Story

Vina Zerlina, UX Designer Amazon yang Pulang Kampung untuk Berkontribusi (2)

Mindset Orang-orang di Amazon.com

Dari momen Eureka tersebut, Vina pun mulai mendalami UX design, yang baginya merupakan bidang desain yang lebih fundamental, dibandingkan desain grafis biasa, karena UX design mendasari produk itu sendiri.

Keahliannya di UX design kemudian diaplikasikan Vina dengan bekerja di berbagai perusahaan teknologi di Amerika Serikat, salah satunya Amazon.com. Kerja di salah satu perusahaan teknologi paling prominent di dunia bikin Vina jadi sadar kalau mindset yang umum ada di Amrik dan jarang dipunyai orang kita adalah sense of ownership.

“It doesn’t matter if you’re a founder, developer, or designer. Lo harus merasa kalau gue gak do my best, produk ini bakal gagal,” kata Vina menjelaskan maksud dari pola pikir sense of ownership.

Dari pengalaman Vina di Amazon.com, ia melihat kalau karyawan di sana yang berada di tingkat terbawah pun jarang yang ngerasa kalau kehadiran mereka gak penting. Penyebabnya adalah karena karyawan di level paling bawah pun dikasih banyak kesempatan untuk pegang proyek sendiri. Sementara, di banyak perusahaan di Indonesia, masih banyak yang punya mindset cuek dan gak pedulian.

Mindset ‘ngikutin bos aja’, itu yang bahaya,” kata Vina.

Baca juga: Ketika Software Engineer Amazon Mengabdi di Sukabumi

Keputusan Kembali ke Indonesia

Terus, kenapa ya Vina kembali ke Indonesia? Padahal, kerja di Amazon.com kan impian yang bagi banyak orang impossible to reach?

Alasannya Vina sih, karena dia ingin personally contribute to Indonesia’s startup communities and product development in general.

“Di US itu, kalau dari segi produk dan desain, mereka udah sampai tahap di mana gak ada aplikasi atau produk lagi yang dikembangkan untuk menyelesaikan primary issues. Kalau mau bikin aplikasi baru, ya untuk menyelesaikan kebutuhan tersier,” kata Vina.

Istilahnya, karena di US teknologi udah maju duluan, dan udah ada infrastruktur, pendidikan, dan sumber daya manusia yang memadai, Vina ngerasa keahliannya sebagai UX designer akan lebih bermanfaat jika diaplikasikan di Indonesia.

“Ada banyak hal tentang UX yang gak bisa didapat cuma dari baca artikel. Ada banyak hal yang hanya bisa didapat dari pengalaman bekerja dalam tim dan perusahaan yang infrastruktur desainnya oke,” kata Vina.

Kalau makin banyak diaspora Indonesia berprestasi yang pulang kampung seperti Vina Zerlina, ekosistem startup bakal makin cepat berkembang dong, ya. Makanya, diaspora, ayo pulang, dong!

Baca artikel sebelumnya di: Vina Zerlina, UX Designer Amazon yang Pulang Kampung untuk Berkontribusi (1)

Header image credit: compass.to