangat, tapi kamu harus terus waspada agar tidak terbakar oleh api sendiri. Kita selalu punya pilihan setiap sukses itu datang. Apakah itu akan menjadi batu loncatan untuk kesuksesan berikutnya, atau membuat kita jadi terlalu puas, bahkan sombong. Mudah bagi seorang Founder untuk puas, terutama ketika kita telah berusaha keras dan merasa berhak atas sebuah kesuksesan. Nikmatilah kemenangan untuk sesaat, dan mulai rencanakan langkah selanjutnya!