Story

Teman Jalan, Solusi Mobilisasi Hemat Untuk Mahasiswa

Dikit-dikit ngeluh macet, dikit-dikit nyalahin Gubernur. Tapi, pernah nggak kita belajar untuk melihat akar masalah? Atau, memang hobi ngedumel?

Ada sekitar 17 juta kendaraan yang mengisi hari-hari sang Ibukota Indonesia. Maksa nggak sih kalau Jakarta yang udah sesak sama kendaraan, masih terus dijejali dengan kendaraan baru. Menurut data, rata-rata pertumbuhan mobil baru berjumlah 1.600 mobil per hari. Tak kalah dengan mobil, ada sekitar 4.500 motor baru setiap harinya yang nongol di wilayah Jakarta yang hanya seluas 740,3 km2 ini.

Pertumbuhan jumlah kendaraan yang sebesar 12 % per tahun tak sebanding dengan pertumbuhan jalan yang hanya menyentuh angka 0,01 %. Tentu, ini adalah ironi.

Berbanding terbalik dengan bertambahnya kendaraan pribadi, melihat dari persentasenya, hanya terdapat 2 % transportasi publik. Padahal, transportasi publik memberi kontribusi terhadap 50,3 % mobilitas warga Jakarta.

Baca juga: Udah Waktunya Lo Ngerti Tentang Sharing Economy

Beruntung, masih ada beberapa anak muda yang peduli dengan hal ini. Mereka datang dengan solusi, bukan ikut larut dalam caci maki. Salah satu contohnya adalah Go-Jek.

Di tengah antinya beberapa kalangan terhadap kendaraan umum, apalagi naik ojek, Nadiem Makarim dan rekannya pun berhasil mengubah mindset tersebut. Berkat sejumlah fasilitas yang ditawarkan, Go-Jek pun disambut baik oleh masyarakat. Yang paling penting, Go-Jek keluar sebagai salah satu solusi yang bisa membantu mengatasi permasalahan kemacetan.

Sebelum Jakarta dihijaukan oleh abang-abang (dan mbak-mbak) Go-Jek, ada juga solusi yang ditawarkan oleh anak muda lainnya. Andreas Aditya bersama rekannya sempat membuat telinga anak muda Jakarta akrab dengan Nebengers. Belum berbentuk aplikasi, Aditya memanfaatkan media sosial Twitter dalam menggerakkan Nebengers.

Baca juga: Jalan Bakal Macet Terus Nih Sampe Zaman Perang Bintang?

Screen Shot 2015-09-14 at 5.17.02 PM

Satu demi satu anak bangsa hadir melalui karyanya. Berangkat dari masalah yang sama, Teman Jalan pun siap menjadi solusi kreatif berikutnya. Fauzan Helmi Sudaryanto, co-Founder Teman Jalan pun berbagi ceritanya kepada Ziliun di sela-sela acara Seedstars World Jakarta 2015 yang berlangsung di Conclave.

Konsep Teman Jalan berangkat dari permasalahan yang dirasakan oleh banyak mahasiswa. Bagi yang tidak memiliki kendaraan, tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk mobilisasi dari kostan atau rumahnya menuju kampus setiap hari ataupun sebaliknya. Tentu, dengan menebeng teman yang searah, semua masalah tersebut bisa teratasi. Lantas, bagaimana kita tahu ada orang yang akan berangkat searah dengan kita? Untuk itulah Teman Jalan hadir.

Selain masalah di atas, ada hal lain yang juga menjadi pertimbangan. Sudah memberi tebengan teman-teman yang berangkat searah, namun yang diberi tebengan nggak peka. Kalau setiap hari dikasih tebengan kan, mbok ya, punya inisiatif untuk share bensinlah minimal. Di lain sisi, si pemberi tebengan pun kadang ngerasa nggak enak kalau harus meminta-minta.

Baca juga: Fenomena: Buat Apa Punya Barang Kalau Bisa Serba Minjem

Berbeda dengan Go-Jek, Teman Jalan memposisikan diri sebagai aplikasi yang digunakan untuk memberi tumpangan kepada orang lain yang akan menuju ke lokasi yang sama. Namun, dengan memberi tumpangan tersebut, si pemberi tumpangan bisa mendapatkan poin. Poin yang terkumpul bisa ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik, di antaranya pulsa berbagai provider telekomunikasi dan voucher bensin Pertamina.

Sekilas mirip dengan apa yang dilakukan oleh Nebengers. Namun, Teman Jalan siap hadir dalam bentuk aplikasi mobile. Targetnya pun baru kalangan mahasiswa. Pada September 2015, Teman Jalan masih dalam tahap beta, dan baru diluncurkan untuk mahasiswa Universitas Indonesia. Sekitar 40.000 mahasiswa UI akan menjadi target dari Teman Jalan. Mereka bisa mencobanya di www.temanjalan.co/ui.

Dengan kehadiran Teman Jalan, mobilisasi pun akan semakin murah bagi mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan. Di awal, mereka akan mendapat poin yang bisa digunakan untuk memberi apresiasi kepada sang teman jalan yang mengantarnya. Bila poin habis, mereka bisa top up poin dengan harga yang terjangkau.

Baca juga: Startup is All About Timing

Untuk faktor keamanan, verifikasi pengguna Teman Jalan menggunakan email mahasiswa yang diberikan oleh Universitas. Dengan begitu, pengguna Teman Jalan dapat merasa aman menggunakan aplikasi ini. Setelah Universitas Indonesia, Teman Jalan akan ekspansi ke kampus-kampus lainnya. Hingga akhirnya, bila semua sudah siap, Teman Jalan bisa merambah ke masyarakat luas.

Dalam sehari peluncurannya, sudah ada 850 mahasiswa UI yang mendaftar menjadi pengguna Teman Jalan. Fauzan optimis proyek yang dikerjakannya ini berbuah manis. Apalagi, sehari setelah peluncurannya, Teman Jalan pun berhasil mendapatkan apresiasi dari ajang Seedstars World Jakarta yang diikutinya. Teman Jalan berhasil menjadi runner-up dari kompetisi ini.

Bisa jadi, awalnya cuma jadi Teman Jalan. Nggak menutup kemungkinan, bisa jadi, ehmm, teman hidup. Tertarik?