Story

Vina Zerlina, UX Designer Amazon yang Pulang Kampung untuk Berkontribusi (1)

Gara-gara ekosistem startup teknologi dan digital yang semakin berkembang di Indonesia, profesi UX designer menjadi profesi yang semakin familiar. Walaupun istilahnya “designer”, tapi tugas utama seorang UX designer sebenarnya adalah mengerti manusia (atau dalam konteks ini user) untuk menciptakan desain yang memberikan pengalaman terbaik bagi user.

Meet Vina Zerlina, senior user experience designer di Blibli.com. Vina ini bukan anak kemarin sore di dunia UX design. Pengalamannya bekerja sebagai UX designer di Amerika Serikat, salah satunya di Amazon.com, membekali Vina dengan pengetahuan dan pengalaman tentang UX design yang jauh lebih kaya daripada kebanyakan UX designer di Indonesia.

IMG_6710
Vina saat menjadi mentor di Startup Weekend Jakarta

Awal Ketertarikan Vina di UX Design

Gimana ceritanya Vina Zerlina bisa “nyangkut” di dunia UX design? Ternyata, sejak SMA Vina sudah menggemari desain grafis, mulai dari mendesain poster hingga mendesain web. Namun, saat ingin menentukan jurusan kuliah, ia memutuskan untuk mengambil jurusan Teknik Industri, karena ingin mencoba sesuatu yang baru.

Karena memang bukan strength utama dan passion-nya, di tahun pertama dan kedua kuliah pun Vina mengaku bahwa she didn’t know what she was doing.

Mulai tahun ketiga kuliah, Vina mulai mencoba “melenceng” nih dengan mengambil minor computer science. Di sini dia belajar web development dan programming, yang ternyata fun bagi dia. Hanya saja, menurut Vina dia bukan tipe orang yang bisa sit down and work for hours, sesuatu yang biasanya dilakukan oleh developer atau programmer.

Baca juga: 5 Hal Penting yang Harus Dikuasai UX Designer

Nah, saat mengambil minor di ilmu komputer ini, Vina menemukan momen Eureka-nya saat mengerjakan tugas di research lab. Apa tugasnya? Mengembangkan dan mendesain sebuah situs web. Kebetulan waktu itu Vina mengembangkan sebuah situs untuk para member di klub fitness. Web tersebut berisi fitur untuk cek kesehatan, dengan memasukkan data seperti makanan yang dikonsumsi dan aktivitas berolahraga pengguna untuk kemudian menghitung kalori dan tracking keseimbangan kalori pengguna.

Vina yang memang senang mendesain waktu itu percaya diri banget kalau dia udah mendesain dengan maksimal. Ternyata, waktu dites ke pengguna, para member di klub kebugaran tersebut gak ngerti, what’s going on with the website. Dengan kata lain, the design totally failed.

Dari situlah Vina sadar kalau desain itu gak cuma tentang appeal, atau gak cuma harus pretty and interesting, tapi juga harus usable.

“If the user can not figure out the design, it’s not usable,” kata Vina.

Baca lanjutannya di: Vina Zerlina, UX Designer Amazon yang Pulang Kampung untuk Berkontribusi (2)

Header image credit: skillcrush.com