Story

Yakin Terdorong Bangun Usaha Demi Hype Aja? Bro, Coba Teropong Masalahnya!

Everyone seems so eager to build their own business. Everyone wants to be an entrepreneur.

Frasa “mau punya usaha sendiri” itu seperti udah jadi tren masa kini. Kayaknya enak gitu ya, bangun usaha, nyiptain lapangan pekerjaan untuk orang-orang, dan yang terpenting… punya duit banyak. Kayak gitu ya kira-kira mindset kebanyakan orang? Ha ha ha.

If you open up your mind, you will see that it’s not solely about the trend. Jangan cuma karena takut ketinggalan hype atau takut dibilang gak keren lalu kamu memaksakan diri bikin usaha asal-asalan tanpa melakukan planning yang jelas. Padahal, justru hari gini hal paling krusial itu adalah pemetaan masalah. Hal mulia ini dilakukan oleh Impala Space dari Semarang.

Impala Space memang bukan restoran yang menyajikan menu makan lezat dengan harga selangit. Impala Space adalah ruang kerja yang tujuannya agar orang-orang bisa berkolaborasi dengan banyak pihak dalam satu tempat. Yup, Impala Space adalah coworking space.

Business Development Impala Space Andrie Widyatama yang menjadi salah satu penggagasnya bercerita alasan di balik terbentuknya coworking space tersebut. Satu hal yang perlu diingat, kultur coworking space di Kota Lumpia ini bahkan belum menjamur, alias belum umum di kalangan masyarakat setempat. Ehem, bahasa kekiniannya, enggak hype.

Impala Space hadir bukan karena ingin meraup untung sebanyak-banyaknya. Dibesut oleh Andrie, Gatot, dan Khaled, dorongan awal tiga serangkai ini justru karena melihat ada suatu masalah dan usaha yang mereka gagas ini diharapkan bisa menjadi solusi jitunya.

“Yang membuat saya tergerak adalah melihat bisnis di Semarang banyak yang tertinggal, melihat Semarang banyak kegiatan industri dan ekonomi, tapi perputaran ekonominya tidak terjadi untuk Semarang,” ungkap Andrie.

Masalah mendasar tersebut menurut Andrie berhasil membuat Semarang hanya sebagai kota transit di mana perekenomiannya lari ke Jakarta, Yogyakarta, Solo, dan lain-lain. Dengan kata lain, banyak bisnis konvensional di Semarang, tapi dananya gak ada di sana.

Baca juga: Alamanda Shantika: Berkarya Bukan Hanya untuk Diri Sendiri, Tapi Juga untuk Orang Lain

“Saya jadi terdorong untuk membangun ekonomi kreatif di Semarang. Meski belum tergerak, kota ini punya potensial di ekonomi kreatif,” kata Andrie.

Masalah yang disorot Andrie dan timnya gak berhenti di situ. Mereka lalu melakukan riset lebih dalem lagi dan menemukan kalau banyak pengusaha dari luar kota itu melirik Semarang, tapi ujung-ujungnya gak pake SDM lokal sana. Ya tentu dong ini miris, padahal Andrie pede kalau talent di Semarang itu banyak yang berkualitas.

Nah, dari situ Andrie dan timnya langsung merasa bahwa wadah untuk para talent lokal dibutuhkan di sana agar industri kreatif di Semarang semakin di-notice dan terangkat, alias tidak dipandang sebelah mata lagi.

Modal Nekat

Setelah berhasil memetakan masalah yang menjadi landasan utama dibentuknya Impala Space, apa modal selanjutnya yang dibutuhkan tiga serangkai ini untuk mengeksekusi bisnisnya? Jawabannya, modal nekat.

Gini, gini. Yang harus kalian pahami itu, nekat di sini maksudnya, mereka tetap pede aja mengeksekusi rencana karena tahu apa yang mau dibenahi dan didongkrak — dalam hal ini adalah industri kreatif yang memerlukan wadah bagi para talentnya. Jadi bukan soal nekat yang ngasal gak pake mikir gitu…

Bukti Andrie dan kawan-kawannya nekat dan pede untuk maju tak gentar mendirikan Impala Space adalah mereka sadar betul kondisi di Semarang belum mendukung apabila coworking space ini tiba-tiba muncul di permukaan.

“Di Semarang itu masih berpikir kalo orang kerja ya harus di kantor, karena ada absensi dan segala macem. Jadi ketika kita muncul, tentu lah gak semua tanggapannya positif,” tutur Andrie.

Karena mereka niat dan nekat, justru pola pikir konvensional seperti itu menjadi tantangan tersendiri. Andrie bilang, effort yang mereka lakukan dari awal itu banyak banget khususnya untuk melakukan sosialisasi mengenai makna dan konsep coworking space itu sendiri. Ya intinya mereka harus menguras tenaga demi memperkenalkan bisnis baru ini. Gak tanggung-tanggung, Andrie ngaku bahwa edukasi pasar itu bisa mencapai delapan sampai 10 event dalam sebulan. Itu semua demi masyarakat ngerti apa visi dan misi Impala Space.

Andrie juga bilang, program seperti Gerakan Nasional 1000 Startup Digital bisa menjadi cara pendukung yang mampu membawa nama coworking space supaya lebih familiar di telinga masyarakat. Salah satu tujuan Impala Space tentu saja menjadikan coworking space sebagai home base karya para pelaku industri kreatif.

“Kita mau memperlihatkan ke masyarakat bahwa, ada lho model bekerja yang baru yaitu berkolaborasi dengan freelance, startup, dan lain-lain. Impala Space dan coworking space lain saya yakin mampu menjadi trigger bagi ekosistem industri kreatif di Semarang,” lanjutnya.

Baca juga: Giovanni Widjaja, dari Menjual Pomade Vintage Hingga Membuka Barbershop

Impala Space resmi berdiri bertepatan di hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus tahun 2016. Andrie sempat curhat hal yang menggelitik. Dulu, Impala Space sempat dikira restoran gitu.

“Dulu awal-awal banyak yang nanya ‘menunya apa?’ karena kita dikira restoran! Pada akhirnya kita jadiin jokes aja karena masyarakat banyak belum paham,” kisah Andrie.

Lucunya, lokasi Impala Space emang gak lepas dari keberadaan restoran. Ia terletak di lantai dua restoran Spiegel Bistro di Kota Lama, Semarang. No wonder sih kalo banyak yang salah kira Impala Space ini juga restoran…

Baru enam bulan lebih berdiri, Andrie bilang sudah ada yang mengikuti jejaknya membuat coworking space, namun banyak juga yang tutup karena belum jelas positioning dan perkiraan model bisnisnya kayak gimana yang mau diterapkan.

Pastinya butuh waktu untuk membuat coworking space menjamur secara efektif di Semarang. The good thing is, Semarang punya orang-orang seperti Andrie yang punya visi besar untuk ke depannya, yaitu menciptakan ruang di mana semua orang bisa berkolaborasi dengan bebas untuk menggenjot ekosistem industri kreatif tanpa dipandang sebelah mata.