Opinion

Lupakan Passionmu!

Lupakan impianmu untuk menjadi super-mapan dan bermoto “Do what you love”.

Lupakan strategi menterengmu yang hanya mentok menjadi cetak biru  dan dipikiranmu.

Lupakan membeli buku-buku motivasi yang membuatmu rela merogoh kocekmu lebih dalam.

Lupakan passionmu.

***

Kepercayaan dan kecintaan irasional  terhadap “passion” yang kamu agung-agungkan itu membuatmu menjadi manusia yang kelewat optimis dan berharap dunia akan selalu berporos pada dirimu. Kamu merasa sejak lahir sudah mempunyai “panggilan”, calling, passionwhatever you name it—yang spesial. Ada hal yang menarik sedikit kamu coba celupkan dirimu kedalamnya,eh ternyata seru. Lalu kamu gembor-gemborkan ke seluruh dunia tentang newfound passion discoverymu itu (tidak lupa update bio di seluruh socmed dong!).

Skip beberapa minggu (atau hari) kedepan, ternyata passionmu itu jadi mempersulit hidup. Yang awalnya bisa kamu kerjakan sambil lalu, sekarang menuntut seluruh perhatianmu. Dasar manusia era digital,kebiasaan segalanya serba instan,dimana membeli barang online lebih cepat ketimbang menunggu p*p mie instan matang– kemudian kita mulai cherry-picking terhadap cerita cerita orang sukses.

Kamu lupa, satu buku autobiografi/biografi tentang seorang yang sukses (di bidang apapun) hanyalah rangkuman dari perjuangannya selama bertahun tahun. Kamu lupa, satu bab tentang cerita pengalaman pahitnya hanyalah permukaan kulit dari seluruh emosi dan masalah yang dialaminya. Bukan salahnya juga sih,karena sampai sekarang bahasa kita masih terbatas untuk mendeskripsikan emosi manusia sesungguhnya. Kamu mengabaikan hal-hal yang tidak nyaman dan langsung loncat ke bagian bagaimana cara merayakan kesuksesan.

Akhirnya, kamu merasa itu bukan passionmu. Kamu marah dan kecewa dan merasa patah hati. Kamu menjadi sangat angsty dan pesimis. Akhirnya kamu menyerah dan memilih jalan yang sudah pasti saja atau mungkin memilih yang gampang-gampang saja.

Dalam video “Stop Trying to ‘Find Your Passion”, disini dijelaskan bahwa kita tidak memiliki semacam panggilan, atau passion, atau apapun itu lah, sejak lahir. Yang kita bawa dalam diri adalah beberapa kepribadian dan karakteristik spesifik yang akan terungkap sedikit demi sedikit—seiring kita mencari dengan melakukan dan menciptakan lebih banyak hal,serta bersosialisasi dengan berbagai macam orang. Konsep ini dibahas dalam teori yang disebut “Adjacent Possible”, oleh Stuart Kauffman. Singkatnya, adjacent possible adalah semacam masa depan yang masih dalam bayang-bayang, tetapi batasannya akan semakin meluas seiring kita mencari,melakukan,dan menciptakan. Ibaratnya kamu membuka pintu rumah, lalu ternyata dalam rumah itu ada pintu-pintu lagi, dan seterusnya.

Intinya, disini menekankan kita untuk terus mencari,melakukan,menciptakan,serta memperbaiki diri dan mengembangkan kemampuan kita. Bukan hanya sekedar melakukan pencarian terhadap hal yang (mungkin) akan kita cintai.

Untuk menutup celotehan saya terhadap betapa overratednya pencarian passion itu, berikut adalah kutipan dari Mark Cuban :

“Let me make this as clear as possible

  1. When you work hard at something you become good at it.
  2. When you become good at doing something, you will enjoy it more.
  3. When you enjoy doing something, there is a very good chance you will become passionate or more passionate about it
  4. When you are good at something, passionate and work even harder to excel and be the best at it, good things happen.

Don’t follow your passions, follow your effort. It will lead you to your passions and to success, however you define it.”

*Btw, kata passion berasal dari bahasa Latin: pati, yang artinya “menderita, bertahan”. Berarti, passion adalah suatu hal yang seharusnya membuatmu sanggup serta rela untuk menderita dan bertahan kan?