Story

Belajar Bangun Tim Startup dari Kisah Pendiri Bangsa


Pernah denger kisah pertemuan Soekarno dan Hatta? Ternyata pertemuan mereka bukan karena kebetulan satu sekolah, sanak saudara, atau kerabat. Keduanya dipertemukan oleh ide. Ide yang membuat kita bisa “semudah” sekarang dalam menjalankan kehidupan dibandingkan tiga-empat generasi sebelum kita. Ide itu adalah kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah kemarin bahas sumpah pemuda, BPUPKI, PPKI, dan proklamasi, sekarang Ziliun mau ngajak untuk “main-main” lagi sama sejarah. Sama seperti artikel sebelumnya, tujuan Zilliun dalam tulisan ini supaya kita bisa bareng-bareng memetik ilmu dari sejarah untuk diterapkan di startup kita. Kali ini, yuk kita belajar gimana kisah Soekarno dan Hatta bertemu sampai membentuk kabinet di pemerintahan setelah Indonesia merdeka.

Baca juga: Proklamasi: Membangun Indonesia dari Formula Minimum Viable Product

Soekarno dan Hatta mulai berkenalan pada tahun 1923. Saat itu Hatta masih bersekolah di Belanda dan Soekarno tinggal di Bandung. Ternyata keduanya memiliki perbedaan yang cukup besar. Bahkan Soekarno dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams mengatakan, “Hatta dan aku tak pernah ada dalam getaran gelombang yang sama.” 

Tapi kalo kita pikir-pikir, gimana ya cara mereka saling beradaptasi hingga Indonesia merdeka?

Ternyata ketika membentuk tim, perbedaan justru merupakan hal yang sangat penting. Dalam membangun tim startup misalnya, konon setidaknya harus ada tiga jenis orang yang berbeda yaitu Hipster, Hustler, dan Hacker. Yup, kalo hacker obviously seorang developer. Tapi memang “anak IT” aja engga cukup untuk bangun startup.

Baca juga: Formula Dasar Startup: Hacker, Hipster, dan Hustler

Hipster

Kalo kita balik lagi ke masa 1945, kira-kira menurut kalian siapa yang seorang Hipster pada masa persiapan kemerdekaan Indonesia? Hmm sebenernya mungkin ada banyak, tapi menurut Ziliun, salah satu yang paling menonjol adalah Soekarno. Ia kerap dijuluki sang singa podium karena dapat menyihir ribuan orang melalui orasi-orasinya. Soekarno pandai merangkai kata Dan menampilkan kewibawaannya di depan publik sehingga orang-orang bisa terinspirasi dari gagasan-gagasannya.

Tapi tentunya Soekarno tentunya enggak hanya bermodalkan kharisma aja. Di balik kharismanya, ia adalah orang yang sangat berhati-hati dalam merencanakan kemerdekaan sehingga proses proklamasi dapat berjalan lancar tanpa ada pertumpahan darah.

Kalau di startup, si Hipster ini biasanya seseorang yang bisa diandalkan soal desain. Ibaratnya nih, si Hipster itu adalah anak gaul yang sangat memperhatikan estetika instagram feed-nya. Di dunia startup, si Hipster biasanya orang yang paling diandalkan soal  tampilan web dan aplikasi keren. Dia juga yang paling unggul surusan bikin user interface dan user experience yang bagus.  

Tapi sebenarnya seorang Hipster enggak cuma ngurusin desain aja, dia juga  yang bertanggung jawab pada hasil akhir sebuah produk dan memastikan bahwa produk yang ia tawarkan memiliki poin yang unik dibandingkan brand yang lainnya. Seperti Bung Karno, seorang hipster memadukan gagasan yang keren, penyampaian yang baik kepada audiens, sehingga bisa menginspirasi orang banyak.

Hustler

Kalau si Hipster ini cenderung mengutamakan seleranya, si Hustler ini lah yang menjembataninya dengan kemauan konsumen. Kira-kira pertanyaan yang sering keluar dari si Hustler ini adalah, “Produk kita keren, tapi apa bener ini yang dibutuhkan oleh konsumen dan partner kita?”  

Hustler biasanya orang yang sibuk memperkenalkan dan menjual produk. Dia punya passion mencari network dan seringkali stres kalau target penjualan enggak tercapai. Yes, walaupun sering terdengar pesimistik dan paling sering bikin salah paham diantara trio ini, si Hustler lah yang paling perhatian dan peka sama perspektif konsumen atau yang user butuhkan. 

Hatta bisa jadi tokoh yang tepat untuk belajar menjadi hustle di startup. Hatta lebih dari sekedar pendamping  Soekarno, ia adalah seorang idealis yang juga menjunjung tinggi demokrasi. 

Setelah Indonesia merdeka, negeri ini dihadapi oleh tantangan baru yaitu mendapat pengakuan dari dunia internasional. Di sini lah Bung Hatta sangat berperan. Ia kerap berhati-hati dan sangat pandai dalam diplomasi. Mulai dari perjanjian Linggarjati dan Renville, perjanjian Roem-Roijen, sampai Konferensi Meja Bundar.

Sebelum merdeka, Hatta pernah sangat khawatir akan terjadi pertumpahan darah jika proklamasi terburu-buru dilakukan, walaupun kaum muda sudah terus menerus mendesaknya untuk memproklamasikan kemerdekaan. Bung Hatta cukup memperhatikan apa yang diucapkan pihak Jepang, khususnya Marsekal Terauchi yang ia temui di Saigon. Tapi sikap kritis dan hati-hati yang ia miliki memang bertujuan agar rencana proklamasi berlangsung lancar tanpa terjadi pertumpahan darah.

Walaupun ia sangat berhati-hati, Hatta tetap mempertimbangkan alasan kaum muda dan terjadilah proklamasi di kediamannya, Jalan Pegangsaan Timur, 17 Agustus 1945. Jadi, kalau lo merasa seorang hipster di startup lo, jangan langsung jadi keras kepala ya hehe.

Hacker

Si Hacker ini kemungkinan yang langsung terlihat bedanya dari kedua rekannya. Dia adalah orang yang bisa duduk diam dan merealisasikan ide dari si Hipster maupun Hustler.  Yup, si Hecker adalah seorang developer yang memiliki skill mendasar yang dibutuhkan semua startup digital, yaitu ngoding. Seorang Hacker biasanya berfokus pada “How questions” alias gimana cara mewujudkan ide-ide menjadi sebuah fitur yang bisa bermanfaat untuk user.

Founding fathers itu bukan cuma Soekarno dan Hatta. Ada Sutan Sjahrir yang enggak kalah berjasanya. Bisa dibilang ia adalah seorang Hacker. Dia kerap menggunakan cara yang enggak biasa untuk merealisasikan kemerdekaan Indonesia. Sjahrir pernah mendeteksi tenaga vakum di Jepang. Dalam aktivitas “bawah tanah” yang ia lakukan, Sjahrir yang pertama-tama mengetahui kekelahan Jepang dari radio yang tidal disegel oleh pemerintah Jepang. Hatta juga lah yang tidal lelah mendesaknya Soekarno dan Hatta untuk segera melakukan proklamasi.

Jadi, startup itu bukan cuma berisi developer doang, atau orang kreatif dan bisnis aja. Keberagaman itu penting tapi kolaborasi juga lebih penting. Selamat berkolaborasi!