Featured, Story

Teguh Wicaksono: Changing The World with Social Media

Dunia itu sempit. Saking sempitnya, kita nggak harus ke luar negeri untuk update informasi yang ada di sana. Ya, berkat teknologi hidup yang kita jalani menjadi semakin sempurna. Kini, jarak beribu kilometer dipeta sekarang tidak artinya karena teknologi digital yang mampu membuat bumi seolah tak berjarak.

Sekarang, semua informasi bisa kita akses secara digital dan gratis. Dan yang paling penting kita semua bisa dapat informasi secara up-to-date! Macam koran online yang selalu update tiap detik gitu. Dengan demikian, meskipun kita ada di ujung Pulau Indonesia dan pelosok sekalipun, kita tetap bisa mendapatkan informasi dari luar sana.

Bicara teknologi pasti bicara tentang dunia digital. Dan di dalam dunia digital ada sosial media yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Hampir setiap jam kita pasti membuka sosial media dengan alasan dan tujuan apapun itu. Ngaku aja, deh. Gue juga gitu, kok!

Baca juga: Salah Kaprah Smart City di Indonesia

Ingat Twitter? Sosial media yang membiarkan penggunanya meluapkan segala apa yang dia rasa hanya dalam 140 karakter. Zaman pertama kali gue kenal Twitter itu zaman putih abu-abu. Dulu pas pakai Twitter gue merasa aneh, sih karena kita dipaksa untuk membuat konten hanya bermodalkan 140 karakter. Lah, kalau lo mau curhat? Ya, bikin kultwit hahaha.

Nggak bisa dipungkiri, kini sosial media berkembang terlampau pesat. Satu smartphone aja bisa punya lebib dari 3 sosmed, ya kan? Termasuk gue. Tapi justru ini yang menarik. Ketika sosmed baru mulai bermunculan, Twitter justru mulai tenggelam. And I don’t know why. Alhasil, notifikasi Twitter gue ya sepi-sepi  aja.

Nah, acara #TheBackstage Minggu lalu (14/8) menghadirkan Teguh Wicaksono, Partnerships Manager, Twitter Indonesia. Dia menjelaskan bahwa Twitter di Indonesia itu memang terkenal dengan ‘Twitter war”. Maksudnya apa? Ya, berantem di Twitter, saling sindir di Twitter dan tentu saja semuanya saling serang.

Baca juga: Cerita Kamar IPO #disruptiveInnovation

Bukan malah memberikan informasi yang valid, justru Twitter seolah menjadi media tempat bertemunya orang-orang yang suka ‘war’ alias perang di sosmed. Sedih banget nggak, sih? Sekaligus kesel. Karena gue sendiri juga sangat merasakan kalau Twitter itu selalu jadi media berbau politik yang beberapa ingin menjatuhkan pamor seseorang yang lain lewat media. Duh, mentalnya kok jelek.

Eh, bentar deh. Jangan sampai alasan ini lalu bikin kita ninggalin Twitter lho, guys! Teguh said that “Sebenernya kalau lo mau eksplor lagi, Twitter itu bisa jadi ruang untuk saling share, take and give dan changing the world.” Ruang yang seperti apa sih yang dimaksud? Ya, ruang untuk bisa saling share informasi yang menurut lo nggak cuma bermanfaat bagi orang lo aja, melainkan juga bermanfaat buat orang lain.

Lalu, kenapa hanya 140 kata saja? Ya biar lo kreatif. Justru dengan karakter yang singkat, lo bakalan belajar gimana caranya mengolah kata. Jadi, sampai sini mari kita think positive “Twitter itu melatih daya kreativitas kita, ya to?” Coba deh, kalau lo mau nge-tweet lo pasti akan merangkai kata-kata, kan? Daya nulis lo secara tidak langsung akan terlatih. Wuih, calon copy writer harus bangga dengan Twitter, nih!

Teguh juga membuka pikiran gue tentang bagaimana Twitter itu layak banget untuk jadi sosmed yang bisa kasih ke kita informasi yang valid. Sebagai social movement, Twitter adalah sosmed yang pertama kali bisa men-trigger conversation. Lewat apa? Lewat hashtag dan mention. Bahkan, jauh sebelum sosmed saat ini menggunakan hashtag da mention, Twitter sudah duluan menerapkan hal ini, guys.

Baca juga: Alamanda Shantika: Berkarya Bukan Hanya Untuk Diri Sendiri, Tapi Juga Untuk Orang Lain

Salah satu case study yang bisa dijadikan contoh adalah ketika rame-ramenya ada bom Sarinah. Media apa yang valid untuk mengetahui update berita dari ranah online? Ya, Twitter. Semua orang berlomba-lomba nge-twit tentang keadaan bom Sarinah dan membuat hashtag tersendiri. Jadilah semua orang tahu bagaimana kondisi sekitaran bom Sarinah hanya dari Twitter. Keren, ya?

Nah, case study tersebut bisa jadi acuan bisa lo terapkan dalam bisnis juga lho, guys. Lo bisa mengedukasi calon klien lewat Twitter dengan membuat kultwit. Lo bisa menciptakan hashtag tersendiri yang bisa lo jadikan branding company elo juga. Jadi, jangan sampai lo ninggalin Twitter karena menganggap Twitter itu banyak konten sampahnya, ya!

Masalah yang dianggap ada pada Twitter itu sebenarnya ada dalam mindset kita, kok. Lha kok bisa? Ya bisa, dong. Kan yang jadi filter itu seharusnya diri lo sendiri, kan? Dan catet! Lo bisa lihat Twitter war karena lo follow orang-orang yang hobi war. Jadi, ya timeline lo mau nggak mau akan diisi konten sampah dan basi. Beda cerita kalau lo follow akun orang-orang yang terkenal dengan kebijaksanaannya. Pasti timeline lo adem ayem, kan?

Kalau kata Teguh sih “social media itu seperti pisau, mau lo pake untuk bunuh orang atau untuk masak makanan yang bisa bikin lo kenyang.” Jadi, subyek yang bisa make decision itu ya elo sendiri.

So, lo mau jadi pribadi yang seperti apa?

Baca juga: Smart City Bukan Hanya Tanggung Jawab Pemerintah