Insight

Startup yang Gagal itu Sering Berasumsi

“Jangan asumsi! Validasi!”

Kata itu sering diucapkan oleh Yansen Kamto, Chief Executive Kibar di berbagai kesempatan. Termasuk kemarin di acara Google Launchpad Week Jakarta, pada sesi marketing. Yansen dan mentor-mentor lainnya sering menanyakan ini ketika sesi mentoring, “Mana datanya kalian ngomong gitu? Jangan asumsi!“

Saya mempelajari beberapa hal terkait validasi dari Google Launchpad ini. Pertama, proses validasi tidak hanya dilakukan di awal, tapi di setiap tahap. Validasi dimulai dari ide awal startup. Apa benar asumsi masalah yang ingin kita selesaikan lewat startup kita itu, benar-benar jadi masalah bagi orang lain juga? Jangan-jangan itu masalah pribadi kita aja, sedangkan orang lain tidak merasakan? Ingat, kita bukanlah user.

Validasi bisa dilakukan dari dua sumber, yang pertama bisa dengan melihat data statistik yang sudah ada (top down). Cara kedua adalah dengan langsung mewancarai calon user kita (bottom up), mengumpulkan data dengan ngobrol langsung dengan mereka.

Baca juga: Menyelesaikan Masalah Gak Selalu Butuh Teknologi Canggih

IMG_6300

Kedua, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun, kita tidak boleh berasumsi. Sesepele urusan memilih antara warna merah atau hijau untuk tombol call to action, hingga urusan fitur-fitur utama yang akan diintegrasikan, kita harus menggunakan A/B testing untuk setiap keputusan yang kita ambil. Lakukan tes terlebih dahulu–kalau tombolnya berwarna merah, berapa klik yang dihasilkan, dan kalau berwarna hijau, berapa klik yang dihasilkan. Ini sangat mudah diintegrasikan dengan berbagai tools yang tersedia di internet. Data yang jelas dan telah melalui tes itulah yang membedakan antara orang yang berasumsi kemudian gagal, dan orang yang sukses karena mau bersusah-payah melakukan validasi.

Berbagai perusahaan besar saat ini, misalnya Groupon, menerapkan hal ini sejak awal. Mereka tidak secara langsung membuat sistem yang kompleks. Mereka memulai dengan blog WordPress sederhana untuk tiap deals yang mereka tawarkan. Kemudian ketika user membeli deals tersebut, secara manual, admin Groupon membuat kuponnya dengan Word, kemudian mengubahnya menjadi PDF, lalu dikirim via email secara langsung ke user. Mereka memvalidasi dulu ide mereka dengan langsung eksekusi tanpa pusing soal teknologinya, yang penting user bisa langsung mendapatkan manfaat dari startup tersebut. Sampai jumlah user sudah tidak bisa lagi di-handle, mereka baru membuat sistem Groupon seperti yang kita kenal sekarang ini.

Perkecil kemungkinan gagal startup

Namanya startup, tentu penuh ketidakpastian. Mulai dari idenya yang belum tentu sepenuhnya tervalidasi, founder yang belum tentu berkomitmen, hingga business model yang belum sustainable–belum ada kepastian dari mana penghasilan akan didapatkan.

Baca juga: Startup yang di-Invest Besar-besaran itu Ternyata Untungnya Nol

Dengan berbagai ketidakpastian tersebut, layaklah kalau statistik berbicara bahwa sebagian besar startup akan gagal di percobaan pertamanya. Tapi tentu saja ada beberapa cara supaya startup ini peluang kegagalannya dapat diminimalisir, yakni dengan belajar dari ahlinya.

Itulah salah satu tujuan diadakannya Google Launchpad di Jakarta kemarin, yakni mempertemukan startup yang masih dalam early stage dan mempunyai potensi untuk berkembang, dengan mentor-mentor yang berpengalaman di bidangnya masing-masing. Tak hanya cerita soal kesuksesan, berbagai cerita kegagalan pun disampaikan agar startup-startup yang diberikan mentoring ini tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Semoga pelajaran tentang validasi ini merombak pola pikir kita mengenai budaya kerja di startup. Karena ketidakpastian itulah, kita harus meminimalisir kegagalan lewat validasi, validasi, dan validasi. Jangan asumsi!

Baca juga: Kantor Gratis, Kopi Gratis, dan Startup Lo Masih Juga Gak Jalan?

Header image credit: kachan.com