Insight

5 DO’S ABOUT TEAM BUILDING

Sumber daya manusia adalah salah satu fundamental dalam menjalankan usaha. Usaha apa aja. Baik usaha yang orientasinya ke profit, usaha social movement, hingga usaha memajukan bangsa (misalnya melalui pendidikan). Saking pentingnya mengelola manusia, dosen gue pernah bilang,

“Manajemen SDM itu ada seninya sendiri. Kita ga bisa terpaku pada rumus atau aturan tertentu seperti ilmu eksak. Karena manusia itu dinamis, dan tidak bisa diperlakukan layaknya mesin.”

Seperti di artikel sebelumnya Startup Gagal Bukan Tanpa Sebab tentang penyebab gagalnya startup, salah satunya adalah salah pilih orang untuk kolaborasi.

Berikut adalah 5 do’s dalam membangun sebuah tim untuk kolaborasi:

  1. Karena kolaborasi tercipta untuk sebuah alasan

Apa alasan anggota tim berkumpul dan membentuk kolaborasi? Tentukan di awal, purpose apa yang akan dicapai. Apakah purpose itu akan memberikan banyak manfaat bagi user dan masyarakat? Purpose yang baik dapat juga dijabarkan melalui visi dan misi.

  1. Berunding, dan pilih satu orang leader yang kalian percayai

Mau berlayar dan menerjang ombak badai tapi ga ada nahkoda nya? Duh, jangan sampe kapal oleng ya kapten. Pilih satu orang diantara anggota tim yang sanggup mengarahkan kalian mencapai purpose tadi. Ga cukup cuma sanggup memimpin aja, tapi leader ini harus bisa mendapat kepercayaan penuh dari anggota tim. Because trust is a must. Kepercayaan itu pondasi dari team building.

Baca juga: 3 Tips dari Marshall Utoyo tentang Memilih Co-founder

  1. Kenali gaya kepemimpinan leader dan style anggota tim dalam bekerja

Kenapa ini penting? Karena kaitannya sama komunikasi serta alur informasi selama bekerja. Apakah leader lo itu orangnya selow tapi serius, atau tipe yang ga banyak omong, tapi tiba-tiba udah eksekusi, dan lain sebagainya. Semisal ternyata dari gaya kepemimpinan ini ga bisa berjalan dari dua arah (misal banyak terjadi miss comunication), artinya ada hal-hal yang ga efektif yang harus diperbaiki.

Temukan penyebabnya, kenapa hal ini bisa terjadi? Kemudian lakukan problem solving. Buat para leader, pastikan kalo anggota tim mengapresiasi apa yang udah lo delegasikan ke mereka. Jangan sampai, delegasi ini cuma jadi ‘beban’ sehingga ga bisa menghasilkan output secara maksimal. Para anggota tim harus ngerasain kalo delegasi ini bisa dikerjakan dengan cara yang menyenangkan. Emang bener, tiap pekerjaan pasti punya pressure dan risiko sendiri. Disinilah peran seorang leader untuk deliver tugas ke anggota tim sesuai dengan proporsi dan job description masing-masing. Yang jelas, hasilnya harus tetep maksimal. Intinya work smart, play hard.

Leader juga ga boleh asal bagi tugas aja ke anggota timnya. Seorang pemimpin yang baik musti ngerti kebutuhan para anggotanya, bisa menangani konflik internal, dan merangkul perbedaan. Kapan waktu yang tepat buat anggota tim bisa istirahat atau ngerasain have fun biar ga jenuh. Harus tahu kapan harus ngegas, kapan harus ngerem. Jangan di gas terus, nanti jadinya malah ga produktif.

Baca juga: 4 Co-founder yang Bisa Dijadikan Role Model Membangun Startup

  1. Jadikan tim lebih dari sekedar tim biasa

Maksudnya disini, ketika membangun tim, jangan jadikan para anggota tim sebagai media untuk mencapai tujuan. Perlakukan manusia selayaknya manusia. Jangan cuma dijadikan ‘alat’. Kalo lo paham sama penjelasan ini, artinya lo ngerti bahwa rasa persahabatan dan kekeluargaan harus dibangun dalam sebuah tim.

Gue punya sedikit cerita ketika diberi kesempatan untuk menjadi leader dari sebuah tim yang hebat. Hebat disini artinya, anggota dari tim gue emang expert dalam bagiannya masing-masing. Sampe gue kesulitan buat nanganin, bahkan sempet ngerasa jadi leader yang ga berguna. Akhirnya, perlahan gue mulai bangun komunikasi dua arah dengan memberikan feedback. Mencoba transparan dalam hal yang seharusnya para anggota tahu. Melakukan pendekatan personal ke semua anggota tim. Sampe mereka ngerasa nyaman dan malah ga ngerasa kalo gue ngelead mereka. Gue kaget ternyata cara ini efektif, bahkan sampai ada salah satu anggota tim yang dulunya sangat tertutup menjadi seorang yang aktif memberikan masukan demi kemajuan bersama. Rencana strategis yang dibangun bareng juga menunjukkan hasil yang bagus. Super excited nya lagi, tim hebat ini bisa 2 tahun berturut-turut dapet achievement jadi best division di organisasi yang gue geluti.

  1. Beri penghargaan, dan pikirkan cara lain selain hukuman ketika ada kesalahan

Setiap manusia pengen dapat pengakuan. Yang bilang ga pengen berarti bukan manusia. Pokoknya pengakuan ini udah di set default ada di tiap-tiap orang. Supaya pengakuan ini ga kebablasan, harus diiringi dengan sikap respect. Salah satu contoh dari pengakuan dan respect ini dengan cara memberi reward kepada anggota yang melakukan keberhasilan. Gimana kalo anggota tim melakukan kesalahan? Coba pikirkan cara lain selain memberinya hukuman. Masih banyak cara lain yang efektif untuk mengatasi error, selama kesalahan itu bukan kesalahan fatal yang udah ada konsekuensinya di dalam regulasi yang udah disepakati bersama.

Baca juga: Modal Bikin Startup: Cari Co-Founder yang Tepat