Insight

Ketika Mengatur Waktu Tak Lagi Ampuh, Apa yang Harus Diubah?

Oke, kita akhirnya sampai ke tahap kehidupan di mana pekerjaan menjadi hal yang paling banyak menyita waktu sehari-hari. Ketika sudah mulai mandiri dan punya tanggungan, tentu kita jadi ngejar target buat nambah pemasukan. Sampai-sampai, kadang jadi lupa punya waktu buat diri sendiri, apalagi buat kumpul sama keluarga atau teman-teman. Rasanya sih, udah mencoba buat manage waktu sebaik-baiknya, tapi nyatanya tujuh hari dalam seminggu masih kurang buat melakukan semua yang kita mau.

Permasalahan di atas adalah masalah yang gue banget. Gue gak akan melempar pertanyaan dengan kalimat pembuka “apa cuma gue yang…”Karena ENGGAK! Gue yakin masalah ini adalah masalah sejuta umat. Jadi gue mau mengajak lo buat membedah masalah kekurangan waktu supaya produktif dan menemukan apa yang harus diperbaiki.

Ketika kita ditarik dari berbagai arah, keluarga, kehidupan sosial, dan pekerjaan yang menuntut waktu dari kita, rasanya mengatur waktu jadi jawaban yang tepat. Contohnya, dalam satu minggu, gue memutuskan untuk menjatah 40 jam untuk bekerja, hari Sabtu untuk hangout, dan hari Minggu buat jadi anak yang berbakti. Tapi pada kenyataannya, pembagian waktu itu belum cukup efektif, bahkan cukup melelahkan jiwa dan raga. 

Setelah gue tilik lebih dalam, ternyata yang harusnya gue atur bukan waktu, namun energi. Pikirin, deh, waktu adalah satuan yang sudah pasti dan tidak bisa diubah, beda cerita dengan energi yang bisa bervariasi kualitas dan kuantitasnya. Jadi, gimana cara ngatur energi?

Tony Schwartz, CEO The Energy Project dan seorang psikiater anak dan remaja, Catherine McCarthy menjelaskan, energi yang kita rasakan berasal dari empat pilar utama, yaitu fisik, emosi, pikiran, dan spiritual. Untuk tau cara ngaturnya, pertama kita harus kenali empat pilar ini lebih dalam.

Energi Fisik
Gak jarang, kita melupakan kebutuhan dasar tubuh kita. Saking khusyuknya ngejar target, urusan perut jadi belakangan. Akhirnya, bukannya fokus yang naik, malah asam lambung yang naik! Belum lagi kalau tidur cuma empat jam dalam sehari. Sebagai tanda protes, tubuh kita akhirnya jatuh sakit. Kalau gak sehat, sudah pasti produktivitas juga akan ikut turun.

Intinya, kita harus resapi kembali quotes yang sering bertebaran di mana-mana, “My body is my temple”. Dahulukan segala kebutuhan tubuh kita, dan gue yakin energi yang diproduksi akan lebih berkualitas demi menunjang performa kita.

Energi Emosional
Tekanan dari atasan bukan hal asing bagi kita yang sudah berkecimpung di dunia pekerja. Udah diburu-buru si bos, eh rekan kerja malah ilang-ilangan dari tanggung jawab. Kalo udah kayak gini, bawaannya mau pecahin piring saja, biar ramai! Tunggu dulu, sebuah penelitian dari University of Western Ontario membuktikan bahwa mood yang positif akan meningkatkan kualitas performa kita.

Memang mudah diucapkan, sampai mungkin kita malah jadi kesel kalau dinasehati “Positive thinking aja..” Kenyataannya, manusia gak bisa mempertahankan pikiran positif terus menerus. Namun, ada kok cara untuk meminimalisir perasaan negatif yang mulai melanda. Tarik nafas dalam-dalam. Serius, hal ini memang terdengar sepele, tapi dengan menarik nafas secara perlahan dan berulang-ulang, kita akan rileks dan menghilangkan fight or flight response yang hinggap ketika berada di bawah tekanan.

Energi Pikiran
Kita mungkin sudah terbiasa melakukan multitasking, misalnya, sambil ngopi, sekalian nelpon klien, dan mengetik e-mail demi menghemat waktu. Tapi hasilnya malah sebaliknya, fokus kita jadi terbagi dan enggak maksimal dalam mengeksekusi apapun yang lagi kita kerjakan. 

Kalau sekarang kita masih sering mengangkat telepon dan mengecek e-mail di tengah meeting dan mengorbankan fokus, kita bisa coba atur ulang jadwal sehari-hari. Misalnya, gue udah terbiasa hanya akan cek e-mail secara aktif dalam 2 jam pertama gue masuk kerja, dan nggak akan kasih response di atas jam 5 sore. Dengan demikian, gue nggak akan buang energi memusingkan e-mail di saat gue sedang ada di sesi brainstorming.

Energi Spiritual
Manusia akan merasa terpuaskan secara spiritual ketika mereka mendapatkan sense of value and purpose. Dengan kata lain, kita akan jadi lebih produktif, fokus, dan menunjukkan performa terbaik ketika kita melakukan hal yang membuat kita merasa memiliki ‘harga’.

Coba lo inget-inget deh, hal apa yang paling lo kuasai, dan hal apa yang paling lo nikmati? Dua hal itu nggak harus jadi satu hal yang sama, bisa aja lo melakukan sesuatu dan mendapatkan banyak respons positif, tapi sebenernya lo nggak suka mengerjakannya. Di sisi lain, lo senang sekali ketika diberikan suatu pekerjaan, walaupun gak akan mendapatkan reward apapun. Yang mana yang membuat lo merasa lebih ‘berharga’? Pengakuan atas skill atau kepuasan tersendiri? Kalau udah tau jawabannya, kita bisa lebih fokus dalam mengerjakan hal tersebut, dan bisa mengeluarkan usaha terbaik kita.

Setelah kita paham soal energy management kita gak usah pusing mikirin gimana cara bagi waktu demi menyenangkan semua orang semaksimal mungkin. Kalau udah mahir, lo bisa  update CV dan ganti skill “time management” menjadi “energy management”, nih hehe.