Insight

Nggak Masalah Punya Misi Beda, Tapi…

Selamat datang ke awal babak baru peradaban kawan-kawan!

Tidak perlu lagi susah-payah berpindah-pindah tempat agar bisa tetap makan dan hidup. Hanya perlu membaca buku teks untuk memahami dasar sains modern. Wawasan dunia luar sudah terbentang lebar.Serta tinggal menikmati produk-produk jadi yang bervarian dan siap sedia.

Khusus untuk kita yang tergolong gen-Y atau millenials, kebanyakan dari kita tidak wajib lagi untuk memilih jalur ortodoks dalam akademik maupun berkarir. Jurusan-jurusan yang dulunya dianggap ‘aneh’ ternyata dapat berpotensi besar dalam pembangunan negeri ini. Hal yang terlihat ‘abstrak’ bisa diolah menjadi lahan bisnis baru. Semakin tercukupinya kebutuhan-kebutuhan dasar manusia sehingga kita siap untuk berinovasi dan berpikir jauh kedepan.

Seharusnya, tidak ada lagi alasan untuk tidak menjadi terpelajar dan tercerahkan. Jutaan informasi hanya berjarak diantara jari dan layar sentuh gawai elektronik kita (walaupun sayangnya, yang saya perhatikan kebanyakan hanya dimanfaatkan untuk sekedar bereksis-ria di medsos.. hehehe). Tidak ada lagi namanya ilmu yang eksklusif, kalaupun berbayar, saya yakin ada orang asing di dunia maya yang sangat berbaik hati dan bersenang hati untuk membocorkan apa yang ia ketahui. Seakan-akan kita diletakkan di perpustakaan berwujud digital dengan berbagai sumber, serta disodorkan satu set penuh dengan material lengkap dengan alat-alatnya—kita secara halus disoraki “Ayo! Ciptakan sesuatu! Temukan sesuatu!”

Inilah yang mendorong munculnya tren start-up dan entrepreneurship. Kita begitu mengagungkan “kebaruan” dan menjunjung tinggi penciptaan. Kita silau dengan titel Founder, Creator, Inventor, Maker, Pioneer, dan istilah lainnya yang kurang lebih sebenarnya bersinonim.

Hal yang buruk?

Baca juga: Going Along with Your Idea, Find Your Vision!

Tidak sama sekali! Saya sendiri bersyukur atas penemuan-penemuan hebat dalam beberapa dekade terakhir ini. Setiap jurnal ilmiah atau berita baru tentang penemuan atau penelitian baru membuat saya tersenyum karena satu lagi masalah kemanusiaan yang ternyata bisa diselesaikan. Setiap “kebaruan” menandakan betapa progresifnya peradaban kita (tidak, saya tidak tertarik dengan pacar baru si artis A atau mobil baru si artis B, ini  regresif namanya). Tidak hanya masalah teknologi, tetapi semakin meluasnya fokus dan kepedulian kita terhadap masalah kemanusiaan lainnya membuat kemajuan kita ini menjadi terdistribusi dengan baik.

Jadi, apakah kita harus juga turut serta untuk menciptakan?

When tech culture only celebrates creation, it risks ignoring those who teach, criticize, and take care of others.”, kata Debbie Chacra dalam artikelnya “Why I Am Not A Maker.

Baca juga: Kalau Sekedar Nyari Uang, Buka Warteg Aja!

Memang, menjadi orang nomor 2 (dalam artian yang nomor 1 adalah pencipta) tidak akan menjadikan kita begitu signifikan di mata publik. Jarang ada cerita ataupun tulisan di sejarah yang sering mengulas para tokoh yang hanya sekedar menjaga, meneruskan, serta melestarikan. Seperti misalkan Friedrich Engels yang ‘hanya’ meneruskan karya Karl Marx, ataupun Clair Cameron Patterson (beliau menghitung umur bumi!) yang ‘hanya’ memperjuangkan dihentikannya penggunaan timbal pada bahan bakar minyak .Tokoh-tokoh ini bukannya tidak diakui, hanya saja tidak terlalu diekspos.

Saya mengerti bahwa ide dan strategi baru itu mahal (bukan hanya dari segi ekonomi). Bukannya saya mendiskreditkan gagasan untuk menciptakan atau memprakarsai, saya hanya ingin mencetuskan pendapat saya tentang ekosistem yang seimbang dalam perihal pengembangan. Menurut saya, yang penting adalah kesamaan visi walaupun menjalankan misi yang beda. Singkatnya, Visi adalah “what we believe we can be”, sedangkan Misi adalah “what we believe we can do”.

Baca juga: Purpose VS Passion

Kita boleh mempunyai visi yang sama, membuat Indonesia lebih cerdas dan maju misalnya. Kamu mungkin memilih untuk merintis perusahaan dalam bidang online digital library, saya memilih untuk menjadi relawan perpustakaan di daerah. Atau saya memilih untuk membuat penelitian ilmiah baru, kamu memilih untuk mengembangkan penelitian yang sudah ada agar bisa diterapkan ke masyarakat luas.

Sama-sama mulia serta menciptakan progress.

Terkadang juga banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka reinventing the wheel over and over again. Tidak penting untuk menjadi seorang inventor only  for the sake of inventing. Kalau sudah ada ide yang serupa, lebih baik kita fokus dalam memperbaiki atau mengembangkannya. Kalau ingin menciptakan, ketimbang memenuhi bidang  yang sudah cukup penuh, lebih baik kita meratakan pengembangan dengan menciptakan sesuatu dalam bidang lain.

Semua peran itu penting dan harus ada. Tidak penting apa yang kamu pilih, yang penting kita memilih untuk tidak apatis dan turut serta dalam membangun!

Baca juga: Inovasi Lahir Dari Orang Yang Malas?