Opinion

Kenapa Sih, Ribut-ribut Nyuruh Jadi Entrepreneur?

Sadar gak, kalau beberapa tahun ini, mulai banyak kampanye dorongan anak muda untuk berwirausaha, kayak event Young Entrepreneur Summit 2019? Bahkan, sudah ada tekanan sosial yang mulai menggeser persepsi ‘sukses’ hanyalah milik entrepreneur.

Gara-gara itu, sekarang sudah semakin banyak orang yang mau membuka usahanya sendiri. Tapi, sebaik apapun niat orang, biasanya adaaaaa aja komentar negatif yang muncul, jadi banyak orang yang diem-diem mikir, “Kalo semuanya jadi entrepreneur, yang kerja siapa?” Hmm, padahal sebenarnya kalau ada banyak entrepreneur di Indonesia, ada banyak banget manfaat yang bisa terasa, bahkan sampai tahap negara.

Iya, emang yang kebayang kalau jadi entrepreneur, keuntungan mengalir ke si pemilik usaha aja. Tapi tanpa kita sadari, impact yang diberikan dari setiap entrepreneur, sekecil dan sebesar apapun usahanya, sebenarnya memberikan efek domino. Loh, kok bisa?

Mendorong Inovasi Baru

Kata Dr. Ercan Ekmekcioglu dari Manas University dari para entrepreneur, banyak inovasi baru yang tercipta. Entrepreneur biasanya menemukan masalah yang dianggap ga praktikal dan mencari cara untuk bisa menemukan solusi yang lebih efektif baik dalam segi harga, waktu, dan lainnya.

Contohnya nih, selama ini apa sih yang ada di pikiran kita kalo ngomongin warteg? Mungkin terbesit bayangan kebersihan yang gak terjamin, manajemen keuangan yang gak karuan, dan lainnya. Peter Shearer adalah salah satu penikmat masakan warteg yang prihatin karena masalah-masalah itu. Nah, akhirnya, ia tergerak untuk berinovasi untuk bisa membantu para pemilik warung makan, termasuk warteg supaya bisa meningkatkan kualitas bisnis mereka! Dari inovasi ini, akhirnya banyak banget pemilik warung makan yang mendapatkan manfaat, mulai dari modal, standarisasi kualitas makanan, sampai ilmu menjalankan bisnis.

Read also: Bikin Warteg Naik Kelas, Startup Ini Wakili Indonesia di Ajang Google Demo Day Asia 2019

Membuka Lapangan Kerja

Ini udah jelas sih, ya. Kalau kita punya usaha, jelas kita butuh bantuan sumber daya manusia dan akhirnya, rekrut pekerja. Apalagi kalau ada suatu bidang yang benar-benar baru, niscaya bakal ada banyak banget jenis pekerjaan yang bisa diambil dan membantu untuk nurunin angka pengangguran.

Buktinya, pada tahun 1990-an–waktu IT masih bisa dibilang baru lahir–muncul banyak pekerjaan baru. Enggak hanya di bidang IT aja, tapi juga sektor lain yang berhubungan, kayak bidang procurement, call center, dan lainnya jadi kena imbas butuh orang-orang baru juga untuk memenuhi demand workload yang meningkat.

Menambah Pemasukan Negara 

Ketika kita punya usaha, kita diberikan kewajiban untuk bayar pajak. Gak cuma si pemilik usaha, para pekerjanya pun akhirnya jadi harus bayar pajak penghasilan. Jangan bersedih kalau mikirin gaji yang kepotong karena pajak, soalnya uang yang kita bayarkan itu bisa dialokasikan oleh negara untuk pembangunan, ya ‘kaaan?

Meningkatkan Persaingan

“Hah!? Emangnya kalau banyak persaingan artinya bagus ya? Aku anaknya cinta damai, kak!”

Hold your horses and listen to the causes. Memang perdamaian itu indah, tapi dalam produktivitas, kita akan lebih terpicu kalau punya saingan. Masih gak percaya?

Bayangkan kalau di dunia ini cuma ada satu perusahaan penerbit buku, dan gak ada perusahaan lain yang berani buat menantang perusahaan itu. Apa yang terjadi?

“Ngapain rajin-rajin kerja? Kita ‘kan yang terbaik, gak perlu takut kebalap!”

Kalimat di atas pasti akan terbesit di pikiran setiap pekerja dari perusahaan penerbit buku itu. Hasilnya kerja jadi seadanya dan performance menurun. Beda cerita kalau akhirnya ada perusahaan lain yang bergerak di bidang yang sama. Setiap stakeholder akan memberikan motivasi kepada pekerjanya untuk meningkatkan kinerja supaya gak kalah.

That’s why entrepreneurs will contribute greatly to the society. Indonesia sebagai negara berkembang pasti bakal lebih merasakan manfaatnya dari segi perekonomian maupun sosial. 

And for those of you who are held back by the circumstances to be an entrepreneur, your mindset and productivity could also be a form of contribution! 

Sekarang, makin bertekad ‘kan untuk memperjuangkan kemajuan Indonesia Raya?