Opinion

Esensi Kolaborasi: Single Fighter itu (Tidak Selalu) Baik

Kalau ingin menang, jangan berjuang sendirian.

Kalimat itu terngiang di kepala. Padahal hanya sekedar penghias dinding bata sebuah cafe. Tapi efeknya bikin kepikiran sepanjang hari. Ada sebuah bisu yang menguar, terungkap di sela-sela kata: egoisme yang ditentang.

Satu kesimpulan yang gue dapat adalah, menjadi single fighter itu (tidak selalu) baik.

Sama kayak startup. Mustahil kalo lo mau jadi single fighter. Buat bisa mengembangkan startup, lo harus punya tim. Bahkan lebih dari sekedar tim. Lo harus bisa kolaborasi dengan membangun a good team.

Pertanyaannya, gimana caranya membangun a good team?

Sebuah tim yang keren biasanya terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama, dengan job description yang berbeda. Mereka menselaraskan visi, menyatukan ide, dan mensinergikan skill.

Tapi, dengan memiliki sebuah tim yang keren, apa itu cukup untuk bisa jadi a good team?

Coba kita telaah lagi.

A – good – team.

Baca juga: Kolaborasi Berarti Berpihak, Bukan Cuma Bekerjasama

Good itu baik. Baik itu relatif. Relatif biasanya susah diukur. Jadi, kebaikan adalah sesuatu yang susah diukur. Apa iya? Jawabannya, tidak. Jika kebaikan ini ‘dipersempit’.

Tim yang baik, menurut gue adalah tim yang dapat bertahan. Bertahan sejak kapan? Dari awal berjuang dan kontinyu melakukan perubahan sesuai dengan visinya.

Ga masalah kok kalo ada salah satu anggota tim yang resign. Mungkin visi yang sudah tidak sejalan, kurang nyaman, atau banyak faktor lain. Ini udah ‘hukum alam’. Seiring berjalannya waktu, akan terlihat, mana anggota tim yang berjalan di jalur yang sama, dan mana yang ingin berjalan di jalur lain. Yang jelas, jangan memilih untuk jalan sendirian. Kalau tetap jalan bersama di satu jalur, semisal nyasar, toh seenggaknya nyasar bareng. Dan bisa cari jalan keluar bareng. Walaupun ada hambatan, toh bisa dicari solusinya bersama.

Membangun tim yang baik, atau membangun tim yang bisa bertahan dari awal sampai akhir, butuh yang namanya keterkaitan. Membutuhkan dari dua arah itu penting. Leaders butuh anggota tim, dan sebaliknya.

Baca juga: 3 Keuntungan Menghindari Kolaborasi

Butuh dari sekedar menggabungkan skill yang dimiliki. Ketika sebuah startup dibangun, kita butuh lebih dari sekedar anggota tim yang cocok dengan kualifikasi tertentu. Tidak cukup misalnya, A pinter design, B jago coding, C bisa promote, dan seterusnya. Visi yang sejalan, kepercayaan antar anggota tim, dan rasa inklusifitas yang tinggi, akan menjadi pendorong yang baik dalam mewujudkan a good team.

Lalu, apa indikasinya sebuah tim sudah bisa dikatakan bisa berkolaborasi dengan baik? Ketika hal produktif yang dilakukan bersama bisa mengarahkan kita untuk menaklukkan tantangan, melakukan perubahan, dan menghasilkan energi positif yang bermanfaat bagi banyak orang. Kemampuan, strategi, aspek teknis, semua itu bisa dipelajari. Ga ada formula khusus. Kalian tidak perlu harus menjadi seorang yang lovable dan disukai banyak orang, cerdas terpelajar, udah ikut conference ke berbagai tempat kece yang namanya susah disebutin, punya prestasi segudang, untuk bisa jadi anggota tim yang baik. Terkadang hal-hal yang membanggakan harus ditinggalkan saat kita sudah berkomitmen buat join dalam sebuah tim.

You don’t have to be anything other than yourself. Tetap jadi diri sendiri. Tapi jangan kebablasan. Berani berkolaborasi. Karena single fighter itu tidak selalu baik.

Baca juga: Kolaborasi itu Bukan Tentang Tools-nya, tapi Semangatnya!

Image header credit: blog.tradeshift.com