Insight

Kalau Robot Bisa Semuanya, Manusia Kerja Apa?

“Neither a wise man nor a brave man lies down on the tracks of history to wait for the train of the future to run over him.” – Dwight D. Eisenhower

Kalau lo penuh rasa penasaran, mungkin lo pernah menanyakan pertanyaan di atas: Kalau robot bisa semuanya, manusia kerja apa?

Banyak yang takut kalau automasi, oleh mesin, atau robot, bikin manusia lama-lama kehilangan pekerjaan.

Bayangin aja, Mas-Mas dan Mbak-Mbak yang jagain pintu tol bisa jadi pengangguran kalau semua orang udah pake e-money. Tinggal tap ke mesin, gak perlu orang buat ngurusin kembalian lagi.

Kalau robot bisa jadi pembantu rumah tangga, atau bahkan pengasuh anak, para TKI gak bisa lagi cari nafkah di luar negeri.

Tapi, apa iya efeknya selalu negatif terhadap ketenagakerjaan?

Sebenarnya, ada dua kemungkinan positif yang bisa terjadi seandainya robot bisa menggantikan pekerjaan manusia:

1. People are forced to improve their skills

Image credit: lintas.me

Kalau robot dan mesin bisa dipake ngerjain pekerjaan yang sifatnya remeh-temeh, otomatis, agar bisa tetep gak pengangguran, orang-orang “dipaksa” buat naik kelas.

Ini berarti pendidikan kita juga akan dipaksa untuk bisa bikin orang-orang lebih meningkatkan skill-nya. Bagus dong kalau semua orang gak menghabiskan hidupnya cuma untuk jaga tol atau jadi tukang parkir?

Baca juga: Q&A: Pepita Gunawan, Merombak Cara Pandang terhadap Teknologi Pendidikan

2. People will have more time pursuing their passion

Image credit: theguardian.com

Majunya industri dan perusahaan itu kan menuntut orang-orang untuk kerja long hours, supaya bisa memenuhi target secara maksimal. Coba kalau pekerjaan kecil-kecil yang ngabisin waktu bisa dilakuin robot, pekerja cuma perlu ngerjain hal-hal yang paling esensial. Terus, bisa pulang ke rumah lebih awal untuk ngerjain other meaningful works!

Robot itu gak ngambil pekerjaan kita, kok. Dalam jangka panjang, mereka justru akan bantu kita jadi lebih skillful, dan bikin kita punya better quality life.

Jadi, jangan takut sama inovasi. Embrace the future!

Baca juga: Kenapa Berburuk Sangka Pada Teknologi?

Header image credit: epictimes.com